Daddy, Don’t Cry – Chapter 16


Daddy Don't Cry - by ikhakyu

Kyunnie mengerjapkan matanya perlahan. Aroma dingin yang terbawa hembusan angin yang menyelinap di sela jendela yang terbuka seketika terhirup pelan, membuat tubuhnya sedikit menggigil, dan hatinya sejenak terasa hampa, kecewa akan tiadanya kehangatan yang ia harapkan akan tetap merangkulnya.

Kyunnie seketika tersadar. Tubuhnya yang sejak tadi hanya berbaring, kini terbangun. Matanya beredar, mengamati setiap sudut ruangan, dan rasa takut seketika menyeruak memenuhi hatinya tatkala ia tak menemukan sosok yang semalam memeluknya erat.

Jantungnya berdebar kencang. Panik, cemas, dan takut. Semua perasaan itu begitu dasyat hingga membuat tubuhnya gemetar. Tidak mungkin. Ia tidak mungkin kehingalangan sosok itu lagi untuk kedua kalinya. Mustahil jika ia kembali mengalami kejadian sepuluh tahun lalu. Ataukah ini hanya mimpi? Jika memang benar begitu, maka ia memohon pada siapa pun juga untuk segera membangunkannya.

Kyunnie bergegas turun dari tempat tidur. Kakinya melangkah dengan tergesa, mencari sekilas bayangan dari sosok itu. Dadanya terasa sesak, membuatnya sulit bernafas. Hingga pada akhirnya ia menemukannya. Sosok itu tengah berdiri di sana tengah mempersiapkan sarapan dengan punggung yang menghadap dirinya.

Air mata seketika menetes dari sudut mata Kyunnie. Tanpa bisa dicegah, air mata itu mengalir begitu saja. Kemudian dengan perlahan, Kyunnie melangkahkan kakinya, menghampiri sosok yang masih tak menyadari keberadaannya, hingga pada akhirnya ia berdiri tepat di belakangnya. Dan tanpa mampu mengucapkan satu kata pun, tangan Kyunnie segera merayap memeluk sosok itu. Dengan sangat erat, ia mendekapnya, seakan tak mengizinkannya pergi barang sejenak pun.

“Kyunnie..”

Siwon berucap pelan. Mendapati Kyunnie yang tiba-tiba memeluknya dari belakang membuatnya terkejut, khawatir jika sesuatu telah terjadi pada sosok itu. Namun saat ia berniat melepaskan dekapan tangan Kyunnie dan membalikkan tubuhnya untuk memastikan kondisinya, ia segera mengurungkannya, melainkan tetap berdiri diam seperti itu, tak bergerak sama sekali, membiarkan Kyunnie semakin memeluknya erat.

Siwon bisa merasakan air mata Kyunnie yang jatuh menembus permukaan bajunya, menyentuh punggungnya. Sosok itu menangis. Masih dengan menyembunyikan wajahnya, ia menangis sesenggukan. Di sela isakan yang memilukan itu, terdengar suara pelan dari bibirnya yang bergetar.

“K-ku pikir..kau pergi meninggalkanku..”

Sebuah luka seketika menyayat hati Siwon. Mendengar kata-kata itu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Setakut itu kah sosok itu akan kehilangan dirinya? Sebegitu dalamnya kah luka di hatinya hingga rasa perihnya masih begitu lekat membekas? Sosok itu, ia pasti sudah sangat terluka hingga membuatnya trauma.

“Aku tidak akan pergi kemanapun..”

Siwon menyentuh kedua telapak tangan Kyunnie yang masih dengan sangat erat menggenggam bajunya. Lalu dengan sangat lembut ia melepaskan tangan itu, dan membalikkan tubuhnya, menatap lekat wajah indah yang kini telah basah oleh air mata.

“Aku di sini..”

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu..”

Siwon mengecup dahi Kyunnie, berharap jika kecupan itu bisa menghentikan tangisannya.

Meski ia paham betul jika tak mudah menyembukan luka itu, mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk menghapus semua memori kelam itu, tapi tak apa. Tak peduli seberapa sulit atau sebarapa lama waktu yang dibutukan, ia akan tetap berusaha, hingga sosok itu tak akan mengingat apapun lagi selain kenangan indah, tak akan merasakan apapun lagi selain rasa bahagia.

.

.

Sudah satu minggu berlalu sejak keduanya kembali bertemu. Tuhan telah sangat baiknya mempertemukan dua insan yang sempat terpisah oleh kejamnya sang takdir. Kini tak ada lagi air mata kepedihan akan rindu yang teramat sangat, tak ada lagi rintihan perih akan hasrat untuk bertemu. Luka yang telah menghitam itu perlahan mulai memudar. Setidaknya itulah yang keduanya harapkan.

Dan selama itu pula, Siwon tak pernah barang sejenak pun meninggalkan sosok Kyunnie. Bahkan ia meminta Hyukjae untuk mengantarkan semua berkas yang harus ia kerjakan dan menyelesaikannya di rumah. Mungkin terdengar sangat berlebihan, namun itulah kenyataannya. Penderitaan yang telah keduanya alami telah cukup mampu membuat keduanya tak ingin meninggalkan satu sama lain, seakan waktu satu detik pun sangatlah berharga.

Tapi hari ini tampaknya Siwon tak bisa berbuat banyak. Keadaan memaksanya untuk tak bisa mengelak, dan harus meninggalkan Kyunnie seorang diri.

Rapat mengenai proyek baru perusahaan akan diadakan hari ini, mengharuskan Siwon untuk datang, terlebih lagi sang Ayah juga akan menghadiri rapat. Dan Siwon tak punya pilihan lain.

“Maafkan aku.. tapi aku benar-benar harus pergi..”

Siwon memandang wajah Kyunnie lekat, menyesal karena ia harus meninggalkan sosok ini untuk sesaat. Meski Kyunnie mengangguk pelan, memahami keadaan yang memang mengharuskannya untuk pergi, tapi Siwon masih bisa melihat dengan jelas sebuah ketidakrelaan di dalam mata Kyunnie. Mata itu memandangnya seakan memohon agar tidak meninggalkannya.

“Aku berjanji tidak akan lama.. Aku akan segera pulang..”

Sebuah senyum simpul terukir di bibir tipis Siwon, mencoba untuk meyakinkan Kyunnie bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, meski Kyunnie masih tak mengatakan apapun, melainkan hanya diam.

Meskipun tak tega melihat apa yang tengah tersaji dihadapannya; sosok Kyunnie yang dengan wajah resahnya berusaha menahan suaranya untuk tak berucap satu kata pun, walau ia sangat ingin. Karena sosok itu paham betul bahwa apabila ia mengatakan ‘jangan pergi’, maka Siwon pasti tak akan pergi. Tapi sosok itu sangatlah mulia. Ia sangatlah baik hati. Untuk itu ia hanya diam saja seperti itu, menahan keinginannya, berusaha mengalahkan keresahannya sendiri.

Namun bagaimana pun juga, ia hanyalah manusia biasa.

“Daddy..”

Siwon yang mulai melangkah meninggalkan sosok Kyunnie seketika menghentikan langkahnya. Dan saat itu juga, ia menolehkan kepalanya, mendapati Kyunnie yang memandangnya dengan pandangan yang sangat menyedihkan. Lalu dengan lirih sosok itu berkata..

“Tak peduli apapun yang terjadi, kau tak akan meninggalkanku kan..?”

Mata indah itu berpendar sendu, memancarkan cahaya lembut yang mampu meluluhkan hati siapapun. Mata itu menatapnya dengan sangat lekat, menuntut sebuah jawaban yang mampu menenangkan hatinya.

Siwon pun tersenyum. Sungguh, ia begitu mencintai sosok ini.

Lalu dengan perlahan ia kembali menghampiri sosok Kyunnie, dan dengan lembut ia kecup bibir tipis itu. Begitu lembut, bahkan mengalahkan tiupan angin musim gugur yang membelai lembut. Dan ciuman itu cukup membuat hati yang gusar itu sedikit tenang.

.

.

Siwon dengan tergesa-gesa keluar dari ruang rapat. Ia tak ingin berlama-lama, karena ia sudah berjanji untuk segera pulang. Ia bahkan tak bisa menyimak dengan baik materi yang disampaikan selama rapat berlangsung, karena pikirannya hanya terpaku pada sosok yang saat ini pasti tengah menantinya dengan khawatir.

Namun tiba-tiba Hyukjae menghentikan langkahnya.

“Kau mau kemana? Ada seseorang yang ingin menemuimu.”

Siwon yang tak punya banyak waktu lagi pun hanya mengabaikannya.

“Aku tidak bisa. Suruh orang itu untuk datang lain kali.”

Tanpa berkata papun lagi, Siwon segera bergegas pergi. Namun lagi-lagi Hyukjae menahannya.

“Tapi ini sangat penting.”

Tampak jelas keseriusan di wajah Hyukjae, memaksa Siwon untuk mengikuti ucapannya. Namun Siwon yang harus kembali menunda waktunya merasa kesal dan hanya menjawab singkat.

“Tidak ada yang lebih penting dari Kyunnie.”

Namun, kalimat yang kemudian dilontarkan Hyukjae berhasil membuat Siwon benar-benar menghentikan langkahnya.

“Ini ada hubungannya dengan anak itu.”

Siwon tersentak, tak begitu paham akan maksud ucapan sahabatnya itu. Meski hal buruk mulai menguasai pikirannya, firasat tak baik mulai mengacaukan hatinya.

.

.

“Dia kabur dari rumah.”

Siwon hanya diam, memandang sosok wanita yang tak lagi tampak muda tengah berbicara padanya.

“Pernah suatu kali dia memintaku mengurus paspor untuknya dengan alasan ingin berlibur bersama teman-temannya. Dan aku mengatakan bahwa aku akan mengabulkan permintaannya jika ia telah menyelesaikan sekolahnya dengan nilai yang baik.”

Siwon masih diam, mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir sang wanita yang kini tengah duduk di hadapannya.

“Anak itu telah berusaha dengan sangat keras hingga ia bisa lulus dengan nilai terbaik. Namun saat ia telah benar-benar pergi, baru aku tahu bahwa ia tidak pergi berlibur bersama teman-temannya. Ia bahkan mematikan ponselnya, hingga kami sama sekali tak bisa mengubunginya atau melacak keberadaannya. Meski demikian aku tahu betul dimana ia saat ini.”

Wanita itu memandang tajam Siwon, sebelum akhirnya melontarkan sebuah kalimat yang mampu membuat Siwon seakan membeku.

“Aku tahu dia bersamamu..”

Siwon paham betul. Ia sangat sadar. Bahkan sejak Kyunnie pertama kali menginjakkan kaki di halaman rumahnya, ia sudah mengerti bahwa hal semacam ini akan terjadi, karena ia sendiri masih tak begitu percaya jika Tuhan bersikap terlalu baik padanya, tak yakin bila sang takdir hanya berdiam diri. Namun tetap saja, ini terlalu cepat.

“Aku dan suamiku, kami tidak memiliki keturunan. Dokter memvonis bahwa aku tidak bisa mengandung. Untuk itu, kami sangat menyayangi Kyunnie selayaknya anak kami sendiri. Layaknya sebuah berlian, dia begitu berharga bagi kami. Jadi saya mohon dengan sangat.. tolong sampaikan padanya bahwa kami menunggunya. Dan pastikan bahwa ia kembali pada kami.”

Wanita itu menatap lekat Siwon yang masih tak mengatakan apapun, memaksanya memenuhi permintaannya, meski tampak jelas sebuah keengganan menghiasi wajah Siwon.

.

.

Udara dingin berhembus pelan, membuat Siwon harus merapatkan blazernya. Semakin hari cuaca semakin terasa dingin, membuat hatinya pun seakan membeku. Namun saat mengetahui bahwa seseorang tengah menanti kepulangannya, rasa hangat seketika menyeruak, mencairkan kristal beku di hatinya.

Perlahan Siwon membuka pintu, dan seketika itu sebuah senyum tipis terpatri di bibirnya kala mendapati sosok itu tengah meringkuk di atas sofa. Tubuh kurusnya tampak sangat rapuh seakan bisa hancur kapan pun juga.

Dengan langkah pelan Siwon menghampiri sosok itu yang tengah terlelap, tak ingin jika suara langkah kakinya akan membangunkannya. Sepertinya Kyunnie kelelahan menanti dirinya pulang hingga ia tertidur. Dan seketika rasa bersalah menjalar di hati Siwon, menyesal karena ia tak bisa menepati janjinya untuk segera pulang.

Siwon mendudukkan dirinya di tepi sofa. Matanya menatap lekat wajah Kyunnie. Wajah itu indah sekali, bahkan mengalahkan keindahan seribu kelopak bunga yang merekah di musim semi. Namun Siwon tiba-tiba teringat akan sosok wanita yang baru saja ditemuinya. Semua kenyataan yang telah dilontarkan oleh wanita itu benar-benar tak masuk akal. Kyunnie sebegitu inginnya untuk bertemu dengannya hingga ia berusaha keras untuk segera menyelesaikan pendidikannya dan lulus dengan nilai terbaik, bahkan rela meninggalkan kehidupannya, keluarganya, semuanya, hanya untuk kembali padanya. Itu sama sekali tak masuk akal. Bagaimana pun Siwon memikirkannya, tetap saja akal sehatnya tak bisa menerimanya. Meski sebenarnya hatinya lah yang tak bisa menerima. Mengetahui Kyunnie mengorbankan semua yang berharga baginya hanya untuk dirinya, sementara ia hanya menjadi tak berdaya, membuat hatinya sakit.

“Daddy?”

Kyunnie tiba-tiba terbangun. Ia mengusap kedua matanya, mencoba memperjelas pandangannya. Dan ketika matanya telah mampu melihat dengan sempurna sosok Siwon di hadapannya, dengan spontan Kyunnie merangkul tubuh itu. Lengannya dengan erat melingkar di leher Siwon.

“Kenapa lama sekali? Aku sangat takut jika Daddy tidak akan pulang..”

Kyunnie berbisik, mengubur wajahnya pada bahu Siwon.

“Maaf..”

Siwon mengusap punggung Kyunnie dengan lembut. Namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Kyunnie.

“Kyunnie.. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu..”

Kyunnie menatap Siwon heran, tak begitu paham dengan apa yang akan Siwon tunjukkan padanya. Siwon pun segera menarik pelan tangan Kyunnie, membawanya ke ruang kerjanya. Dan ketika mereka telah tiba tepat di depan meja kerja, Siwon mengambil sesuatu dan menyodorkannya pada Kyunnie.

“Apa kau masih mengingatnya?”

Kyunnie diam sejenak, lalu dengan ragu ia menggenggam benda tersebut; sebuah boneka beruang berwarna cokelat muda.

“Ini Pom Pom.. Dulu kau selalu membawanya bersamamu. Tapi sepuluh tahun yang lalu, kau meninggalkannya di sini..”

Kyunnie masih tak mengatakan apapun. Matanya lekat memandangi boneka beruang yang sudah tampak usang. Wajar saja, itu sudah lama sekali. Warnanya pun sudah mulai memudar. Tapi yang membuat Kyunnie tak habis pikir jika Siwon masih menyimpannya. Benda lusuh seperti ini, bagaimana Siwon bisa tetap menyimpannya bahkan hingga sekarang?

Meski sulit bagi Kyunnie untuk mengingat kenangan itu, tapi ia bisa merasakan perasaan rindu. Sepertinya benda itu sangatlah berharga.

“Aromanya seperti Daddy..”

Kyunnie mencium bulu-bulunya yang terasa sangat lembut.

“Selama ini kau pasti selalu bersama Daddy, kan? Tsk..kau benar-benar membuatku iri..”

Siwon hanya memandangi Kyunnie yang sambil mengerucutkan bibirnya berbicara pada boneka teddy bearnya. Rasa perih kembali mengusik hatinya. Namun mendengar kata-kata yang kemudian terucap dari bibir Kyunnie membuatnya seakan ingin menangis.

“Tapi terima kasih sudah menjaga Daddy untukku..”

Sungguh, Siwon begitu mencintai sosok itu. Betapa ia mencintainya hingga dirinya sendiri bahkan tak mampu menahannya. Air mata ini seakan bisa jatuh begitu saja. Hati ini seakan hendak hancur. Tak ada, siapa atau apapun juga, yang bisa mengalahkan besarnya perasaan sayang ini. Ia terlalu mencintainya hingga ia mungkin bisa mati.

Tak apa..’

Tak peduli apapun, aku akan melindungimu..’

Aku tak akan membiarkan siapapun membawamu pergi dariku..’

.

.

“Apa maksudnya ini?”

Ucap seorang wanita yang tak lain adalah bibi Kyunnie saat menatap sebuah cek kosong di atas meja.

“Isi berapapun yang Anda inginkan.”

Suara Siwon terdengar dingin dan tak bersahabat. Keseriusan pun terlihat jelas dari sorot matanya.

“A-apa?!”

Wanita itu terkejut, seakan tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

“Saya berjanji akan menjamin kehidupan dan kesejahteraan Anda. Untuk itu saya mohon dengan sangat.. segera tinggalkan negara ini.”

Tanpa sedikitpun keraguan, Siwon berkata dengan tegas. Layaknya orang yang tidak memiliki hati nurani, saat ini Siwon tengah berlaku kejam.

“K-kau-..! Beraninya kau memperlakukanku seperti ini?!”

Amarah wanita tersebut membuncah seketika tatkala mengetahui apa maksud tujuan Siwon sebenarnya datang menemuinya.

“Maafkan aku.. tapi aku tidak bisa membiarkanmu membawanya pergi.”

Seperti itulah. Berlaku kejam, egois, tanpa belas kasihan. Siwon melakukan semua itu hanya demi sosok itu seorang.

“Apa-apaan ini?! K-kau sama sekali tak berhak melarangku membawanya! Kau sama sekali tak memiliki hubungan apapun! Kau bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya! Kau hanyalah orang asing yang tak berhak berada di sisinya!”

Secercah luka seketika tergores di dalam hati Siwon mendengar kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh wanita itu. Tak berhak? Lalu sejak kapan manusia memiliki hak untuk menghakimi hak manusia lainnya? Siwon sudah sangat muak dengan orang-orang seperti ini.

“A-aku.. bisa menuntutmu ke pengadilan! Apalagi saat ini Kyunnie masih berada di bawah umur! Dan aku memiliki hak asuh yang sah secara hukum! Aku bisa memasukkanmu ke dalam penjara!”

Tampak jelas sang wanita tidak menerima apa yang telah Siwon perbuat padanya. Memaksanya untuk membiarkan sosok yang telah ia sayangi selayaknya anak kandung sendiri untuk tinggal bersama orang asing yang bahkan tak memiliki hubungan kerabat apapun adalah hal gila yang tak bisa diterima akal sehatnya.

Namun Siwon yang mendengar ancaman sang wanita yang ditujukan padanya, hanya tersenyum meremehkan.

Tsk! Tampaknya Anda masih tak begitu mengenal seorang Choi Siwon. Uang, kekuasaan, saya memiliki segalanya. Saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan, termasuk membeli hukum.”

Wanita itu seketika melebarkan matanya. Ia benar-benar tak percaya jika sosok yang ada hidapannya saat ini adalah sosok lelaki yang ia temui sepuluh tahun yang lalu.

“K-Kau-..! Dasar manusia kejam! Kyunnie tidak pantas tinggal bersama orang sepertimu!”

Kejam? Mungkin itu memang benar. Tapi tak ada cara lain yang lebih baik yang bisa ia lakukan daripada berlaku seperti itu. Karena jika tidak, ia tak akan mampu mempertahankan sosok itu. Jika tak berlaku kejam seperti ini, maka kejadian sepuluh tahun yang lalu akan terulang kembali. Bila ia tak egois, maka ia akan kehilangan sosok itu untuk kedua kalinya. Untuk itu biarlah. Biarkan kali ini saja ia menjadi tokoh jahat. Selama ia masih bisa bersama sosok itu, maka itu tak masalah.

Siwon bangkit dari duduknya. Matanya masih menatap tajam sosok wanita yang masih tak bisa meredam amarahnya. Dengan suara dingin yang tak berperasaan, Siwon kembali berucap.

“Tidak peduli apapun, tinggalkan negara ini malam ini juga, atau.. saya tidak bisa menjamin bahwa mungkin saja saya akan melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa Anda bayangkan.”

Kata-kata kejam itu begitu saja terucap dari bibir Siwon. Namun satu hal yang mungkin tak diketahui siapapun bahwa saat ini tubuh Siwon tengah bergetar hebat, hingga ia harus mengepalkan tangannya erat. Ia takut. Rasa takut itu memenuhi dirinya, membuat dadanya terasa sesak. Tak pernah seumur hidupnya ia berlaku seperti ini. Memperlakukan orang lain tanpa belas kasihan. Benar-benar tak ber-prikemanusiaan.

Namun ketakutan yang bahkan lebih mengerikan lagi yang ia rasakan adalah bahwa mungkin saja ia akan kehilangan sosok itu.

Siwon mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan sosok wanita yang masih menatapnya dengan pandangan tak percaya.

Tapi kata-kata yang kemudian terlontar dari bibirnya berhasil membuat Siwon menghentikan langkahnya sesaat.

“M-mengapa kau lakukan semua ini?!”

Siwon seketika terdiam.

“Mengapa kau begitu ingin mempertahankannya?!”

“Apa yang sebenarnya kau inginkan darinya?!”

Ia masih diam. Tak mengatakan apapun.

Hingga pada akhirnya, ia berkata dengan pedih.

“Manusia seperti kalian tak akan pernah mengerti.”

.

.

Siwon berjalan keluar hotel menuju parkiran. Di sana sahabatnya telah berdiri menantinya. Namun tiba-tiba kepala Siwon terasa sangat sakit, tubuhnya pun seketika kehilangan keseimbangan. Untung saja Hyukjae segera menghampirinya dan menangkap tubuhnya.

“Kau tidak apa-apa?”

Hyukjae menatap khawatir Siwon yang kini tampak pucat.

“Y-ya.. Aku baik-baik saja..”

Siwon mencoba menstabilkan kembali keseimbangannya, meski kepalanya masih terasa sangat sakit, tubuhnya pun masih tak berhenti bergetar. Ia ingat bahwa semalaman ia tak memejamkan matanya barang sejenak pun. Hatinya gelisah memikirkan cara terbaik yang bisa ia lakukan untuk menyelesaikan semua masalah ini hingga membuatnya tak bisa tidur.

Tapi itu tidaklah penting. Karena saat ini Kyunnie adalah yang terpenting baginya. Meski ia telah menggertak, memberi ancaman, tapi Siwon masih tak cukup yakin jika semua akan berjalan seperti apa yang ia harapkan. Karena Tuhan tak mungkin sebaik itu padanya, dan takdir tak akan mungkin hanya diam membisu.

“Perketat pengamanan di rumah. Tambah jumlah penjaga. Jangan biarkan siapapun menemui Kyunnie sampai benar-benar dipastikan bahwa wanita itu kembali ke Hongkong.”

Hyukjae segera mengangguk mendengar perintah atasannya.

“Dan satu hal lagi. Ku mohon rahasiakan semua ini dari Kyunnie.”

Siwon memandang lekat Hyukjae di hadapannya. Terlihat jelas sebuah ketakutan di matanya. Hyukjae yang melihat itu pun segera meyakinkan Siwon bahwa tak ada yang perlu ditakutkan.

“Tenang saja. Aku menjamin anak itu tak akan mengetahui apapun.”

Mendengarnya ketegangan di wajah Siwon pun mulai melonggar. Hatinya juga sedikit tenang.

“Tapi Siwon.. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Jika tidak, anak itu akan khawatir.”

Senyum getir seketika terukir di bibir Siwon yang juga tampak pucat. Benar apa yang telah dikatakan oleh sahabatnya. Bagaimana pun juga ia tak bisa membuat sosok itu khawatir.

.

.

Malam temaram. Bulan bersinar sendu. Cahanya lembutnya menghiasi langit kelam yang bahkan tak berbintang.

Di sana, di atas sebuah kursi di ruang kerjanya, sosok lelaki tengah duduk termenung, memandangi bayangan sang bulan yang terpantul pada kaca jendela. Matanya memandang lekat, terhipnotis akan keindahannya, seolah jiwanya terhisap oleh cahaya sang bulan yang berpendar anggun.

Namun hatinya masih gelisah. Hati yang telah penuh dengan luka itu masih tak tenang. Mendapati kabar bahwa hingga saat ini wanita itu masih belum juga meninggalkan negeri ini, benar-benar membuatnya cemas. Apa gertakannya masih tak cukup membuatnya menyerah? Apa yang sebenarnya wanita itu rencanakan? Apakah ia benar-benar akan melaporkan dirinya ke polisi? Jika begitu, maka tak akan masalah, karena bagaimana pun juga ia yang akan menjadi pemenang.

Tapi benarkah ini jalan terbaik yang bisa ia lakukan? Bagaimana jika Kyunnie mengetahui hal ini? Apa reaksinya jika mengetahui bahwa ia telah bersikap kejam pada keluarganya?

Beribu pikiran buruk masih tak berhenti memenuhi kepalanya, membuat pikirannya kacau tak menentu.

Namun tiba-tiba suara ketukan pintu seketika membuyarkan lamunannya.

“Daddy? Apakah kau di sana?”

Siwon membalikkan kursinya yang menghadap jendela ke arah pintu dan sedikit terkejut saat mendapati sosok Kyunnie telah menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Ia pun tersenyum melihat tingkah Kyunnie yang tampak sangat menggemaskan. Itu benar-benar sudah menjadi kebiasaan Kyunnie, bahkan sejak sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang kebiasaan itu tetap tak berubah.

“Masuklah..”

Kyunnie yang mendengar Siwon menyuruhnya masuk pun segera berjalan menghampiri Siwon yang masih duduk di atas kursinya.

“Ada apa? Apa kau bermimpi buruk?”

Siwon menatap Kyunnie dengan lembut, bertanya dengan khawatir jika mimpi buruk telah mengusik tidurnya. Seperti itulah pertanyaan yang dulu selalu dilontarkan oleh Siwon setiap kali Kyunnie kecil menyelinap masuk ke kamarnya. Tapi kali ini Kyunnie menggelengkan kepalanya, membantah jika alasannya datang kemari adalah karena ia telah bermimpi buruk. Ada alasan lain, dan ia tak perlu mengucapkannya, karena Siwon sendiri pun sudah sangat paham mengenai alasan itu.

“Kemarilah..”

Siwon menepuk pelan pahanya sendiri, mengisyaratkan Kyunnie yang masih berdiri diam untuk mendekat dan duduk di atas pangkuannya. Kyunnie pun dengan sangat patuhnya segera mengikuti perintah Siwon.

Saat Kyunnie telah duduk di atas pangkuannya, Siwon melingkarkan tangannya di pinggang Kyunnie, menarik tubuh itu semakin dekat. Begitu dekat hingga mereka bisa mendengar detak jantung satu sama lain. Dagu Siwon dengan lembut bersandar di bahu Kyunnie, sambil menciumi aroma pada helai rambut Kyunnie yang terasa begitu manis seperti aroma madu pada bunga yang bermekaran.

“Maaf sudah meninggalkanmu saat kau tidur..”

Siwon berbisik pelan di telinga Kyunnie. Tangannya masih dengan erat memeluk tubuhnya.

“Apa yang Daddy lakukan di sini? Apakah masih ada pekerjaan yang harus Daddy selesaikan?”

Siwon terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Kyunnie, sebelum akhirnya menjawab dengan lembut.

“Tidak.. Daddy hanya ingin melihat bulan..”

Kyunnie langsung mengalihkan pandangannya pada bulan yang bercahaya di langit malam.

“Indah.. Bulannya sangat indah..”

Mata Kyunnie seketika berbinar menyaksikan anggunnya sang bulan. Senyum tipis pun terukir di bibirnya. Namun kata-kata yang kemudian ia dengar terucap dari sosok yang kini memeluknya erat, membuat senyum itu lenyap seketika.

“Benar.. Bulan itu sangat indah.. Tapi meski demikian, ia begitu jauh.. Tak peduli betapa kerasnya kita berusaha, tetap saja kita tak akan pernah mampu menggapainya..”

Kyunnie seketika terdiam, mencoba memahami maksud ucapan Siwon. Meski ia tak begitu paham, tapi entah mengapa kata-kata itu membuat hatinya berdenyut perih.

“Daddy.. Apa ada sesuatu yang membuat Daddy resah?”

Terdengar jelas nada kekhawatiran dari suara Kyunnie. Tapi Siwon tak mengatakan apapun. Ia hanya diam saja, tak bersuara.

“Bukankah Daddy pernah mengatakan bahwa kita akan bersedih dan menangis bersama? Untuk itu, jika ada sesuatu yang membuatmu resah, katakan saja.. Aku ada di sini untuk mendengarkan.”

Kyunnie, ia mungkin tak mengerti apa-apa. Ia sama sekali tak paham akan apa yang telah terjadi. tapi setidaknya ia ingin melakukan sesuatu untuk sosok itu. Ia ingin menjadi berguna untuknya. Meski hanya meminjamkan pundaknya atau memberikan sebuah pelukan hangat, itu sudah cukup. Karena hatinya akan terluka jika hanya menjadi tak berdaya.

Sementara itu Siwon yang sejak tadi hanya diam mendengarkan ucapan Kyunnie, masih tak mengatakan apapun. Lidahnya seakan kelu. Kata-kata seolah enggan terucap dari bibirnya. Ia sama sekali tak bisa berbuat apapun.

Yang hanya bisa ia lakukan adalah memeluk tubuh Kyunnie semakin erat, menciumnya dengan sangat lembut.

Air mata ini bahkan hendak jatuh.

Ia hampir saja menangis.

.

.

TBC


Note :

Hai semuanya ^^

Akhirnya sy bisa update lagi ff ini. Maaf udh bikin kalian nunggu lama banget..

Tadinya sy pikir gak bakal ngelanjutin ff ini lagi. Tapi ada banyak pembaca yg suka dan nungguin banget ff ini. Jadi sy coba buat nulis lagi dan kasih yang terbaik utk pembaca semuanya..

Makasih banyak buat dukungan kalian semua selama ini. Makasih udah nunggu dgn sabar 🙂

Tanpa kalian semua mungkin ff ini bakal tetep terabaikan. Sekali lagi, makasih udah setia menanti..

Dan sy juga mau ngucapin makasih banyak untuk sahabat terbaik saya, Dhila, yg selalu kasih sy semangat ^^

FF ini sy persembahkan buat temen2 semua yg sdh mempercayai sy dan dgn sangat baik hatinya menanti.

Makasih dears.. I love you all 😀

I’m Not That Cinderella – Chapter 11


few

‘Apa yang akan Kyu lakukan pada kami?’

Semua pikiran buruk seketika mengusik pikiran Donghae. Bahkan kemungkinan yang paling mengerikan sekalipun sempat singgah dalam benaknya, membuat hatinya berdesir perih. Tapi ia segera menggelengkan kepalanya, berusaha keras menepis segala pikiran buruk itu.

“Tidak, Ibu.. Kyu bukanlah orang yang seperti itu. Dia tak akan mungkin melakukan hal yang buruk pada kita.”

Nyonya Cho benar-benar sudah tidak tahan lagi melihat sikap Donghae yang selalu membela Kyuhyun. Rasa kesalnya sudah di puncak, tapi ia masih mencoba untuk tenang. Sambil mengepalkan tangannya erat, Nyonya Cho berkata dengan tegas.

“Kita lihat saja nanti.. Dan kuharap kau tak akan menyesal.”

Suara langkah kaki Nyonya Cho terdengar berjalan menjauh, meninggalkan sosok Donghae yang hanya bisa terdiam meresapi perkataan yang baru saja dilontarkan oleh ibu kandungnya sendiri. Desahan nafas berat pun terhembus dari bibirnya. Mengapa begitu banyak masalah yang terjadi? Belum selesai satu masalah, namun masalah lain telah datang menghadang. Sungguh, ia benar-benar tak sanggup menghadapi semua ini seorang diri.

Donghae menyeret tubuhnya yang tak lagi bertenaga masuk ke dalam kamarnya, lalu menghempaskan dirinya sendiri ke atas tempat tidur. Sambil memejamkan mata, ingatannya kembali memutar semua kejadian yang telah terjadi, mulai dari saat ayahnya memperkenalkan calon suami Kyuhyun yang merupakan kekasihnya sendiri, menyaksikan Kyuhyun dan Siwon bertukar cincin dan berciuman di altar pernikahan, melihat punggung Siwon yang pergi meninggalkannya untuk menemui Kyuhyun, hingga saat Siwon mengirim sebuah pesan yang mengatakan bahwa ia tak bisa menemuinya.

Air mata perlahan jatuh dari kedua sudut mata Donghae yang tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Ia pikir pun sudah cukup menangis semalaman, hingga matanya terasa sangat sakit. Tapi tetap saja air matanya masih tak berhenti mengalir.

Donghae cepat-cepat menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menghapus semua titik air mata yang telah membasahi pipinya. Sudah cukup, ia tak mau menangis lagi. Ia tak mau berlarut dalam kesedihan, karena masih ada begitu banyak hal yang harus ia lakukan.

Tiba-tiba Donghae teringat bahwa pagelaran busananya akan segera diselenggarakan. Hanya tersisa beberapa hari lagi untuk mempersiapkan semuanya. Ia harus kembali fokus pada pekerjaannya, karena jika tidak maka impianya menjadi seorang model dan desainer kelas dunia tidak akan tercapai. Ia tak ingin jika apa yang telah menjadi ambisinya selama ini gagal hanya karena semua masalah itu. Ia tak bisa membiarkan semua kerja kerasnya selama ini sia-sia.

Untuk itu, apapun yang telah terjadi, biarkan ia mengabaikan semua hal itu sejenak.

.

.

Kyuhyun duduk termenung, meski kini pelajaran tengah sedang berlangsung. Matanya hanya menatap kosong papan tulis yang telah penuh berisi rumus-rumus yang tampak sangat memusingkan, bahkan ia sama sekali tak mendengar apa yang tengah diterangkan oleh gurunya yang tidak lain adalah Jung Yunho.

Meski raganya berada di dalam kelas, tapi jiwanya seakan tak ada di sana. Jiwanya telah pergi bersama pikirannya, melayang jauh pada sebuah memori yang terus melekat di kepalanya. Memori itu begitu lancangnya terus hinggap di pikirannya, tak kunjung lenyap, membuat hati Kyuhyun dilanda sebuah dilema.

Seketika wajah Kyuhyun memerah, merasa malu pada apa yang telah diperbuatnya bersama Siwon semalam.

‘Oh Tuhan.. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu?’

Kyuhyun mengacak rambutnya, frustasi atas kelakukannya sendiri.

Yunho yang melihat sikap aneh Kyuhyun dari depan kelas merasa khawatir. Ia pun berhenti berbicara sejenak, dan bertanya pada Kyuhyun. Tapi sepertinya Kyuhyun tak bisa mendengar suara Yunho dan hanya mengabaikannya, karena ia masih terlalu asyik tenggelam dalam pikirannya sendiri. Yunho yang semakin khawatir akhirnya berjalan mendekati tempat duduk Kyuhyun dan menyentuh bahunya.

“Cho Kyuhyun.. Apa kau baik-baik saja?”

Kyuhyun seketika tersentak dan tersadar dari lamunannya. Ia pun sangat terkejut saat mendapati sosok Yunho telah berdiri tepat di hadapannya. Namun belum sempat ia menjawab, Yunho langsung berkata dengan panik.

“Hey..! W-wajahmu merah! Apa kau demam?!! Shim Changmin.. segera bawa Kyuhyun ke ruang kesehatan!”

Kyuhyun terkejut, ia tak mengerti mengapa Yunho mengira dirinya sakit sementara ia baik-baik saja. Sepertinya Yunho telah salah paham. Tapi Kyuhyun tak punya waktu untuk menjelaskan karena Changmin telah menggegam lengannya dan menariknya ke luar kelas.

.

.

“Apaaa?!!! Jadi kau tidak sakit??!!!!”

Teriakkan kencang yang keluar dari mulut Changmin saat mendapati bahwa sahabatnya baik-baik saja membuat Kyuhyun harus menutup kedua telinganya.

“Kenapa kau tidak mengakatannya sejak tadi? Aku kan jadi tidak harus menyeretmu kemari!”

Changmin mendengus sebal, dan semakin sebal saat mendapati jawaban Kyuhyun.

“Aku tidak menyuruhmu melakukannya.”

Emosi Changmin sudah di ubun-ubun, tapi Changmin tetap tak bisa marah pada sosok Kyuhyun yang hanya mengerucutkan bibirnya. Ia pun hanya bisa menghela nafas.

 “Kau tahu.. kau sudah membuatku khawatir..”

Changmin mengacak pelan rambut Kyuhyun yang membuat Kyuhyun semakin mengerucutkan bibirnya.

“Tapi.. tadi wajahmu benar-benar merah.. Aku juga berpikir kalau kau demam..”

Kyuhyun heran mendengar perkataan Changmin. Mengapa Yunho dan sahabatnya itu berpikir seperti itu? Apa benar tadi wajahnya merah? Tapi kenapa?

“Heyyy.. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Kyu..?? Jangan-jangan.. tadi kau tengah memikirkan sesuatu yang bukan-bukan yaa..???”

Kyuhyun seketika melebarkan matanya mendapati Changmin yang menggodanya.

“T-tidak! B-bukan seperti itu!!”

Dengan cepat Kyuhyun mengelak. Sementara Changmin hanya bisa tertawa geli melihat tingkah Kyuhyun yang terlihat sangat gugup, membuat Changmin semakin ingin menggodanya.

“Lihat..! Wajahmu memerah lagi kan..??! Apa yang sebenarnya telah terjadi semalam, huh? Apa kau melakukan ‘itu’ dengannya???”

Kyuhyun tersentak. Bagaimana bisa Changmin mengetahui hal itu? Tapi Kyuhyun tetap berusaha mengelak.

“T-tidak terjadi a-pa-apa!! Itu..t-tidak benar!!!”

Kepanikan yang tampak jelas tengah melanda Kyuhyun, tak juga membuat Changmin berhenti menggodanya.

“Apa kali ini dia melakukannya dengan lembut, hmm???”

Kyuhyun seketika membeku. Tak ada kata yang mampu terucap dari bibirnya. Pertanyaan Changmin sangat tepat sasaran, begitu sesuai dengan apa yang Kyuhyun pikirkan. Kyuhyun tak lagi bisa menahan rasa malu, hingga akhirnya ia memeluk erat sebuah bantal yang tergeletak di atas kasur dan dengan sangat imutnya menyembunyikan wajahnya di sana.

Suara tawa pun seketika meledak. Changmin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kyuhyun yang begitu lugunya. Bagaimana mungkin sahabatnya ini begitu imut? Changmin benar-benar tidak bisa menghentikan tawanya, hingga ia harus memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.

“Kau benar.. Dia melakukannya dengan sangat lembut..”

Seketika Changmin terdiam. Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar, seakan tak percaya bahwa itu adalah suara Kyuhyun.

“A-apa?!!”

Kyuhyun perlahan menarik bantal yang menutupi wajahnya. Masih dengan memeluk bantal tersebut, Kyuhyun berkata dengan pelan.

“D-dia..melakukannya dengan sangat lembut.. hingga aku tak bisa menolaknya. A-Aku.. membiarkannya menyentuhku seperti itu.. A-aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa seperti itu. P-padahal seharusnya aku mendorong tubuhnya menjauh, tapi aku malah memeluknya erat, tak melepaskannya sedikitpun.”

Changmin terperanga. Ia benar-benar tak menyangka jika Kyuhyun akan berbicara seperti itu. Ini benar-benar seperti sebuah mimpi. Tapi Changmin mendengarnya dengan jelas, suara Kyuhyun yang bergetar. Tangannya yang mengepal erat bantal yang ada di pelukannya- menahan kegugupan yang tengah menderanya- Changmin bisa melihatnya. Dan meski Kyuhyun terus menundukkan kepalanya seperti itu, ia masih bisa melihat semburat merah yang telah memenuhi kedua pipi Kyuhyun sampai ke telinganya. Ia bisa melihat semua itu dengan sangat jelas.

“A-aku..terus memikirkannya.. Meski sekuat apapun aku berusaha melenyapkan pikiran itu, tetap saja gagal. Semua kata-kata yang ia ucapkan, sentuhannya, aku masih mengingat semua itu dengan jelas. Dan setiap kali aku memikirkannya, jantungku berdebar sangat kencang. Rasanya jantungku bisa meledak seketika. A-aku..benar-benar sudah gila, kan..?”

Kyuhyun akhirnya mengangkat wajahnya. Kini kedua mata sendunya- yang memancarkan sebuah rasa tak berdaya- menatap Changmin yang masih tak bisa berkata apapun. Sulit baginya mencerna apa yang telah Kyuhyun katakan, karena ia masih tak percaya bahwa sahabatnya itu- yang selalu bersikap dingin dan tak mempedulikan hal lain apapun selain game starcraft-nya- bisa berkata seperti itu. Namun satu hal yang Changmin tahu pasti……

“Oh Tuhan.. Kyu.. Kau telah jatuh cinta..”

.

.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya, kesal dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Changmin yang telah kembali ke kelas. Bagaimana bisa Changmin berkata seperti itu? Hal itu sangatlah mustahil.

“Kyu.. Apa kau sudah merasa lebih baik?”

Kyuhyun terkejut. Ia sama sekali tak menyadari kedatangan Yunho hingga sosoknya telah berdiri tepat di hadapannya.

Yunho memandang Kyuhyun dengan penuh rasa khawatir. Tangannya menyentuh dahi Kyuhyun.

“Sepertinya demamnya sudah turun..”

Yunho tersenyum lega. Rasa khawatirnya pun hilang seketika.

“Yunho hyung.. Bukankah ini belum waktunya kelas berakhir? Hyung harus segera kembali ke kelas.. Jika petugas kedisiplinan melihatmu, kau bisa mendapat teguran..”

Kini Kyuhyun yang mulai mengkhawatirkan Yunho. Ia paham betul peraturan di sekolah ini, bahwa guru tidak boleh meninggalkan kelas selama pelajaran berlangsung kecuali jika ada urusan yang menyangkut kepentingan sekolah.

“Jika petugas kedisiplinan melihatku? Jadi.. jika tak terlihat, tak akan masalah kan..?”

Yunho tersenyum lebar, seakan sama sekali tak menghiraukan kekhawatiran Kyuhyun, membuat Kyuhyun kesal. Yunho pun hanya bisa tertawa melihat Kyuhyun yang mengerucutkan bibirnya dengan sangat imutnya.

“Cho Kyuhyun……”

Lagi.. Untuk kesekian kalinya Yunho akan melakukan ini; memanggil nama lengkap Kyuhyun dengan nada yang sangat lembut. Dan jika sudah begitu Kyuhyun tidak akan bisa berbuat apapun lagi.

Orang ini, Kyuhyun tak akan pernah menang darinya.

“Ini.. makanlah..”

Yunho menyerahkan sebuah kantong kertas ke hadapan Kyuhyun. Dengan sedikit ragu Kyuhyun mengambil kantong tersebut dan melihat isinya yang ternyata adalah beberapa potong roti. Kyuhyun sangat terkejut karena roti itu adalah roti yang biasa Kyuhyun beli dari kantin sekolah saat waktu istirahat. Bagaimana Yunho bisa mengetahui hal sedetail itu? Terlebih lagi roti tersebut berisi krim vanila kesukaannya.

Kyuhyun menatap Yunho lekat, mencoba untuk memahami sosoknya. Tapi Kyuhyun tetap tak mengerti mengapa Yunho melakukan semua ini.

Kyuhyun bisa membayangkan bagaimana Yunho begitu mengkhawatirkan dirinya saat mengira bahwa ia terserang demam. Dan bagaimana Yunho dengan tergesa-gesa menyelesaikan pelajarannya agar ia bisa izin keluar kelas, lalu dengan sangat hati-hatinya menyelinap pergi ke ruang kesehatan untuk melihat kondisi Kyuhyun, memastikan bahwa Kyuhyun baik-baik saja, bahkan ia sempat pergi ke kantin hanya untuk membeli tiga potong roti untuknya.

Apa ia bodoh? Ya.. orang ini benar-benar bodoh hingga tak menyadari apa yang telah ia lakukan.

Tapi ia yang bodoh ini, Kyuhyun begitu menyayanginya. Ia sangat menyayanginya hingga ia ingin menangis. Air mata ini rasanya akan segera jatuh setiap kali Kyuhyun melihat sikap bodohnya ini. Yunho, orang bodoh ini, ia sangatlah tulus.

Kemudian Kyuhyun teringat akan perkataan Changmin. Jika ia memang jatuh cinta, seharusnya ia jatuh cinta pada orang seperti Yunho. Ia seharusnya telah jatuh cinta pada sosok ini bahkan sejak lama. Tapi kenyataannya tidak demikian. Rasa sayang ini bukanlah rasa sayang yang seperti itu. Rasa sayang ini adalah sebuah ungkapan terima kasih atas segala kebaikan yang tak ternilai harganya. Kyuhyun sangat menyadari hal itu. Dan ia sangat membencinya. Ia sangat membenci kenyataan bahwa ia tak menyayangi sosok Yunho dengan cara seperti itu.

“Kyu.. ada apa?”

Kyuhyun seketika terbangun dari lamunannya, dan ia sangat terkejut saat mendapati tatapan mata Yunho padanya. Lagi-lagi ada perasaan khawatir dan kesedihan di bola mata itu, membuat hati Kyuhyun berdenyut perih.

“Tidak ada..”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, mencoba meyakinkan Yunho bahwa ia baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Tanpa berkata apapun, Kyuhyun segera menyantap roti yang Yunho berikan padanya. Ia memakan semua roti itu dengan lahapnya, sambil sesekali mengucapkan kata ‘enak’.

Yunho yang melihat semua itu pun tersenyum senang, bahkan ia tertawa saat mendapati bibir Kyuhyun penuh dengan krim vanila. Kyuhyun sendiri turut senang melihat Yunho yang tampak bahagia. Sungguh ia selalu ingin membuat sosoknya tertawa seperti ini. Ia tak mau lagi melihat kilatan luka di mata Yunho. Ia tak ingin melukai sosok ini lagi.

.

.

Siwon yang tampak sangat tampan mengenakan setelan berwana abu-abu klasik tengah duduk di sofa ruang tamu. Senyum manis tak henti-hentinya terukir di bibir tipisnya, menampakkan kedua lesung pipinya, membuat wajah tampannya semakin tampak sempurna. Apa yang tengah ia lakukan? Ia menunggu. Dengan sangat tidak sabaran ia menanti seseorang. Namun tak berapa lama kemudian, sosok yang ia nantikan pun akhirnya muncul.

Dan seketika itu juga Siwon terperanga, tak bisa berkata apa-apa, bahkan jantungnya berdebar kencang. Kyuhyun terlihat begitu menawan dengan balutan setelan berwarna biru langit, membuat mata Siwon tak berkedip sedetik pun. Dan jantung Siwon semakin berdegup kencang saat menyadari bahwa setelan yang tengah membalut tubuh Kyuhyun adalah setelan yang ia berikan pada hari ulang tahun Kyuhyun. Siwon benar-benar tak menyangkan jika Kyuhyun akan mengenakannya malam ini.

Tanpa bisa disadari, kaki Siwon berjalan begitu saja mendekati Kyuhyun yang berdiri di hadapannya. Pandangannya tak pernah lepas dari wajah Kyuhyun hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan sosoknya yang masih tak berkata apapun. Siwon kemudian melirik ke arah kerah Kyuhyun yang tertutup kancing. Tangannya pun secara spontan membuka kancing tersebut sehingga bagian dada atas Kyuhyun sedikit terlihat. Lalu dengan sedikit sentuhan lembut, Siwon merapikannya.

“Kau sangat tampan..”

Siwon tersenyum lembut. Matanya menatap lekat kedua mata indah Kyuhyun. Dan saat itu juga semburat merah kembali merayap memenuhi wajah Kyuhyun. Dengan segera ia pun menundukkan kepalanya, tak punya cukup keberanian membalas tatapan Siwon.

Mendapati tingkah Kyuhyun yang malu-malu membuat Siwon tersenyum lebar.

“Kyu.. Jangan menunduk seperti itu.. Aku tidak bisa melihat wajahmu..”

Dengan lembut Siwon menyentuh pipi Kyuhyun, membawa wajah itu kembali menatapnya. Dan saat mata Siwon telah berhasil menangkap mata Kyuhyun, sebuah getaran terasa mendera hatinya. Getaran itu terasa begitu aneh, namun telah berhasil membuat otaknya tak bisa berpikir lagi, hingga tanpa bisa menyadarinya, Siwon mengecup  lembut bibir Kyuhyun.

Kyuhyun sangat terkejut, tapi tubuhnya tak bisa bergerak, sehingga ia hanya bisa diam menerima ciuman lembut Siwon. Tidak hanya itu, Kyuhyun bahkan menutup kedua matanya, seakan menikmati sentuhan bibir Siwon pada bibirnya.

Namun ciuman itu tak berlangsung lama, karena Siwon segera menjauhkan bibirnya hingga ciuman keduanya pun terlepas.

Seketika itu pun perasaan bersalah memenuhi hati Siwon saat melihat bibir Kyuhyun yang memerah dan basah. Lagi-lagi ia telah hilang kendali. Tanpa memikirkan perasaan Kyuhyun, ia dengan egoisnya melakukan hal semacam ini. Siwon berpikir bahwa ia pasti telah membuat Kyuhyun merasa tak nyaman.

“Mari kita berangkat.. Mereka pasti telah menunggu..”

Tanpa menatap mata Kyuhyun barang sejenak pun, Siwon segera melengos pergi. Bukan karena tak ingin, hanya saja ia tak yakin jika ia masih bisa menahan diri jika melihat kedua mata sayu itu.

Tapi Kyuhyun masih diam saja. Ia masih berdiri di sana. Dan benar saja, wajahnya tengah menggambarkan sebuah ekspresi yang tak menyenangkan. Tapi ekspresi itu bukanlah sebuah ketidaknyamanan, tidak juga rasa terluka, melainkan sebuah kekecewaan.

‘Apa yang sebenarnya kuharapkan?’

Mata Kyuhyun melebar, tak percaya dengan pikirannya sendiri. Perasaan kecewa yang kini tengah memenuhi hatinya, bagaimana bisa ia merasa seperti itu?

Kecewa?

Mengapa?

Jantung Kyuhyun kembali berdetak kencang, sangat kencang, hingga ia harus memegangi dadanya dengan erat.

‘Apa yang telah terjadi padaku?’

.

.

Siwon dan Kyuhyun telah tiba di AW Convention Center, salah satu pusat konvensi terbesar di Seoul. Mereka pun segera disambut ramah oleh staf yang mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi eksekutif yang telah disiapkan. Tampak Tuan Cho yang telah menanti kedatangan keduanya duduk di sana bersama sang istri yang hanya memandangi mereka dengan wajah tak menyenangkan.

Setelah memberi salam, Siwon dan Kyuhyun pun segera duduk berdampingan. Sepertinya mereka datang tepat pada waktunya, karena tak berapa lama kemudian acara pun dimulai.

Satu demi satu busana rancangan Donghae diperagakan oleh model-model profesional di atas catwalk. Busana-busana bertema musim dingin itu tampak sangat elegan dengan sentuhan warna lembut di setiap bahannya, membuat para hadirin yang datang terkesima dengan keindahannya. Tapi tidak dengan Kyuhyun. Matanya tak sedikit pun melirik busana-busana yang baginya sangat membosankan itu, melainkan hanya memandangi sekelilingnya.

Kyuhyun dengan seksama memperhatikan konstruksi bangunan aula, tata dekorasi, pencahayaan yang ia akui sangatlah luar biasa. Ia tahu bahwa tak sembarang orang bisa menyelenggarakan peragaan busana di pusat konvensi ini. Dan ia sangat paham bahwa butuh banyak sekali biaya untuk itu. Apalagi mendatangkan para hadirin yang begitu ramai memenuhi bangku audiens, itu bukanlah hal yang mudah. Seorang Donghae yang hanya merupakan perancang busana amatir tidak akan mungkin bisa melakukan semua ini tanpa bantuan Ayahnya. Meski tak ada yang memberitahunya, tapi Kyuhyun sangat yakin bahwa Ayahnya lah yang telah mensponsori peragaan busana ini, dan itu membuat hati Kyuhyun berdenyut perih.

Sementara itu, Siwon yang sangat menyukai fashion seharusnya sangat antusias memperhatikan setiap detail busana yang diperagakan, apalagi ini adalah hasil rancangan kekasihnya, tapi kenyataannya tidak demikian. Karena kini pandangan Siwon hanya tertuju pada satu objek. Matanya begitu lekat memandangi objek tersebut hingga ia tak lagi mempedulikan sekitarnya. Dan objek itu tidak lain adalah sosok Kyuhyun yang tengah duduk tepat di sampingnya.

Siwon sendiri tidak menyadari sejak kapan ia terus memandangi Kyuhyun seperti ini, tapi sepertinya sejak acara dimulai pun pandangannya sudah tak bisa lepas dari wajah indah Kyuhyun. Sepasang mata yang berpendar sendu yang selalu mampu menyentuh hati terdalamnya, bibir sintal berwarna merah muda yang selalu menggodanya untuk mengecupnya, membuat Siwon begitu terpikat dengan semua pesona itu. Bahkan sesekali Siwon tersenyum dengan manisnya ketika melihat Kyuhyun mengerucutkan bibirnya atau menguap dengan begitu menggemaskan.

Namun tiba-tiba suara riuh tepuk tangan membuat Siwon terasadar. Dan ia segera mengalihkan pandangannya saat menyadari bahwa sosok Donghae lah yang kini tengah berjalan di atas catwalk. Donghae yang berajalan dengan begitu anggun, membawa sebuah karangan bunga, tampak sangat menawan dengan mengenakan busana hasil rancangannya sendiri.

Semua hadirin pun berdiri, memberikan tepuk tangan sebagai rasa penghargaan atas maha karya sang disainer muda. Dan seketika itu juga Siwon turut berdiri memberikan tepuk tangan. Kyuhyun yang melihat tindakan Siwon pun sangat terkejut. Apalagi saat mendapati senyuman di bibir Siwon yang ditujukan untuk Donghae yang juga tengah tersenyum padanya.

Hati Kyuhyun terasa sangat sakit. Sakit sekali. Bahkan rasa sakit ini jauh lebih hebat daripada rasa sakit yang ia rasakan saat mengetahui Ayahnya adalah sponsor peragaan busana ini. Rasa sakit ini begitu dahsyat hingga membuat Kyuhyun tak bisa bernapas.

Namun, jika saja Kyuhyun mengetahui bahwa sejak tadi pun mata Siwon tak pernah berhenti memandanginya.

.

.

Kini keluarga Cho bersama menantu Choi tengah menikmati makan malam di sebuah restoran mewah. Semuanya tampak bahagia bercengkerama satu sama lain. Tak jarang pujian terlontar dari bibir Tuan dan Nyonya Cho akan keberhasilan Donghae dalam menyelenggarakan pagelaran busana yang telah berjalan sukses.

Namun tidak dengan Kyuhyun. Sejak acara berakhir hingga pada akhirnya ia harus berada di sini, duduk bersama orang-orang yang tanpa bosan membahas hal yang membuatnya muak, Kyuhyun hanya diam saja, menyantap makanan yang tersaji di hadapannya dengan tak berselera. Tak ada yang tahu, dan tak ada yang mau peduli, bahwa kini hatinya tengah tak tenang. Setiap kali ia mengingat kejadian tadi, bagaimana Siwon begitu lekat menatap Donghae, bagaimana senyum itu tampak begitu bahagia merekah di bibirnya, membuat hati Kyuhyun seakan terbakar.

Akan tetapi, pertanyaan yang kemudian terucap dari mulut sang Ayah, memaksanya untuk berbicara.

“Kyu.. Bagaimana menurut pendapatmu mengenai desain kakakmu yang sangat luar biasa ini?”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Tuan Cho yang tersenyum padanya, tak sabar menantikan kata-kata yang akan dilontarkan Kyuhyun. Tampaknya sang Ayah masih tak mengerti bahwa ia sudah benar-benar muak dengan semua ini. Untuk itu, apakah Ayahnya masih harus menanyakan hal ini?

Luar biasa? Tapi aku sama sekali tak melihat ada hal yang ‘luar biasa’. Semua desainnya tampak sangat membosankan.”

Kata-kata dingin dan tak berperasaan itu begitu saja terucap dari bibir Kyuhyun, membuat semua yang mendengarnya terkejut, tak menyangka jika Kyuhyun akan berkata sekejam itu.

“K-kyu benar.. Aku masih harus banyak belajar..”

Tampak jelas dari sorot matanya bahwa Donghae sangat terluka dengan ucapan Kyuhyun, namun ia tetap mencoba tersenyum. Dan itu membuat Kyuhyun semakin muak melihatnya.

“Kyu.. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?”

Tuan Cho yang sangat kecewa dengan sikap Kyuhyun pun tak mengerti mengapa Kyuhyun bisa berkata seperti itu pada saudaranya sendiri. Sementara Nyonya Cho yang tak bisa terima jika anak kandungnya diperlakukan seperti itu akhirnya angkat bicara.

“Tentu saja ia akan berkata seperti itu.. karena ia sama sekali tak mengerti tentang fashion. Sayang.. seharusnya kau bertanya pada orang yang tepat. Choi Siwon yang memiliki selera tinggi dalam fashion pasti sangat paham akan hal ini.”

Kyuhyun tak menyangka jika sang ibu tiri akan berkata seperti itu. Ia pun menatap tajam Nyonya Cho yang tersenyum licik. Rasanya ingin sekali ia melenyapkan sosok mengerikan itu. Sementara Nyonya Cho yang melihat amarah yang tengah menghiasi wajah Kyuhyun merasa sangat puas.

“Ah, benar.. Kita belum mendengar pendapat Menantu Choi. Bagaimana menurutmu?”

Siwon yang sejak tadi hanya diam pun terkejut ketika Tuan Cho menanyakan mengenai pendapatnya, karena ia sendiri sebenarnya tak memperhatikan busana-busana yang telah ditampilkan. Pandangannya hanya terpaku pada sosok Kyuhyun yang kini pun tengah was-was menantikan pendapatnya. Tapi Siwon tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

“Um.. Menurutku.. desainnya sangat mengesankan..”

Tuan dan Nyonya Cho langsung tersenyum lebar mendengar pendapat Siwon yang merupakan sebuah pujian. Sementara Kyuhyun hanya bisa mengepalkan tangannya erat, menahan rasa perih di hatinya. Meski menyadari bahwa sudah sepantasnya Siwon memuji Donghae yang merupakan orang yang dicintainya, tapi Kyuhyun masih tak bisa menerimanya. Mendengar pujian yang dilontarkan oleh Siwon membuat hati Kyuhyun sakit. Entah kenapa demikian. Kyuhyun juga tak begitu mengerti.

Namun, Donghae yang seharusnya merasa senang karena Siwon memujinya, malah merasa kecewa. Karena saat melihat mata Siwon, ia tak begitu yakin bahwa Siwon mengatakan hal itu dengan tulus. Untuk itu Donghae ingin memastikannya sekali lagi.

“Lalu.. Yang mana yang paling membuatmu terkesan?”

Siwon sangat gugup, tak tahu harus menjawab apa, karena ia sama sekali tak melirik satu pakaian pun, kecuali……

“Ah! Yang kau kenakan! Aku suka busana yang tadi kau kenakan. Desainnya sangat elegan, warnanya lembut, cocok sekali dengan dirimu..”

Donghae membulatkan matanya. Ia sungguh tak menyangka jika Siwon akan berkata demikian. Dan tak bisa dipungkiri bahwa hatinya sangat senang. Namun, belum sempat Donghae mengucapkan terima kasih, seseorang telah menginterupsinya.

Uhuk..Uhuk..”

Kyuhyun tersedak. Tampaknya ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja Siwon katakan. Sementara Siwon yang melihatnya pun menjadi panik.

“K-kyu.. kau baik-baik saja?!”

Dengan gerakan cepat, Siwon mengambil segelas air putih di hadapannya dan segera membantu Kyuhyun untuk meminumnya.

“Ya ampun, Kyu…. Bagaimana bisa kau tersedak..??”

Siwon menatap Kyuhyun dengan penuh khawatir, dan kembali menyodorkan gelas berisi air putih ke bibir Kyuhyun.

“Apa tenggorokanmu sakit, hm..?”

Siwon begitu lekat memandang Kyuhyun yang masih berusaha mengatur nafasnya, ingin memastikan bahwa Kyuhyun baik-baik saja. Dan seketika Siwon tersenyum saat mendapati Kyuhyun menggeleng pelan.

Tampaknya Siwon tak lagi memperhatikan sekitarnya. Ia tak lagi menyadari bahwa Tuan dan Nyonya Cho tengah memperhatikan mereka. Bahkan ia tak cukup sadar bahwa kekasihnya kini tengah menatapnya dengan pandangan tak percaya.

“Kyu.. kau seperti anak kecil saja.. Lihat.. Kau belepotan..”

Siwon terkekeh kecil melihat Kyuhyun yang tampak sangat menggemaskan. Secara spontan tangannya pun meraih pipi Kyuhyun, membersihkan noda makanan yang menempel di sana, sambil sedikit membelai pipi itu dengan sangat lembut.

Donghae melebarkan matanya. Nafasnya tercekat. Dadanya terasa sesak. Sungguh ia tak bisa bernafas. Menyaksikan betapa lembutnya sikap Siwon pada Kyuhyun bahkan tepat di depan matanya, membuat Donghae rasanya ingin mati.

Ini terlalu menyakitkan, hingga tanpa bisa dicegah sebuah pernyataan terlontar dari bibirnya.

“A-ayah.. mengenai perayaan hari ulang tahunku yang kau tanyakan beberapa waktu yang lalu, aku ingin merayakannya sambil melihat matahari terbit di Puncak Gunung Bukhansan.”

Seketika mata Kyuhyun melebar sempurna, seakan tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.

‘Perayaan ulang tahun?’

‘Puncak Gunung?’

.

.

Ekspresi murung dan kesal terus saja menghiasi wajah Kyuhyun yang kini tengah berdiri memandangi suami dan kakak tirinya tengah sibuk memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil.

Demi apapun juga, Kyuhyun mengutuk dirinya sendiri yang dengan sangat bodohnya melakukan semua ini. Tak pernah terbayang olehnya jika ia bersedia ikut serta dalam perayaan ulang tahun kakak tiri yang sangat dibencinya ini. Terlebih lagi Donghae menginginkan ulang tahunnya dirayakan pada saat matahari terbit di Puncak Gunung Bukhansan. Itu berarti mereka harus mendaki untuk bisa sampai di atas puncak.

Kyuhyun berpikir bahwa Donghae pasti sudah gila karena menginginkan hal konyol seperti ini. Seharusnya Donghae bisa saja meminta pada Ayahnya untuk merayakan ulang tahunnya di tempat-tempat yang mahal dan mewah, seperti hotel berbintang atau bahkan di atas kapal pesiar. Tapi kakak tirinya itu malah memilih lokasi terpencil yang bahkan sangat sulit dijangkau oleh alat transportasi. Kyuhyun benar-benar tak habis pikir. Tapi Kyuhyun tak bisa untuk tak pergi. Hatinya tak akan tenang jika membiarkan Donghae merayakan ulang tahunnya hanya bersama Siwon yang demi apapun juga tak mungkin jika menolak untuk pergi. Membayangkan keduanya hanya berduaan, melihat matahari terbit bersama, membuat dada Kyuhyun sesak. Bagaimana pun juga hatinya tak cukup rela.

“Semua perlengkapan sudah siap. Ayo kita berangkat..!”

Ujar Siwon dengan bersemangat, sambil menutup bagasi mobil. Tampaknya Siwon sangat antusias, dan Kyuhyun benci melihatnya.

“Tunggu sebentar.”

Donghae dan Siwon yang sudah bersiap untuk masuk ke dalam mobil pun seketika menoleh ke arah Kyuhyun.

“Seseorang masih belum datang.”

Keduanya mengernyitkan dahi, tak paham akan maksud ucapan Kyuhyun. Bukankah hanya mereka bertiga yang akan pergi? Lalu siapa orang yang harus mereka tunggu?

“Kyu.. Apa kau mengundang seseorang?”

Siwon menatap Kyuhyun dengan heran, mencoba meminta penjelasan. Tapi belum sempat Kyuhyun memberi jawaban, Siwon sudah mengetahuinya sendiri. Karena saat itu juga, sosok yang telah dinantikan tiba-tiba datang. Siwon pun langsung melebarkan matanya, tak menyangka jika sosok tersebutlah yang harus dilihatnya.

“Maaf.. Aku terlambat..”

.

.

TBC

I’m Not That Cinderella – Chapter 10


few

PLAGIAT TIDAK DIIZINKAN.

“IT IS NOT COOL TO COPY SOMEONE ELSE’S IDEA. BE ORIGINAL AND DON’T PLAGIARIZE !!!”


.

.

.

Malam semakin gelap. Langit semakin kelam.

Donghae terdiam, menatap kosong pada sebuah pesan di layar handphone-nya, berharap jika saat itu ia buta, berharap bahwa dunia berakhir saat itu juga.

Maaf.. Aku tidak bisa pergi. Kau pulanglah.. Tak usah menungguku.. Istirahatlah, kau pasti sangat lelah..

Air mata perlahan jatuh, membasahi pipinya yang tampak pucat.

Perih, rasanya perih sekali.

Bagaiamana bisa seperti itu? Tidak.. Itu tidaklah benar. Siwon tidak mungkin tidak datang. Kekasihnya itu pasti akan datang. Bukankah Siwon telah begitu sering mangatakan bahwa ia adalah orang yang paling berharga di dunia ini melebihi apapun? Bukankah Siwon begitu mencintainya dan tak akan pernah mengkhianatinya? Benar. Siwon tak akan mengkhianatinya. Untuk itu ia pasti akan datang. Ia pasti akan segera datang.

Air mata semakin deras mengalir dari kedua mata Donghae. Hatinya terlalu sakit. Sakit sekali hingga tak lagi tertahankan. Untuk itu, biarlah ia berpura-pura tak tahu. Anggap saja ia tak pernah membaca pesan  itu. Anggap saja Siwon akan datang, dan ia akan menunggunya di sini. Tak peduli harus berapa lama, ia akan menunggunya.

.

.

.

Siwon menatap langit-langit. Dalam diam menerawang jauh, tenggelam dalam pikiran yang terus bergelut dengan hatinya. Kenapa dia bisa seperti ini? Mengapa ia melakukan ini? Bagaimana bisa? Dan mengapa?

Semua pertanyaan yang tak jelas ujung pangkalnya itu terus saja memenuhi kepalanya, membuatnya tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Tapi mungkin saja bukan itu alasannya, melainkan karena ada sosok itu di sampingnya. Benar sekali. Sosok itu tengah berbaring di sisi tempat tidurnya dengan punggungnya yang menghadap dirinya.

Siwon menolehkan kepalanya, dan mendapati sosok Kyunhyun yang masih membelakanginya. Sejak tadi, sosok itu hanya seperti itu. Posisinya sama sekali tak berubah, bahkan tubuhnya pun tak bergerak. Entah apakah ia memang sudah tidur, ataukah karena ia merasa malu?

Kyuhyun, anak itu, tidakkah dia tahu bahwa sikapnya yang pemalu seperti itu sungguh begitu manis? Dan tidak tahukah ia jika itu membuat jantung Siwon berdetak kencang?

Siwon menggeser tubuhnya, mendekat ke arah Kyuhyun yang masih tak berniat untuk membalikkan tubuhnya. Matanya pun memandang lekat leher Kyuhyun yang tampak sangat jelas di dapan matanya. Leher itu jenjang, sangat putih, dan terlihat begitu halus, bahkan menggoda Siwon untuk menyentuhnya.

Siwon seketika menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau pikiran kotor itu. Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu bahkan di saat seperti ini? Tapi meski sekuat apapun ia berusaha melenyapkannya, Siwon masih tak bisa melepaskan pandangannya pada leher Kyuhyun yang sangat menggoda. Rasanya ia begitu ingin menciumnya. Membayangkan permukaan bibirnya menyentuh lembut leher itu, membuat Siwon menelan ludahnya.

Tanpa bisa disadari, Siwon semakin memajukan wajahnya, mendekati leher jenjang Kyuhyun. Namun saat hanya beberapa inci lagi bibir Siwon menyentuhnya, tiba-tiba ia berhenti. Seakan baru saja tersadar dari sebuah fantasi liar, Siwon pun langsung menjauhkan wajahnya dan mendudukkan tubuhnya.

“Aggghhhh!!!!! Bagaimana bisa seperti ini..??!!!!”

Siwon mengerang frustasi, menjambak kuat rambutnya sendiri, berusaha menahan hasratnya yang semakin membuncah hingga menyesakkan dadanya.

Namun suara Siwon yang terdengar cukup keras membuat Kyuhyun membalikkan tubuhnya. Kyuhyun cukup terkejut saat matanya menangkap betapa berantakannya rambut Siwon dan pria itu masih tak berhenti menarik-menariknya seperti itu. Apalagi saat Kyuhyun mendapati ekspresi wajah Siwon yang tampak tidak senang? Atau menderita? Entahlah.. Kyuhyun pun tidak bisa begitu jelas menggambarkan ekspresinya itu.

Tapi bagaimana pun juga, itu membuat hati Kyuhyun perih. Apa Siwon menyesal dengan keputusannya? Apa Siwon kecewa karena telah membuat keputusan seperti ini; lebih memilih untuk berada di sisi Kyuhyun daripada pergi meninggalkannya seorang diri?

Kyuhyun pun bangkit dari pembaringannya.

“Ada apa?”

Ujung jemarinya menyentuh pelan lengan Siwon. Dan seketika itu juga Siwon merasakan bulu kuduknya berdiri. Sentuhan jemari Kyuhyun yang terasa begitu lembut di lengannya, telah menghantarkan sengatan listrik hingga membuat tubuhnya merinding.

“Apa kau merasa tidak nyaman jika aku tidur di sini?”

Siwon terkejut mendengar ucapan Kyuhyun. Ia pun segera menolehkan kepalanya, dan bahkan semakin terkejut lagi saat mendapati ekspresi yang terpasang di wajah Kyuhyun.

Ekspresi macam apa itu? Bagaimana bisa ia memasang ekspresi seperti itu? Seakan hendak menangis, kedua mata sayunya menatap Siwon, seperti anak anjing yang meminta belas kasihan. Oh Tuhan.. apa dia tidak tahu jika itu dilarang? Memasang wajah seperti itu di saat seperti ini, itu ilegal! Apa ia sengaja melakukannya? Kalau begitu bagus sekali, karena kini Siwon tak lagi mampu menahan dirinya.

Sekejap Siwon menarik tubuh Kyuhyun ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat.

“Kau tahu.. Aku begitu ingin menyentuhmu. Memelukmu seperti ini, tidaklah cukup.. Bahkan tidak cukup jika hanya menciummu satu kali. Aku ingin melakukannya berulang kali hingga aku kehabisan nafas. Dan aku ingin melakukan yang lebih lagi..”

Semburat merah seketika merona di kedua pipi Kyuhyun. Mendengar Siwon mengucapkan semua kata-kata itu; kata-kata yang tak seorang pun pernah mengatakan padanya seumur hidupnya, bahkan sambil memeluknya erat seperti itu, telah membuat jantung Kyuhyun berdegup kencang. Bahkan sangat kencang hingga ia takut jika Siwon akan mendengarnya.

Namun perlahan lengan Siwon semakin melonggar, dan akhirnya terlepas dari tubuh Kyuhyun.

“Maaf.. aku sudah berbicara yang tidak-tidak..”

Siwon menatap lembut Kyuhyun yang masih tak bisa berkata apapun. Meski ia sudah tak bisa lagi menahan diri, namun ia tak ingin melukai Kyuhyun. Rasa takutnya jika Kyuhyun terluka jauh lebih besar dari hasratnya untuk menyentuhnya. Siwon sungguh tak ingin menyakiti sosoknya.

“Tidurlah.. kau pasti sudah mengantuk..”

Dengan lembut Siwon mengusap rambut Kyuhyun sebelum akhirnya kembali menarik selimut menutupi tubuhnya. Namun belum sempat Siwon membaringkan tubuhnya, suara pelan tiba-tiba terdengar dari bibir Kyuhyun.

“Apa kau menginginkan sebuah ciuman?”

Siwon terlonjak kaget. Tubuhnya seketika membeku.

“Kupikir..aku bisa melakukannya.. jika hanya beberapa detik..”

Oh Tuhan.. hukuman apa yang telah diberikan Tuhan padanya hingga sosok itu bisa berucap seperti itu? Sambil menggigit bibir bawahnya dan menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan semburat merah yang tampak jelas merona di pipinya, ia berkata seperti itu dengan sangat lugunya. Apa dia tidak tahu jika ia sudah membuat Siwon gila? Mungkin ia memang tak tahu, tapi ia pasti akan segera menyesalinya.

Tanpa berkata apapun, tanpa bisa berpikir lagi, Siwon langsung merenggut bibir Kyuhyun, menyerangnya dengan ciumannya. Ciuman itu terasa kasar dan mendominasi, seakan menyatakan bahwa bibir itu adalah miliknya, hanya miliknya seorang.

Siwon melumat bibir Kyuhyun dengan rakusnya, tak membiarkan satu inci pun terlewatkan. Bibir Kyuhyun yang terasa begitu kejal, basah, dan hangat, benar-benar nikmat hingga memabukkannya. Tapi Siwon masih belum puas, ia ingin merasakan kenikmatan yang lebih lagi. Siwon pun menggigit bibir bawah Kyuhyun, memaksa memberi kesempatan bagi lidahnya untuk merasakan rongga hangatnya.

Siwon semakin berkuasa, kini lidahnya telah menaklukan lidah Kyuhyun dalam permainan panasnya. Bahkan sesekali ia menghisap lidah itu hingga membuat pemiliknya mendesah nikmat. Suara desahan Kyuhyun terdengar sangat merdu dan menggoda di telinga Siwon, membuatnya semakin bernafsu.

Kyuhyun memejamkan matanya, tangannya pun menggenggam kaus Siwon dengan erat. Ini sudah lebih dari hanya beberapa detik, tapi ia seakan tak berdaya. Ciuman Siwon terasa begitu luar biasa, hingga membuatnya hilang akal. Otaknya sudah tak bisa berpikir lagi. Seakan mati rasa tubuhnya pun tak bisa bergerak, karena yang bisa ia rasakan hanya kenikmatan yang menjalar di seiap denyut nadinya.

Kyuhyun tak begitu paham mengapa bisa seperti ini? Ia bahkan mengeluarkan desahan-desahan seperti itu. Ini benar-benar memalukan. Tapi Kyuhyun tak bisa mengelak, ia tak bisa menolak.

Siwon mendorong pelan tubuh Kyuhyun hingga punggungnya menyentuh kepala ranjang. Tangannya mulai merayap, menyibakkan kaus berwarna putih yang dikenakan Kyuhyun hingga ke atas dadanya, menyentuh dua buah tonjolan berwarna merah muda yang terlihat begitu menggoda.

Kyuhyun segera mendesah diantara ciumannya tatkala merasakan tangan besar Siwon menyentuh permukaan dadanya. Desahannya pun semakin jelas terdengar saat jemari Siwon mulai bermain dengan kedua nipple-nya. Rasa geli bercampur nikmat seketika memenuhinya, membuatnya tak berhenti mendesah.

Namun tampaknya Siwon masih tak cukup puas. Tangannya dengan cepat beralih ke pinggang Kyuhyun, lalu dengan lembut menyentuh junior Kyuhyun yang masih terbalut celana. Dan seketika itu juga Kyuhun mendorong tubuh Siwon dengan sekuat tenaga hingga membuat ciuman di antara keduanya terlepas.

“J-jangan-hh..!”

Kyuhyun menggeleng keras. Tubuhnya bergetar. Matanya melebar sempurna, memancarkan sebuah ketakutan dengan sejumlah air mata menggenang di kedua mata sendu itu.

Siwon sangat terkejut mendapati respon Kyuhyun, respon yang sama saat pertama kali Siwon melakukan hal ini. Dan itu membuat hatinya sangat sakit. Melihat Kyuhyun yang ketakutan seperti itu telah melukai hatinya.

Ssshh..tenanglah Kyuhyun.. Aku tidak akan menyakitimu..”

Siwon mengelus pelan pipi Kyuhyun, mengecup dahinya dengan lembut, mencoba untuk menenangkannya.

“Jangan takut.. Aku akan melakukanya dengan sangat lembut.. Aku akan membuatmu merasa nikmat.”

Siwon menatap lekat kedua mata Kyuhyun, meyakinkan Kyuhyun bahwa ia bisa mempercayainya.

Kemudian dengan sangat perlahan Siwon menarik celana dan pakaian dalam yang menutupi bagian bawah tubuh Kyuhyun. Dan dengan lembut, Siwon menyentuh junior Kyuhyun yang tampak sudah menegang. Siwon tersenyum melihat apa yang tengah tersaji di hadapannya; dengan bentuk yang mungil, dan warna merah muda yang lembut, junior Kyuhyun tampak sangat imut, membuat Siwon segera ingin mengulumnya seperti setangkai perman gula-gula.

Namun sejenak Siwon melirik pada wajah Kyuhyun- memastikan bahwa ia baik-baik saja, sebelum menggenggam penuh junior Kyuhyun dan memulai gerakan naik turun. Siwon melakukannya dengan sangat pelan, hingga akhirnya terdengar desahan nikmat yang terucap dari bibir Kyuhyun.

Siwon kembali tersenyum, puas dengan respon yang Kyuhyun berikan. Ia pun mulai menambah kecepatan gerakan tangannya, bahkan sesekali ibu jarinya memainkan ujung junior Kyuhyun yang mulai mengeluarkan cairan pre-cum.

Mata Siwon pun tak lepas memandangi wajah Kyuhyun yang tampak sangat menikmati permainan ini.

“Nikmat, bukan?”

Siwon berbisik dengan suara pelan. Kyuhyun yang tak lagi mampu berpikir karena kenikmatan yang mendera sekujur tubuhnya hanya bisa mengangguk dengan tatapan sayu.

‘Sial.. anak ini terlalu manis..”

Siwon pun kembali mencium bibir Kyuhyun. Kali ini ciumannya semakin bergairah, seiring semakin meningkatnya kecepatan gerakan tangannya pada junior Kyuhyun yang telah ereksi. Cairan pre-cum pun semakin mengalir deras, membasahi telapak tangan Siwon, membuat Siwon semakin mudah melakukan gerakannya, dan tentu saja hal itu membuat kenikmatan yang tengah Kyuhyun rasakan semakin memuncak.

Siwon melepaskan pautannya pada bibir Kyuhyun yang telah sangat basah oleh air liur keduanya. Kini bibirnya merayap ke leher Kyuhyun, mengecup Adam’s apple-ya, menciptakan tanda kemerahan di sepanjang leher jenjang itu. Kini bibir Siwon beralih ke telinga Kyuhyun yang telah memerah karena menahan rasa malu. Siwon menjilat dan menggigit lembut daun telinga Kyuhyun, membuat si pemilik semakin mendesah keras.

Kyuhyun terlihat sangat manis di mata Siwon, membuat Siwon semakin ingin menggodanya.

“Lihat.. milkmu sudah sangat menegang, Kyu..”

Siwon yang masih tak berhenti melakukan gerakan naik turun, mangalihkan pandangannya pada junior Kyuhyun yang telah ereksi sempurna.

“T-tidak.. I-itu-hh..memalukan-nhh..”

Kyuhyun merangkul erat leher Siwon, menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah pada bahu Siwon.

Siwon terkekeh pelan mendapati respon Kyuhyun yang sangat menggemaskan.

“Hey.. Jangan sembunyi, Kyu.. Aku ingin melihat wajahmu..”

Siwon menarik pelan tubuh Kyuhyun menjauh darinya, membawa wajah itu ke hadapannya, sehingga ia bisa melihat dengan jelas ekpresi wajah Kyuhyun yang terlihat begitu menggoda; nafas tersengal, air liur mengalir di sela bibirnya yang tak berhenti mengeluarkan desahan nikmat, air mata pun perlahan jatuh dari sudut matanya- tak lagi mampu menahan kenikmatan yang tengah ia rasakan mengalir di sekujur tubuhnya, matanya berpendar sayu, memancarkan ketakberdayaan sekaligus perasaan nikmat.

Sungguh sebuah ekspresi yang sangat seksi, membuat Siwon semakin bernafsu. Ia bahkan merasakan miliknya sendiri sudah sangat tegang, tak sabar merasakan kenikmatan yang lebih yang akan ia dapatkan dari sosok di hadapannya ini.

Siwon semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya terdengar desahan keras dari bibir Kyuhyun yang menandakan bahwa ia akan segera mencapai klimaks. Dan sedetik kemudian, cairan putih kental menyembur dengan deras.

Kyuhyun seketika ambruk ke dalam pelukan Siwon. Matanya terpejam erat. Nafasnya masih tersengal. Tenanganya seakan terkuras habis oleh orgasme yang begitu dasyat yang baru saja dialaminya. Namun, belum sempat Kyuhyun mencoba untuk menenangkan diri, ia tiba-tiba terlonjak kaget saat merasakan sesuatu tengah berusaha memasuki lubang analnya.

“T-tidak! J-jangan!”

Kyuhyun menggeleng keras. Tangannya menggenggam erat bahu Siwon. Perasaan sakit seketika mendera saat jari telunjuk Siwon menembus lubangnya. Meski Siwon baru beberapa inci saja memasukkan bagian jarinya karena lubang Kyuhyun yang sangat sempit, namun Kyuhyun sudah merasa sangat kesakitan.

“H-hentikan!!!”

Siwon seketika tersentak mendengar teriakkan Kyuhyun. Ia pun segera mengeluarkan jarinya.

“Oh Tuhan.. Kyu.. Apa aku telah menyakitimu?!”

Siwon menatap Kyuhyun dengan penuh khawatir, dan ia pun sangat terkejut saat mendapati air mata mengalir deras membasahi wajah Kyuhyun.

“S-sakit.. s-sakit sekali.. A-aku..takut..”

Kyuhyun berkata lirih, tubuhnya bergetar hebat. Dan seketika itu juga, Siwon merasakan hatinya begitu perih seakan tercabik-cabik. Untuk kesekian kalinya ia telah menyakiti sosok ini.

“Maaf.. Maafkan aku, Kyu.. Aku tak akan melakukannya lagi.. Sungguh.. Aku tak akan melakukannya..”

Siwon berbisik pelan sambil memeluk erat tubuh Kyuhyun yang masih tak berhenti bergetar.

Shhh.. Tenanglah, Kyu.. Jangan menangis..”

Siwon mengecup bibir Kyuhyun dengan sangat lembut. Lalu dengan pelan membaringkan tubuh itu di atas kasur.

“Tidurlah.. Kau pasti sangat lelah..”

Tangannya mengelus surai Kyuhyun dengan lembut, hingga akhirnya Kyuhyun tertidur lelap.

Senyum manis pun terpatri di bibir Siwon kala melihat wajah Kyuhyun yang terlihat damai dalam tidurnya.

“Selamat malam.. mimpi indah..”

Siwon mengecup pelan dahi Kyuhyun. Tak peduli jika kini miliknya masih sangat tegang, menuntut untuk segera dipuaskan. Siwon bisa menahannya, meski itu terasa sangat menyakitkan. Karena ia akan lebih sakit lagi jika menyakiti sosok yang kini tengah bermimpi indah.

.

.

.

Mentari mulai menyingsing. Sinarnya memayungi perbukitan hijau, menyapa sang pagi yang tersenyum bahagia, senyum yang sama seperti yang terukir di bibir tipis sosok laki-laki yang tengah berbaring di atas ranjangnya. Matanya lekat menatap wajah laki-laki satunya yang tersandar di lengan atasnya.

Siwon masih tersenyum, bahkan terkadang tertawa kecil, mengamati Kyuhyun yang tengah tertidur lelap. Rambutnya yang berantakan, matanya yang sedikit sembab, dan hidungnya yang memerah karena udara dingin, sungguh manis sekali.

Apalagi sejak semalam tangan Kyuhyun tak pernah lepas dari tubuh Siwon. Tangan itu terus melingkar dengan erat di dadanya. Dan tentu saja Siwon sendiri pun tak pernah berhenti memeluk tubuh Kyuhyun. Bahkan sesekali Siwon mendekatkan wajahnya pada kepala Kyuhyun, mengecupnya dengan lembut, menghirup aroma vanila yang tercium dari setiap helai rambut Kyuhyun.

Rasanya bahagia sekali. Jika ia bisa meminta, ia ingin terus seperti ini; setiap pagi, setiap kali ia membuka matanya, ia akan melihat sosok Kyuhyun yang masih terlelap di sampingnya.

Tiba-tiba Siwon merasakan gerakan kecil, ternyata Kyuhyun tengah menggeliat. Sepertinya ia akan segera bangun.

Kyuhyun mengerjapkan matanya perlahan, mencoba memperjelas pandangannya yang kabur. Dan saat bola matanya mulai bisa menangkap objek yang ada di depannya, mata bulatnya seketika melebar sempurna.

Wajah Siwon begitu dekat, bahkan hanya beberapa inci dari wajahnya. Kedua mata Siwon pun menatapnya dengan sangat lekat. Sambil tersenyum- menampilkan kedua lesung pipinya, pria itu berkata dengan lembut.

“Selamat pagi Kyu.. Apa tidurmu nyenyak?”

Semburat merah seketika menghiasi kedua pipi Kyuhyun. Dan itu membuatnya tampak semakin manis. Namun Kyuhyun masih belum menyadari satu hal, bahwa kini tangannya masih melingkar dengan eratnya di tubuh Siwon. Dan ketika ia menyadari hal itu, Kyuhyun segera menarik tangannya menjauh dan bangkit dari tidurnya.

“A-aku..akan pergi ke k-kamarku..”

Dengan sangat gugup Kyuhyun beranjak dari tempat tidur, dan dengan tergesa melangkah keluar kamar. Namun untuk kesekian kalinya, Siwon bisa melihat dengan jelas pipi dan telinga Kyuhyun memerah.

‘Oh, Tuhan.. Manisnya..’

Siwon terkekeh kecil melihat tingkah Kyuhyun yang sangat menggemaskan. Rasanya ingin sekali ia menahan bocah itu agar tetap berbaring di sampingnya, memeluknya erat, dan menciumnya.

Semburat merah pun seketika merona di wajah Siwon saat mengingat kejadian semalam. Itu bukanlah mimpi kan? Itu memang benar-benar terjadi kan?

Siwon seakan masih tak percaya dengan semua itu. Sosok Kyuhyun yang begitu arogan, yang sangat membencinya, yang bahkan tak pernah memberikan sebuah senyuman padanya melainkan tatapan mematikan, telah bersedia membiarkan Siwon menyentuhnya seperti itu.

Siwon melirik ke sisi sampingnya dimana tubuh Kyuhyun telah berbaring semalaman di sana, dan ia tersenyum saat mendapati sebuah bantal kelinci masih tergeletak di sana. Kyuhyun pasti sangat malu sampai-sampai ia lupa membawanya.

Siwon kemudian menarik bantal itu, lalu mendekapnya erat. Kyuhyun pasti memeluk bantal kelinci itu setiap malam hingga Siwon bisa mencium aroma Kyuhyun disana; aroma manis vanila yang menenangkan.

Sebuah senyum bahagia pun tak jua lenyap dari bibir Siwon, seiring dengan semakin eratnya pelukan Siwon pada bantal kelinci berwarna biru muda tersebut.

.

.

.

Donghae berjalan gontai memasuki rumahnya. Tubuhnya begitu lelah, dan kepalanya terasa sangat berat. Namun seketika langkahnya terhenti saat ia hendak masuk ke dalam kamarnya.

“Darimana saja kau, Hae?”

Donghae membalikkan tubuhnya. Dan di sana berdiri sosok ibunya yang menatapnya tajam.

“Kau minum lagi?!”

Nyoya Cho memandang anak kandungnya dengan pandangan tak percaya.

“Mengapa akhir-akhir ini kau sering sekali minum? Dulu kau tidak pernah seperti ini!”

Donghae hanya diam. Apa yang dikatakan ibunya sudah cukup benar adanya, sehingga tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tapi pertanyaan yang kemudian dilontarkan sang ibu membuatnya tersentak.

“Apa telah terjadi sesuatu?”

Donghae menatap lekat wajah Nyonya Cho. Ingin sekali rasanya ia mengatakan yang sebenarnya, bahwa memang sesuatu telah terjadi. Tapi Donghae sadar, ia bukan anak kecil lagi. Ia tidak bisa membuat ibunya khawatir hanya karena hal sepele seperti ini, meski ia sendiri tak bisa mengatasinya.

“Tidak ada.. Aku baik-baik saja, Bu..”

Donghae tersenyum lembut, mencoba meyakinkan sang ibu yang masih memandanginya dengan khawatir. Namun sebagai seorang ibu, Nyonya Cho tahu betul bahwa kini anaknya tengah berbohong.

“Apapun yang telah terjadi, kau tidak bisa seperti ini, Hae.. Karena kau adalah penerus perusahaan keluarga ini.”

Donghae mengernyitkan dahinya saat mendengar kalimat terakhir yang baru saja terucap dari bibir ibunya, seakan meenuntut sebuah penjelasan.

“Aku sudah membicarakan ini dengan Ayah Cho. Kau akan diangkat menjadi wakil direktur perusahaan. Jika kinerjamu membaik, kau akan dipercaya memegang cabang perusahaan kita yang terbesar di China.”

Donghae terdiam untuk sesaat. Ia sudah sangat lelah, dan cukup muak untuk kembali membahas hal yang sangat dibencinya ini.

“Ibu.. bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan dunia model? Ini adalah hidupku, dan aku tidak akan pernah bisa melepaskannya.”

Donghae kembali menatap lekat Nyonya Cho, berharap sang ibu akan memahaminya.

“Hidupmu? Bagaimana bisa kau bertahan hidup hanya dengan menjadi seorang model? Penghasilanmu bahkan tak cukup untuk sekedar membayar makanan hewan peliharaan kita.”

Donghae tersentak. Ia tak menyangka jika ibunya akan berkata sekejam itu.

Melihat ekspresi anaknya yang terluka dengan ucapannya, Nyonya pun merasa menyesal. Ia tidak bermaksud untuk menyakitinya, tapi ini semua ia lakukan demi kebaikan mereka berdua.

“Hae.. kau tahu kan bagaimana kehidupan kita dahulu? Kau masih ingat kan bagaimana menderitanya kita?”

Donghae hanya diam sambil menundukkan kepalanya.

“Apa kau mau semua penderitaan itu terulang kembali? Apa kau tega melihatku menangis dan menderita lagi?”

Donghae seketika mengangkat kepalanya. Matanya memandang nanar wajah sang ibu. Ingatan bagaimana wajah itu telah meneteskan air mata membuat hatinya tersayat. Tidak. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Tapi……..

“Tapi.. bukankah saat ini ibu sudah bahagia? Bukankah ibu sudah mendapatkan semua yang ibu inginkan? Untuk itu.. aku juga ingin bahagia. Biarkan aku bahagia dengan pilihanku sendiri. Lagipula sebagai anak tiri, aku sama sekali tak punya hak untuk itu. Kyu lah yang sepantasnya menjadi penerus perusahaan keluarga ini.”

Nyoya Cho mengepal tangannya erat, berusaha menahan amarah akan keputusan yang terucap dari bibir sang anak. Tidak peduli bagaimana pun juga ia tetap tak bisa memahami pikiran anaknya sendiri yang sangat bertolak belakang dengan jalan pikirannya.

“Baiklah.. Jika kau memang menginginkan bocah tengik itu yang akan menguasai perusahaan, tunggu saja apa yang akan ia lakukan pada kita saat hari itu benar-benar terjadi.”

Nyonya Cho menatap Donghae dengan sangat tajam, seakan hendak mengoyak hatinya. Tatapan itu memancarkan sebuah kengerian yang menjalar di seluruh tubuh Donghae, hingga membuatnya bergidik.

‘Apa yang akan Kyuhyun lakukan pada kami?’

.

.

.

TBC


Note :

Halloooo my lovely readers!!!!! long time no see you all~~ ^^

Ah.. I really miss u my dears <33333

Maaf udah bikin kalian nunggu lama.. ini semua gara2 mood buat nulis yg sempet ancur banget huhuhuu 😥 apalagi denger kabar banyak banget plagiator yang berkeliaran, menjiplak karya orang lain tanpa ada rasa malu! siapa coba yang gak bakal marah!!

Saya juga denger kabar dari temen2 kalo para autor ff wonkyu pada ngilang karna takut ffnya dibajak sama si pencuri-pencuri ini. wahh.. parah banget kan.. jadi mohon banget deh buat siapapun di luar sana, please DON”T PLAGIARIZE!!!

Di dalam dunia maya ini juga ada sopan santun. kalo emang mau ngutip atau terinspirasi dari karya orang lain, mohon izin terlebih dahulu dan mencantumkan sumber aslinya.

PLAGIAT SAMA DENGAN MENCURI !!!

Well.. makasih banyak buat yang bisa memahami. mohon kerjasama kalian semua yaa ^^ kalo ada yang ngebaca suatu karya hasil plagiat mohon dilaporkan 🙂

Makasih juga buat temen2 semua yang masih setia nungguin ff saya.. jgn lupa kasih komentar yaaa ^^

Take care n love youuu 😀

My Fear is Losing You – Chapter 3


My Fear is Losing You - by ikhakyu

Siwon menatap lekat sosok di hadapannya.

Sosok itu, tubuhnya begitu kurus, duduk di atas sebuah ranjang, dengan punggung yang tersandar. Wajahnya pucat pasi, tak ada sedikit pun rona di sana. Bibirnya yang juga tampak pucat, hanya tertutup rapat, tak satu pun kata terucap darinya. Dan matanya, dua mata sayu itu, berpendar sendu, menatap lurus ke arah jendela.

“Kyu.. kau harus makan..”

Siwon berucap pelan. Matanya memandang lembut sosok Kyuhyun yang tak juga menghiraukannya.

Hati Siwon berdenyut perih. Sampai kapan Kyuhyun akan seperti ini?

Sudah tiga hari berlalu sejak hari dimana ia menemukan tubuh Kyuhyun tergeletak tak berdaya di lantai balkon apartemennya. Dan ia sangat bersyukur, karena kebaikan Tuhan, nyawa Kyuhyun masih terselamatkan. Siwon senang bukan main, ia sangat bahagia melihat sosok itu kembali sadarkan diri dan membuka matanya. Tapi lagi-lagi kenyataan berjalan tak sesuai harapannya.

Selama tiga hari ini, Kyuhyun tak menyentuh sedikit pun makanan. Meski dokter dan para perawat sudah membujuknya, melakukan berbagai cara, tapi tetap saja Kyuhyun tak mau makan. Obat yang seharusnya diminum setiap hari untuk membantu memulihkan kondisinya juga tak ia lirik, hingga kini tubuhnya yang sudah sangat kurus itu hanya memperoleh nutrisi dari cairan infus yang mengalir melalui jarum suntik yang masih tertancap di punggung tangannya.

Siwon mendesah pelan, meletakkan sepiring bubur yang sejak tadi dipegangnya ke atas meja kecil di sampingnya. Mungkin sudah beribu kali Siwon mengucapkan kata yang sama, meminta Kyuhyun agar mau makan setidaknya menerima satu suapan saja, tapi tak ada hasilnya. Sosok itu tak pernah mendengarkannya, bahkan tak sedikit pun wajah pucatnya menoleh ke arahnya. Mata sayunya hanya memandang lurus ke arah jendela seperti itu, tak pernah sedetik pun menatapnya.

“Kyu.. Lihat aku..”

Selembut embun pagi yang jatuh pelan pada kelopak bunga teratai, Siwon menyentuh lembut wajah Kyuhyun, membawa wajah itu ke arahnya, menarik pandangan Kyuhyun agar menuju padanya.

Dan kini, kedua bola mata yang telah kehilangan warna cerahnya itu menatap Siwon.

Tapi Siwon seketika merasakan hatinya berdarah tatkala mendapati tatapan itu hanyalah sebuah tatapan kosong. Tatapan itu menembusnya, seakan Kyuhyun tak bisa melihatnya, seakan Siwon tak ada di sana.

Mata itu, yang dulu selalu memandangnya lembut dengan penuh keceriaan, menyampaikan perasaan sayang yang tidak bisa diungkapan dengan kata-kata, kini sama sekali tak melihatnya.

Sakit. Sakit sekali. Rasanya ingin mati saja.

.

.

.

Rintik hujan jatuh pelan, mengucap selamat tinggal pada sang awan. Aroma basah tercium lekat dari dedaunan dan rerumputan.

Dan Siwon kembali pada suatu keadaan yang tak ia inginkan, keadaan dimana ia harus duduk diam, memandang sosok rapuh yang hanya duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap ke arah jendela.

Hening. Tak ada suara. Hanya terdengar suara titik-titik hujan yang membiaskan embun pada kaca jendela.

Mata Siwon masih tak lepas dari sosok itu, menatapnya dengan lekat. Untuk kesekian kalinya, ia mencoba memahami, berusaha mencari alasan terlogis yang bisa ia terima. Tapi ia tetap tak bisa. Bahkan sejak hari itu pun, hari dimana ia pertama kali bertemu dengannya, Siwon tak bisa memahaminya.

“Kita tak bisa terus membiarkannya seperti ini. Kondisinya semakin memburuk.”

Hati Siwon kembali berdenyut perih tatkala mengingat bahwa Dokter bahkan sudah berkata seperti itu padanya. Dan ia sudah tak punya pilihan lain.

Ia harus segera mengambil keputusan, karena jika tidak, sosok itu mungkin tak akan bisa hidup lagi, ia pasti akan mati.

“Apa kau akan berhenti bersikap seperti ini jika aku melepaskanmu?”

Siwon berucap pelan, ragu jika ia harus menanyakan hal itu. Takut jika pada kenyataannya ia akan mendapatkan jawaban yang tak ia harapkan.

Dan benar saja, Kyuhyun, yang selama hampir lima hari sejak ia memutuskan bunuh diri, tak pernah barang sejenak pun meliriknya, kini menatapnya. Sepasang mata itu yang hanya memberi tatapan kosong kini seakan bernyawa, seakan baru terbangun dari tidur yang panjang. Akhirnya mata itu benar-benar melihatnya.

Tapi kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang Kyuhyun melihatnya seperti itu?

Siwon menundukkan kepalanya.

Hanya diam.

Tak mengatakan apapun.

.

.

.

Sudah hampir satu jam berlalu.

Dan Siwon masih berdiam diri, menundukkan kepalanya, tak berkata apa-apa.

Menyesal karena telah melontarkan pertanyaan seperti itu.

Menyalahkan diri sendiri karena hanya menjadi tak berdaya.

Mengutuk takdir yang tak sedikit pun memberi belas kasih.

Tapi sosok itu masih menatapnya. Matanya lekat memandanginya.

Ah, benar.. bukankah sudah sangat jelas bahwa itu lah yang Kyuhyun harapkan?

Ia telah menunggunya. Ia pasti sudah sangat lama menantinya.

Dan mungkin, Siwon memang harus mengatakannya.

“Pergilah..”

Siwon mengangkat wajahnya, tapi matanya hanya memandang lurus ke jendela.

“Pergilah sejauh mungkin..”

Suaranya terdengar bergetar.

“Larilah sejauh yang kau bisa.. Jangan sampai aku menemukanmu..”

Tangannya dikepal erat.

“Karena jika aku melihatmu sekali lagi.. Aku tak yakin bisa melepaskanmu..”

Siwon mulai membalikkan tubuhnya. Kakinya melangkah dengan perlahan.

Tanpa sedikit pun menoleh, meninggalkan sosok Kyuhyun yang tak mengatakan apapun.

Bukannya ia tak mau melihatnya, ia hanya tak bisa.

Hati ini sudah terlalu sakit. Ribuan luka ini sudah terlalu pedih untuk ditahan.

Tubuh Siwon berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit.

Langkahnya pun semakin tak beraturan.

Pandangannya mengabur.

Buram.

Gelap.

Hingga ia tak bisa melihat apa-apa lagi, dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

.

.

.

TBC


Fanfic ini saya persembahkan untuk sahabat terbaik saya, Dhila ..

I’m Not That Cinderella – Chapter 9


few

Siwon berlari sekencang mungkin. Kaki-kakinya melangkah dengan pasti. Namun seketika keraguan menghampirinya tatkala ia tiba tepat di depan sebuah pintu. Di balik pintu itu, sesosok lelaki mungkin tengah menangis. Ia pasti tengah menangis pedih menahan rasa sakit akan penderitaan yang menderanya. Ia menangis sendiri, memendam rasa sakit itu hanya untuk dirinya sendiri hingga luka di hatinya mungkin sudah begitu dalam.

Meskipun demikian, ia yang menangis sendiri itu, pasti membutuhkan seseorang untuk memeluknya erat. Ia juga pasti membutuhkan rasa hangat yang membuatnya merasa tenang dan aman. Tapi Siwon masih tak membuka pintu itu. Rasa ragu itu masih menghantuinya. Ia ragu jika ia lah orang yang dibutuhkan sosok itu, yang mampu memberikan rasa hangat itu. Apalagi setelah melakukan semua hal kejam itu, apakah ia masih pantas bahkan untuk melihat sosoknya?

Namun, tak peduli jika memang itu bukan lah dirinya. Tak apa jika nanti sosok itu akan marah dan mengusirnya, setidaknya Siwon sudah mencoba, karena jika tidak, perasaan bersalah ini akan terus bersemayam di hatinya.

Siwon perlahan menarik gagang pintu. Dan saat pintu terbuka, Siwon melihat sosok itu tengah meringkuk di atas kasur. Siwon pun mulai berjalan menghampirinya. Dan seketika itu juga hati Siwon terenyuh melihat kondisi Kyuhyun. Tubuhnya yang kurus tengah terbaring lelah. Matanya yang terpejam erat tampak sembab. Dan jejak-jejak air mata masih terlihat jelas di atas pipinya yang pucat.

Siwon merasakan air matanya hendak jatuh. Tapi ia berusaha menahannya, karena ia tak ingin jika isakannya akan membangunkan Kyuhyun. Siwon pun masih menatap lekat wajah Kyuhyun. Begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan pada sosok yang masih terlelap itu, bahkan hingga membuatnya tak mampu mengucapkan satu kata pun.

Kemudian mata Siwon menangkap sebuah bingkai di genggaman tangan Kyuhyun. Bingkai itu begitu erat didekapnya. Tapi Siwon ingin melihat foto yang terpasang di sana. Ia pun dengan sangat pelan melepaskan bingkai tersebut dari tangan Kyuhyun. Dan seketika itu juga air mata yang telah susah payah ditahannya, tumpah membanjiri pipi Siwon.

Di dalam foto itu, seorang wanita yang tampak sangat cantik tengah tersenyum lembut.

‘Kau pasti sangat merindukannya..’

Siwon tak bisa menghentikan air matanya. Hatinya terasa perih, bahkan sangat perih hingga ia tak lagi mampu menahannya. Siwon pun menggigit bibirnya agar isakannya tak keluar, agar Kyuhyun tak akan terbangun.

‘Maafkan aku..’

Siwon mengusap lembut kepala Kyuhyun, berharap jika sentuhannya bisa menyampaikan rasa penyesalannya ini. Karena Siwon tak akan sanggup mengatakannya jika nanti Kyuhyun terjaga. Bibirnya pasti tak akan mampu mengucapkan kata-kata itu. Karena ia sudah menyakiti sosoknya. Ia sudah melukainya.

.

.

Sesosok wanita yang tak lagi terlihat muda tengah menyesap anggur dengan angkuhnya, menyombongkan diri di hadapan takdir bahwa ia punya kekuasaan. Matanya menatap tajam sosok pria yang tengah duduk di hadapannya.

“Sejauh ini semua berjalan cukup baik. Kita sudah mendapatkan 43% suara investor.”

Sengiran pun seketika menghiasi bibir merahnya kala mendengar jawaban yang dilontarkan pria itu.

“Bagus kalau begitu. Tapi, kita harus bergerak lebih cepat lagi. Setidaknya kita harus mendapatkan 60% suara.”

Tampak jelas sebuah ambisi di dalam matanya, yang tak akan pernah surut oleh apapun juga.

“Jika Nyonya mempertimbangkan lagi usulan saya waktu itu, kita akan lebih cepat mencapai target.”

Pria tersebut menatap lekat, mencoba meyakinkan wanita di hadapannya. Namun kemudian terdengar helaan nafas dari wanita tersebut.

“Aku sudah mengatakan padanya, tapi ia tetap tak mau melakukannya.”

Sekilas perasaan kesal menghiasi wajah wanita itu.

“Anda harus berusaha membujuknya, Nyonya. Jika ia memiliki jabatan sebagai petinggi perusahaan, maka kita akan lebih mudah mempengaruhi para investor. Mereka akan lebih percaya untuk bekerjasama dengan kita. Ini akan menjadi kesempatan yang sangat bagus.”

Wanita tersebut menyipitkan matanya, mempertajam tatapannya pada sosok pria yang memandanganya dengan penuh arti.

“Baiklah, aku akan mencoba membujuknya. Aku akan melakukan apapun agar dia mau melakukannya.”

Ucap wanita itu dengan penuh keyakinan. Pandangannya masih tak luput dari pria di hadapannya.

“Tuan Park.. Kau tak akan mengkhianatiku, kan?”

Aura keyakinan yang terpancar dari matanya tiba-tiba meredup saat rasa keraguan menghampirinya. Namun, keraguan itu pun seketika lenyap tatkala pria itu menatapnya lekat, mencoba meyakinkannya bahwa ia tak akan pernah melakukan hal itu.

“Tak perlu khawatir.. Aku akan selalu setia pada Anda, Nyonya Cho..”

.

.

Kyuhyun terbangun. Nafasnya tersengal. Matanya terbuka lebar. Ketakutan tergambar jelas di wajahnya yang tampak sangat pucat. Keringat dingin pun mengucur deras dari dahinya yang lembab. Seketika itu juga, Kyuhyun bangkit dari pembaringannya. Tangannya merogoh sebuah laci meja di samping ranjangnya. Namun ia semakin panik saat tak mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Apa kau mencari ini?”

Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Kyuhyun pun langsung menolehkan wajahnya pada sosok Siwon yang tengah duduk di sebuah kursi di sudut ruangan. Kyuhyun seketika melebarkan matanya, tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia sama sekali tak menyadari keberadaan Siwon sebelumnya. Ia tak tahu sejak kapan Siwon ada di sana. Namun itu tak lagi penting, karena yang paling membuat Kyuhyun terkejut adalah saat ia melihat tangan Siwon yang tengah menggenggam sebuah benda yang sejak tadi dicarinya.

“Kyuhyun.. Kau tahu obat apa ini?”

Mata Siwon memandang tajam Kyuhyun yang terdiam membisu. Tampak sebuah kekecewaan di wajah Siwon. Ia sangat kecewa pada apa yang ditemukannya di laci meja Kyuhyun tatkala sosok itu terlelap. Ia tak sengaja membuka laci itu ketika hendak meletakkan photo Ibunda Kyuhyun di atas meja. Tadinya Siwon mengira itu hanya obat biasa, tapi ia sungguh tak menyangka jika itu tidak seperti apa yang ia pikirkan.

“Kyuhyun.. Sejak kapan kau-..”

Siwon terhenti. Ia tak sanggup melanjutkan pertanyaannya. Karena ia masih tak bisa mempercayai ini. Bagaimana bisa ia tidak shok, jika ternyata obat itu merupakan obat penenang dosis tinggi!? Itu benar-benar sangat berbahaya.

“Apa yang kau lakukan? Berikan itu padaku!”

Kyuhyun hanya mengabaikan Siwon. Ia tak peduli jika Siwon tengah membutuhkan sebuah penjelasan. Ia hanya menginginkan obatnya. Dan kini matanya pun membalas tatapan Siwon dengan tajam, memaksanya untuk segera menyerahkan obat itu padanya. Tapi sikap Kyuhyun yang seperti itu membuat hati Siwon sakit. Ia paham jika Kyuhyun sangat menderita, tapi kenapa ia harus melakukan hal semacam itu?

Siwon kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke arah Kyuhyun.

“Kyu.. apa kau tahu jika ini sangat berbahaya?”

Siwon memandang Kyuhyun dengan penuh khawatir. Tatapannya begitu lekat pada kedua mata Kyuhyun, seakan masih berharap bahwa semua ini tidaklah benar.

“Itu bukan urusanmu! Cepat berikan padaku!!”

Kyuhyun pun bangkit menghampiri Siwon, dan berusaha menyambar botol obat tersebut. Namun Siwon segera menjauhkannya dari jangkauannya, hingga ia tak bisa menggapainya.

“Tidak akan! Aku tidak akan pernah membiarkanmu meminum ini lagi!”

Kyuhyun memandang kesal Siwon yang tetap bersikeras tak memberikan obat itu. Namun, Kyuhyun tak akan menyerah. Ia masih berusaha merebutnya dari tangan Siwon.

Tapi Siwon sudah tak bisa lagi menahan semua ini. Melihat Kyuhyun yang terus saja menginginkan obat itu, bahkan sama sekali tak mempedulikan ucapannya, membuat Siwon sangat marah. Rasa amarah ini sudah meluap-luap hingga akhiranya ia berteriak kencang.

“Kau bisa mati Kyuhyun!!!!”

Kyuhyun seketika terdiam. Teriakkan Siwon begitu kencang hingga membuatnya terkejut. Namun itu hanya sesaat, karena tak lama kemudian Kyuhyun terkekeh sinis.

“Bukankah itu lebih baik?”

Siwon memandangan Kyuhyun dengan bingung. Ia tak begitu mengerti maksud ucapan Kyuhyun.

“Kau juga pasti akan senang kan? Kalian semua pasti akan tertawa kan? Bukankah kalian semua berharap aku mati?!!!”

Siwon seketika melebarkan matanya, tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan Kyuhyun.

“Kyu-.. bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?”

Tampak jelas sebuah luka di mata Siwon. Hatinya sangat perih saat mendengar Kyuhyun mengatakan hal semacam itu. Bagaimana bisa Kyuhyun berpikir bahwa Siwon berharap ia mati sementara pada kenyataannya Siwon begitu mengkhawatirkannya? Itu tidak lah benar, sama sekali tidak benar.

“Kau-.. Apa kau tahu bagaimana menderitanya aku?”

Kyuhyun masih melanjutkan ucapannya. Namun kini air mata mulai jatuh dari kedua mata sendunya.

“Aku tahu.. Aku mengerti apa yang kau rasakan..”

Siwon memandang Kyuhyun dengan lembut, mengatakan padanya bahwa ia sangat mengerti perasaannya. Ia sudah tahu jika Kyuhyun sangat menderita. Untuk itu ia tak perlu melakukan hal yang dapat membahayakan hidupnya lagi. Tapi sepertinya, sosok itu masih tak mempercayainya.

“Bohong!! Kau sama sekali tak mengerti!! Kau tak akan mengerti!!”

Kyuhyun mendorong keras tubuh Siwon hingga membentur lemari di belakangnya. Botol obat yang ada di genggaman tangan Siwon pun terlepas hingga jatuh berserakan di atas lantai.

Seketika semua menjadi hening. Tak ada yang berbicara. Hanya terdengar isakan memilukan dari bibir Kyuhyun.

Hati Kyuhyun sangat sakit, bahkan tak terperihkan tatakala ia mengingat  bagaimana semuanya begitu menyakitkan baginya setelah kematian sang Ibu, bagaimana ia bertahan dengan segala luka ini, bagaimana ia telah menghabiskan banyak air mata, menangis seorang diri tanpa ada yang mengetahui. Semua itu sangat menyakitkan.

“Tak ada yang mengerti.. Tak ada seorang pun..”

Suara Kyuhyun terdengar bergetar di sela isakan tangisnya. Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya.

“Hanya aku sendirian..”

Siwon memandang pedih sosok Kyuhyun yang menangis sesenggukan di hadapannya, membuat rasa perih di hatinya semakin tak tertahankan. Sungguh, ia tak bisa melihat semua ini. Ia tak bisa melihat sosok itu menderita seperti ini. Dan saat itu juga Siwon berdoa dalam hati, meminta pada Tuhan agar memindahkan semua luka yang Kyuhyun rasakan kepada dirinya. Biarlah ia yang terluka. Karena ia sungguh tak bisa melihat sosok di hadapannya ini menangis. Itu membuatnya ingin mati. Atau setidaknya ia akan melakukan apapun, apapun juga untuk membuatnya menghentikan semua air mata itu.

Kaki Siwon perlahan melangkah, mendekati sosok itu yang masih terhanyut dalam luka dan air matanya. Tanganya kemudian mengusap pipi Kyuhyun dengan sangat pelan. Matanya menatap lekat sosok di hadapannya, seakan ingin meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa tak ada yang perlu ditakutkan lagi, bahwa Kyuhyun tak perlu menangis lagi.

Lama Siwon mengusap pipi itu, mencoba menghapus setiap tetes air mata yang jatuh dari kedua mata sendu itu, hingga akhirnya suara pelan terdengar dari bibirnya.

“Kau tak sendirian.. Aku ada di sini bersamamu..”

Perlahan Siwon mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun yang sudah basah oleh air mata, hingga  bibirnya menyentuh bibir Kyuhyun dengan lembut. Lembut sekali. Tak ada paksaan, amarah ataupun kebencian. Hanya ada kelembutan dan rasa kasih.

Kyuhyun pun hanya diam. Tak ada kejengahan di dalam hatinya. Tak ada keinginan untuk memberontak, seakan hanya pasrah. Matanya terpejam seiring semakin dalamnya ciuman Siwon di bibirnya. Meski air mata masih tak berhenti mengalir, tapi Kyuhyun bisa merasakan perasaan hangat. Perasaan hangat itu begitu hebat hingga membuatnya merasa tenang dan aman.

Tangan Siwon memeluk erat tubuh Kyuhyun, membawa tubuh itu ke dalam dekapan hangatnya. Ia pun masih tak melepaskan bibirnya dari bibir itu, menghantarkan kelembutan pada setiap sentuhannya, seakan mengatakan bahwa Ia paham, ia sangat mengerti. Bagaimana ia sudah terluka dan menderita, Siwon sangat memahaminya. Untuk itu mulai saat ini, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Semua akan baik-baik saja. Karena ia tak lagi sendirian. Siwon akan selalu ada bersamanya.

‘Kau tak sendirian..’

.

.

Mata Siwon tak lepas memandangi Kyuhyun yang tengah tertidur lelap dalam dekapannya. Sebuah senyum simpul pun tak kunjung pergi dari bibir tipisnya, seperti halnya perasaan senang yang tak pula menghilang dari hatinya.

Siwon masih tak percaya pada apa yang telah terjadi. Ia seakan tengah bermimpi. Bagaimana tidak? Ia dan Kyuhyun telah berciuman. Ini memang bukan yang pertama kalinya bagi mereka. Tapi Siwon merasakan sesuatu yang tidak ia rasakan pada ciuman-ciuman mereka sebelumnya, meski ia masih belum menyadari perasaan apa itu.

Dan saat ini pun, Kyuhyn tengah terlelap dalam pelukannya. Kyuhyun begitu dekat, hingga Siwon bisa mendengar detak jantungnya, dan merasakan hembusan pelan napas Kyuhyun di lehernya. Sungguh, ini seperti mimpi. Kyuhyun yang begitu membencinya, yang bahkan selalu menatapnya dengan pandangan mematikan, kini berada dalam dekapannya, mempercayakan tubuhnya meringkuk dalam rangkulannya.

Siwon semakin mengeratkan tangannya pada tubuh Kyuhyun, membawa tubuh itu semakin tenggelam dalam hangat pelukannya. Bibirnya pun mengecup lembut kepala Kyuhyun, berharap sebuah mimpi yang damai menghampiri tidurnya. Tak akan ada lagi mimpi buruk. Mimpi-mimpi yang begitu mengerikan itu tak akan lagi menganggunya, karena Siwon ada di sampingnya, mendekap tubuhnya dengan erat.

Mata Siwon masih setia terperangkap pada wajah Kyuhyun, hanyut pada sebuah perasaan yang terasa mennyesakkan dadanya. Entah perasaan apa ini, ia sendiri tak mengerti. Tapi yang ia tahu pasti, ia tak ingin melihat sosok itu terluka sedikit pun.

Perlahan mata Siwon pun mulai terpejam, membiarkan malam berlalu hingga sang pagi datang menyambut. Tapi dekapan erat tangannya pada sosok itu tak sedikitpun melonggar.

.

.

Mentari bersinar lembut. Sinarnya menyelinap di sela-sela tirai, mengusik tidur lelap seseorang.

Siwon membuka matanya perlahan. Tidurnya begitu nyenyak hingga tanpa sadar pagi sudah tiba. Tapi pagi ini udara terasa dingin, sepertinya musim dingin sudah mulai menampakkan rupanya, dan situasi seperti ini begitu nyaman untuk kembali terlelap. Namun Siwon seketika bangkit dari pembaringannya saat tak mendapati sosok Kyuhyun di sisinya. Sosok itu yang semalaman berada dalam dekapannya, kini menghilang. Dan itu membuat Siwon panik. Kemana ia pergi? Apa telah terjadi sesuatu padanya?

Semua pikiran buruk itu membuat rasa cemas Siwon semakin memuncak, hingga ia pun akhirnya melompat dari tempat tidur dan segera bergegas mencari Kyuhyun. Namun Siwon tak bisa menemukan sosoknya. Tidak di kamarnya atau di ruangan manapun. Ini benar-benar membuatnya frustasi. Tapi rasa khawatirnya tak mengizinkannya untuk berdiam diri. Siwon pun berlari keluar rumah saat terpikir bahwa mungkin Kyuhyun tengah mencari udara segar di luar sana.

Siwon berlari. Matanya tak berhenti mengamati sekitarnya. Tak ada satu sudut pun yang luput dari pandangannya. Namun ia masih tak melihat sosok itu, hingga ia akhirnya tiba di pantai. Dan seketika itu juga Siwon menghela nafas lega saat matanya menangkap sesosok lelaki tengah di berdiri di hadapan laut. Tubuh itu, yang hanya terlihat seperti sebuah garis tipis di antara hamparan laut yang luas, tampak begitu rapuh, seakan bisa hancur seketika.

Siwon berjalan menghampirinya, hingga akhirnya ia berdiri tepat di belakangnya.

“Ternyata kau di sini..”

Kyuhyun perlahan membalikkan tubuhnya, mendapati Siwon yang menatapnya lekat.

“Kupikir telah terjadi sesuatu padamu.. Kau membuatku takut..”

Suara Siwon terdengar pelan diantara deburan lembut sang ombak pada pasir putih. Matanya masih tak berhenti memandang sosok Kyuhyun yang hanya diam. Angin berhembus pelan, meniup surai madu Kyuhyun dengan lembut, mengusap halus wajahnya yang tampak putih pucat karena udara dingin. Matanya yang sendu bersinar syahdu, memberi tatapan yang meneduhkan hati. Sosoknya yang berdiri di antara hamparan pasir putih dengan latar belakang laut biru yang tak berujung, begitu indah, sebuah keindahan yang telah Tuhan ciptakan dengan Maha Sempurna-Nya.

“Ayo pulang..”

Siwon mengulurkan tangannya, mengharap Kyuhyun akan menggapainya.

“Aku masih ingin melihat laut..”

Kyuhyun hanya mengabaikannya, kembali membalikkan tubuhnya menghadap laut. Matanya menerawang jauh, tenggelam dalam biru yang tampak begitu luas.

Siwon pun hanya bisa menghela nafas. Ia tahu bahwa Kyuhyun mungkin masih tak begitu tenang, bahwa ia mungkin masih tak mempercayainya. Semua janji yang telah ia ucapkan padanya, bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa ia tak akan sendirian, bahwa Siwon akan selalu bersamanya, Kyuhyun mungkin masih tak begitu yakin dengan semua itu, meski ia telah mengatakannya dengan sepenuh hatinya. Tapi tak apa. Jika satu kali Kyuhyum masih tak yakin, ia akan mengucapkannya dua kali, jika masih tak yakin juga maka Siwon akan mengatakannya tiga kali, empat kali, bahkan seribu kali, hingga Kyuhyun bisa mempercayainya.

Siwon kemudian berdiri di samping Kyuhyun. Matanya menatap lurus ke dapan, lekat memandangi laut yang bergelombang dengan tenang.

“Aku benci laut..”

Tiba-tiba terdengar suara pelan dari bibir Siwon.

“Ku pikir sejak hari itu aku tak akan pernah melihatnya lagi..”

Kyuhyun masih berdiam diri. Pandangannya masih tak lepas dari birunya laut.

“Karena jika melihatnya, aku akan kembali teringat kejadian itu..”

Siwon merasakan tubuhnya bergetar hebat. Memori itu masih tersimpan dengan baik di dalam kepalanya. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, mencoba meredam semua itu.

“Tapi kau bahkan memilih rumah di dekat laut, membuatku harus melihatnya setiap saat..”

Siwon tersenyum tipis. Benar saja, bahkan saat ini pun ia tanpa sadar menginjakkan kakinya di sini, di hadapan laut. Semua itu terjadi begitu saja tanpa bisa ia hindari. Padahal Siwon sudah bertekad jika ia tak akan pernah melihatnya lagi. Tapi karena sosok ini, sosok yang kini tengah berdiri di sampinganya dalam diam, Siwon mengkhianati tekadnya sendiri. Ini seperti tak masuk akal, meski inilah kenyataannya, bahwa sosok itu telah berhasil membuatnya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya ia lakukan.

“Ini dingin sekali.. Kita akan membeku jika tak segera masuk..”

Siwon membalikkan tubuhnya. Kakinya perlahan mulai melangkah meninggalkan Kyuhyun. Meski ia ingin sekali menarik tangan Kyuhyun yang tampak sudah membeku itu, tapi Siwon tak melakukannya. Ia tak ingin terlalu memaksanya, meski sebenarnya ia ingin memaksa jika bisa, karena ia tak tahan melihat Kyuhyun kedinginan.

“Kejadian apa?”

Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari bibir Kyuhyun. Tanpa bisa dicegah, pertanyaan itu begitu saja terucap. Dan itu membuat Siwon seketika menghentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik, menghadap sosok Kyuhyun yang kini menatapnya lekat. Siwon terkejut saat mendapati bagaimana sepasang mata indah itu menatapnya. Tatapan itu tak bisa digambarkan, seakan hendak berkata bahwa sosok itu mengkhawatirkannya.

Siwon tersenyum simpul. Entah kenapa perasaan senang tiba-tiba menjalar di hatinya. Mendapati sosok Kyuhyun yang menatapnya seperti itu, meski tak mengatakannya tapi Siwon tahu bahwa ia tengah mencemaskannya, membuat Siwon sangat senang.

“Tak apa.. Itu bukan apa-apa..”

Siwon menatap lembut Kyuhyun yang hanya diam mendengarkan ucapannya. Tangannya meraih tangan Kyuhyun, dan menggenggamnya erat. Lalu tanpa bicara apapun lagi, Siwon menarik tangan itu dengan sangat pelan, membawa sosok itu melangkah bersamanya.

Kyuhyun pun tanpa berkata apa-apa, hanya menuruti, membiarkan Siwon menariknya, membawanya menuju rumah. Bahkan tanpa Kyuhyun sadari tangannya sendiri kini membalas genggaman tangan Siwon, dan hal itu membuat bibir Siwon menyunggingkan sebuah senyuman, meski Kyuhyun tak melihatnya.

.

.

Siwon menyelimuti tubuh Kyuhyun yang berbaring di atas tempat tidur, menutupi tubuh itu dengan selimut hangat. Begitu cermat ia melakukannya hingga tak sejengkal pun dari tubuh Kyuhyun yang luput dari balutan selimut selain wajahnya yang terlihat pucat karena kedinginan, seakan tak ingin membiarkan udara dingin menyentuh tubuh itu.

“Kau pasti sudah lama  berdiri di sana. Tubuhmu sudah membeku..”

Siwon memandang lekat Kyuhyun yang hanya pasrah dengan perlakuan Siwon padanya.

“Ini sudah memasuki musim dingin. Jika ingin keluar, pakailah jaket atau semacamnya.”

Ucap Siwon lembut sambil mengusap rambut Kyuhyun pelan.

“Aku sudah menyalakan penghangatnya.. Kau tak akan kedinginan lagi..”

Siwon tersenyum. Kyuhyun yang hanya diam seperti ini, menerima semua perlakuannya bahkan tanpa memberontak sedikitpun, membuatnya terlihat begitu manis di mata Siwon.

“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Tunggulah di sini. Jangan sedikitpun beranjak dari selimut itu..”

Siwon memberi peringatan, meski terdengar seperti perintah yang memaksa Kyuhyun untuk mematuhinya, sebelum akhirnya melangkah ke luar kamar. Tapi Kyuhyun tak merasa kesal atau marah mendengarnya. Ia sama sekali baik-baik saja dengan semua itu. Entah kenapa bisa seperti itu, ia sendiri tak begitu mengerti.

Kyuhyun semakin mengeratkan selimut tebal yang membalut tubuhnya dengan hangat. Rasanya hangat sekali, bahkan hatinya juga terasa sangat hangat. Tapi Kyuhyun masih tak paham apakah rasa hangat ini karena balutan selimut itu, atau karena penghangat ruangan, atau karena sesuatu yang lain. Entahlah.

.

.

Malam kembali. Bulan telah menampakkan wajahnya. Angin pun berhembus pelan, membawa aroma dingin bersamanya.

Dan di sini, di dalam sebuah bar, seorang Lee Donghae tengah menyendiri. Hanya sebuah botol anggur yang menemaninya.

Donghae menyesap anggurnya, menikmati setiap tegukannya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia begitu sering minum. Padahal seingatnya ia bukanlah peminum. Tapi sejak saat itu, saat dimana Ayahnya memperkenalkan Siwon sebagai calon suami Kyuhyun, hampir setiap malamnya ia akan melakukan ini. Karena hanya dengan begitu ia bisa sedikit melupakan kenyataan yang sudah berlaku kejam padanya.

Malam ini pun, Donghae sudah menghabiskan satu botol anggur. Tapi sepertinya ia belum begitu mabuk karena kini pikirannya masih terjebak pada peristiwa yang terjadi kemarin. Donghae masih mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Siwon saat Donghae menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun.

“Apakah kau mengkhawatirkannya, huh?”

Dongahe berguman pelan. Rasa perih seketika menyerang hatinya. Senyum getir pun terpatri di bibir tipisnya.

Tidak mungkin. Itu tidak mungkin terjadi, kan? Bagaimana pun juga, itu tak boleh terjadi. Siwon tak boleh memiliki perasaan seperti itu. Meski itu hanya sebuah rasa simpati, tapi tetap saja, itu dilarang.

Donghae membuka botol anggur kedua dan menuangkannya ke dalam gelas, lalu meminumnya dengan sekali teguk. Air mata pun perlahan menetes, menyadari jika Siwon mungkin akan mulai melupakannya, karena sejak kemarin pun Siwon tak menjawab teleponnya, bahkan ia sama sekali tak menghubunginya.

Rasa perih di hatinya semakin memuncak saat membayangkan bahwa Siwon mungkin saja tengah bersama Kyuhyun. Tak peduli berapa banyak anggur yang sudah ia minum, masih tak cukup untuk melenyapkan rasa perih itu.

Namun tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Dan seketika itu juga Donghae segera menjawab panggilan tersebut saat melihat nama Siwon di layar.

“S-siwon.. Kau-.. K-kenapa kau tak menjawab teleponku?”

Suara Donghae terdengar bergetar, mencoba menahan tangisnya.

<Maaf.. Aku minta maaf..>

Rasa sakit kembali menyerang hati Donghae kala mendengar jawaban Siwon yang hanya berupa kata maaf, tak ada yang lain. Tak ada penjelasan atau apapun yang bisa menenangkan hatinya.

<Hae.. Apa kau baik-baik saja?>

Terdengar nada khawatir dari suara Siwon, dan itu membuat Donghae merasa cukup tenang bahwa ternyata Siwon masih mengkhawatirkannya.

“Hmm.. Aku baik-baik saja..”

Donghae mencoba menyunggingkan sebuah senyuman, karena ia tak ingin membuat Siwon cemas, meski sulit baginya melakukan itu.  Namun Siwon masih bisa mendengar suara Donghae yang bergetar, membuatnya berpikir bahwa mungkin saja sedang terjadi sesuatu yang buruk pada kekasihnya itu.

<Kau dimana sekarang? Apa kau di tempat biasa? Tunggulah.. Aku akan segera ke sana..>

Sambungan telepon terputus. Donghae terdiam untuk sesaat. Siwon akan menemuinya, benarkah? Kalau begitu semua akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Karena Siwon masih ingin bertemu dengannya. Itu berarti Siwon tidak melupakannya. Siwon masih mencintainya. Ia benar, kan? Ia tak salah, kan?

.

.

Siwon bergegas mengenakan sebuah jaket dari dalam lemarinya dan mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Ia pun melangkah dengan cepat ke luar dari kamarnya. Namun seketika langkahnya terhenti dan matanya melebar sempurna saat mendapati sosok Kyuhyun yang berdiri di samping pintu kamarnya.

“K-kyuhyun? Kau belum tidur?”

Siwon menatap Kyuhyun dengan heran. Namun ia seketika terkejut saat menyadari bahwa Kyuhyun tengah mendekap sebuah bantal kelinci berwarna biru muda di depan dadanya. Kenapa Kyuhyun berdiri di depan kamarnya dengan membawa sebuah bantal? Apa jangan-jangan ia…..?

Siwon tiba-tiba menghentikan pikirannya, mengutuk dirinya yang sudah berpikiran seperti itu. Kyuhyun tak akan mungkin pernah mau melakukan hal semacam itu. Tapi kemudian ia terkejut bukan main saat mendengar Kyuhyun yang berucap pelan.

“Ibu pernah bilang.. jika seseorang memelukmu saat tidur, mimpi buruk tak akan mengganggumu. Apa benar seperti itu?”

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa gugup yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ia pun hanya menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya, meski itu hanyalah sia-sia, karena Siwon masih bisa melihatnya dengan jelas.

Menyaksikan sosok Kyuhyun yang telah berusaha sekuat tenaga membuang segala keangkuhannya, datang ke hadapannya, dan dengan malu mengatakan secara tak langsung bahwa ia ingin Siwon memeluknya hingga ia terlelap, membuat hati Siwon lumer seketika.

‘Oh Tuhan.. bagaimana dia bisa semanis ini..?’

Seolah masih tak percaya dengan apa yang terjadi, Siwon masih terdiam membisu. Matanya masih tak lepas memandangi sosok Kyuhyun yang masih menyembunyikan wajahnya dengan sangat manisnya. Rasanya ingin sekali ia segera menarik sosok itu ke dalam kamarnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, dan mendekapnya erat, tak akan melepaskannya hingga sang pagi tiba.

Tapi kemudian Siwon tersadar. Ia ingat bahwa Donghae tengah menunggunya. Ia harus pergi menemuinya. Karena bagaimana pun juga Donghae adalah kekasihnya. Sosoknya adalah yang paling berharga bagi Siwon. Ia begitu mencintainya melebihi siapapun di dunia ini. Itu benar, untuk itu Siwon tak akan mungkin mengkhianatinya.

“M-maaf.. T-tapi aku harus pergi..”

Siwon merasakan hatinya sangat pedih, tak sanggup menolak sosok di hadapannya yang menatapnya dengan kekecewaan. Bahkan Siwon rasanya ingin mati saat melihat sebuah kilatan luka pada mata Kyuhyun. Siwon telah menyakitinya.

Tapi Siwon tak bisa mendapatkan kedua pilihan ini secara bersamaan. Meninggalkan Kyuhyun dan pergi menemui kekasihnya atau tetap di sini bersamanya dan membatalkan janjinya pada Donghae, ia hanya bisa memilih salah satu dan mengorbankan yang lainnya. Karena mencintai seseorang memang membutuhkan pengorbanan. Dan tentu saja ia akan lebih memilih kekasihnya sendiri, dan mengorbankan Kyuhyun. Itulah keputusan yang terbaik. Siapapun akan melakukan hal yang sama, bukan?

Siwon tak lagi sanggup melihat sosok Kyuhyun yang terluka. Tanpa berkata apapun, Siwon pun melangkah pergi, meninggalkan Kyuhyun seorang diri.

Air mata menggenangi kedua mata Kyuhyun. Hatinya terasa sangat perih. Ia sudah sering merasakan sakit hati, tapi yang ini rasanya sakit sekali. Ia belum pernah merasakan yang seperti ini. Ternyata seperti ini rasanya diabaikan. Ternyata seperti ini sakitnya jika dicampakkan.

Tapi bukankan Siwon sudah berjanji untuk tak akan meninggalkannya sendirian? Bukankah ia sendiri yang sudah mengatakannya bahwa ia akan selalu ada bersamanya? Tapi kenapa Siwon malah meninggalkannya seperti ini? Bukankah itu namanya ingkar janji?

Namun, bagaimana pun juga sejak awal Kyuhyun memang tak mengharapkan Siwon akan bersikap baik padanya. Sejak awal pun ia memang tak menginginkan semua ini. Jadi apa yang sudah ia harapkan? Apakah ia berharap bahwa Siwon akan lebih memilihnya, mengurungkan janjinya yang entah pada siapa, lalu membawanya masuk ke dalam kamar, dan memeluknya erat hingga pagi tiba? Apakah ia sudah gila? Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu?

Kyuhyun mengusap matanya, menghapus air mata yang belum sempat jatuh. Tak ada yang salah di sini, melainkan dirinya sendiri yang dengan sangat bodohnya datang ke hadapan sosok itu, mengharapkannya untuk melakukan sesuatu yang sangat mustahil untuk dilakukan. Bukankah itu hanyalah sebuah harapan bodoh?

Kyuhyun memeluk erat bantal kenlinci di depan dadanya, mencoba menahan rasa sakit di hatinya. Ia pun membalikkan badannya. Kakinya hendak melangkah menuju kamarnya sendiri. Namun belum sempat ia melangkah, kakinya tiba-tiba terhenti, seakan membeku sehingga tidak bisa bergerak. Matanya pun melebar sempurna tatkala menangkap sesosok lelaki tengah berdiri di hadapannya dengan nafas yang sedikit tersengal, seakan baru saja berlari dengan tergesa-gesa.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia kembali, bahkan secepat ini? Rasanya baru beberapa menit yang lalu ia memutuskan untuk pergi meninggalkannya, mengabaikannya. Ataukan ia telah melupakan sesuatu dan ingin mengambilnya?

Tapi sosok itu masih menatapnya lekat dengan pandangan yang tak bisa digambarkan, dan mulai berjalan mendekatinya. Dekat dan semakin dekat, hingga sosoknya berdiri tepat di hadapannya.

“Kau-.. bagaimana bisa kau membuatku seperti ini? Kau sudah membuatku gila, Kyuhyun..”

Kyuhyun terdiam, masih terperangah pada sosok Siwon yang tiba-tiba kembali dan berdiri di hadapannya, seakan tak percaya dengan semua itu.

Siwon sendiri masih menatap lekat Kyuhyun. Tak bisa dijelaskan bagaimana ekspresi yang kini terpasang di wajah tampannya. Ia sendiri bahkan tak mengerti mengapa ia malah berdiri di sini. Namun, seakan otaknya telah rusak, ia sudah tak bisa berpikir lagi.

Bahkan tanpa bisa menghentikan dirinya sendiri, Siwon menarik dengan erat tangan Kyuhyun. Dan tanpa berkata apapun, ia membawa sosok itu masuk ke dalam kamarnya.

.

.

.

TBC


Note:

Akhirnyaaa udate juga ^^

maaf ya udah bikin kalian semua nunggu lama~

tapi moga aja chapter ini bisa membayar penantian yang cukup lama ini heheh ^^

Jadi.. sepertinya Siwon semakin tidak bisa menyangkal perasaannya pada Kyuhyun.. Ia bahkan mengabaikan kekasihnya sendiri hanya demi sosok Kyuhyun yang super imut tapi evil ini hoho~ dan sepertinya saya sudah bisa menebak kalo readers pada penasaran apa yg bakal terjadi selanjutnya, karena Siwon sudah membawa Kyuhyun ke dalam kamarnya nih~ OMG! apakah akan terjadi sesuatu yang tak terduga pada keduanya? kkkk~ tapi.. tampaknya bakal ada masalah baru nih.. karena siapa tahu kalo wanita itu tengah merencanakan sesuatu yg buruk pada Kyuhyun.. humm.. kita liat aja ya gimana chapter selanjutnya~ ^^

Jangan lupa tinggalkan komentar kalian tentang chapter ini yaa 😀 kalian juga bisa tanya apapun sama saya.. saya usahain bakal jawab pertanyaan kalian semampu saya ^^

Makasih banyak untuk semuanyaaa~

I love you n take care my dears 😀


Daddy Don’t Cry – Chapter 15


Daddy Don't Cry - by ikhakyu

 

Musim gugur telah di penghujung. Angin pun berhembus pelan, menyebarkan aroma dingin di udara. Pepohonan semakin menggugurkan daunnya, mempersiapkan diri menyambut musim dingin yang akan segera tiba menyapa bumi.

Sosok itu masih berdiri di sana, di hadapan sebuah pohon cery yang tampak kesepian tanpa daun dan bunganya. Dan pohon itu akan tetap sendirian seperti itu hingga musim dingin berlalu.

Mata sendunya tak lepas mengamati setiap dedaunan yang berguguran dengan sangat anggunnya. Daun-daun itu jatuh tanpa membenci sang angin yang meniupnya.

Kyunnie memejamkan matanya sejenak, lalu menghirup pelan sisa-sisa aroma kering dari musim gugur yang telah terbawa angin entah kemana. Dari aroma itu, ia bisa mencium sebuah rasa sepi, yang membuat hatinya berdenyut perih.

Sunyi, sepi, hampa. Semua perasaan menyakitkan itu pernah menghampirinya, memenjarakannya dalam sebuah derita.

Ingatan pahit akan bagaimana ia telah terluka, bagaimana ia begitu kesepiannya, hanya seorang diri menghadapi takdir yang telah sangat kejam mengkhianatinya, kembali menyeruak, mengiris hatinya.

Ia, yang dipaksa menerima sebuah kenyataan bahwa orang yang begitu ia cintai telah mencampakkannya, mencoba untuk melangkah, menjalani hidup yang bahkan tak lagi berarti baginya.

Tapi semua itu sudah berakhir. Seperti musim gugur yang akan segera berakhir.

Perlahan terdengar suara langkah kaki menghampirinya. Ia tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik langkah itu, karena ia sudah sangat mengenalnya.

“Jangan khawatir.. Bunganya akan bersemi kembali saat musim semi tiba..”

Kyunnie mengalihkan pandangannya pada sosok Siwon yang sudah berdiri di sampingnya dengan sebuah senyum terpatri di bibir tipisnya.

Siwon dengan lembut menarik kedua tangan Kyunnie mendekat ke wajahnya, menempelkan telapak tangan itu pada kedua pipinya.

“Tanganmu dingin sekali..”

Kemudian ia kembali menarik tangan itu, membawanya ke dalam genggamannya. Tangannya mulai menggosok-gosok pelan kedua telapak tangan Kyunnie, sambil meniupkan hawa panas dari bibirnya pada sekitar telapak tangan yang sudah tampak membeku itu, mencoba untuk menghangatkannya. Ia melakukannya dengan begitu lembut, seakan tangan Kyunnie begitu berharga baginya, tak ingin membiarkan tangan itu terluka.

Kyunnie hanya diam memandangi sosok Siwon di hadapannya yang masih tak melepaskan tangannya, dan dengan sangan lembutnya menggosok-gosok tangannya seperti itu. Sosok itu, dengan begitu hati-hati, mencoba menghalau udara dingin, menciptakan kehangatan yang bisa Kyunnie rasakan hingga menjalar ke dalam hatinya.

“Daddy.. Taukah kau apa yang menjadi doaku saat ini?”

Siwon megalihkan pandangannya dari kedua tangan yang masih ada dalam genggamannya pada sang pemilik tangan indah itu yang tengah menatapnya lekat.

“Aku berdoa agar Tuhan menghentikan waktu..”

Sebuah harapan terpancar dari mata sendu Kyunnie, sebuah harapan akan Tuhan medengarkan doanya. Karena saat ini, ia tengah begitu bahagia. Dan ia tak ingin semua itu pergi.

“Aku.. sangat bahagia.. bahagia sekali..”

Air mata mulai jatuh dari sudut matanya, tak tahan memendam rasa bahagia ini.

Siwon memandang lekat sosok di hadapannya yang masih menangis. Lama Siwon memandanginya, tanpa satu katapun terucap dari bibirnya. Begitu banyak kata yang ingin diucapkan, hingga pada akhirnya ia memilih untuk tak mengucapkan apapun.

Perlahan Siwon membawa tangannya pada wajah Kyunnie yang tampak pucat karena udara dingin, mendekap kedua pipi itu yang sudah basah oleh air mata. Dengan sangat lembut ia mengusapnya, mencoba menghapus setiap tetes air mata yang jatuh dari mata indah itu.

Kemudian Siwon memajukan wajahnya, hingga bibirnya menyentuh dahi Kyunnie, mengecupnya dengan sangat lembut. Meski tak mengatakan apapun, tak apa. Karena kecupan itu telah mewakili seribu kata cinta. Kecupan itu telah cukup untuk menyampaikan perasaan sayangnya pada sosok ini, bahwa betapa ia mencintainya, melebihi apapun di dunia yang begitu luas ini.

.

.

Siwon mengeratkan pelukannya pada sosok Kyunnie yang tengah berada dalam dekapannya.

“Apakah kau masih merasa dingin?”

Tangannya semakin merapatkan selimut tebal yang telah menutupi tubuh keduannya yang kini tengah berbaring di atas kasur.

“Tidak. Ini sangat hangat..”

Kyunnie menggeleng pelan. Tangannya pun turut memeluk Siwon yang tak berhenti mendekapnya erat.

Berpelukan seperti ini, bertukar kehangatan satu sama lain, membuat sebuah perasaan bahagia mekar di hati keduanya, hingga senyuman tak bisa berpaling dari bibir mereka. Dan kini tangan Siwon mulai mengusap surai Kyunnie dengan lembut.

Kyunnie memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut tangan Siwon di kepalanya. Rasanya sangat nyaman, hingga membuatnya ingin terlelap dalam tidur yang damai.

“Daddy..”

Kyunnie kembali membuka matanya.

“Hm?”

Siwon menjawab pelan. Tangannya masih setia mengusap surai Kyunnie, bahkan sesekali ia memberi kecupan di atas kepalanya.

“Apa tidak apa-apa jika aku tinggal di sini bersamamu? Apa kau akan baik-baik saja dengan itu?”

Siwon seketika menghentikan aktivitasnya, terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Kyunnie.

“Mengapa bertanya seperti itu?”

Nada serius terdengar dari suara Siwon. Ia tak paham dengan jalan pikiran Kyunnie. Bukankah ia menginginkan untuk berada di sisinya? Bukankah mereka sudah berjanji untuk selalu bersama? Tapi kenapa saat ini ia malah bertanya seperti itu?

“A-aku.. hanya tidak ingin membuatmu berada dalam masalah..”

Suara Kyunnie terdengar sangat pelan, bahkan hampir tak terdengar. Karena ia sebenarnya juga ragu untuk mempertanyakan semua itu. Ia sebenarnya ingin mencoba untuk berpura-pura tak tahu saja, karena tak peduli apapun ia hanya ingin bersama sosok itu. Tapi bagaimanapun jug, ia tak bisa bersikap egois seperti itu.

“Kyunnie..”

Siwon menyebut nama Kyunnie dengan lembut. Tangannya semakin erat memeluk tubuh Kyunnie, membawa tubuh itu semakin terbenam dalam dekapannya.

“Jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu tak nyaman..”

Sosok itu, sosok yang tengah berada dalam pelukannya, bagaimana bisa ia berpikir serumit itu?  Berpikir jika ia akan menyusahkannya, mendatangkan masalah baginya, bagaimana mungkin ia berpikir seperti itu? Tapi Kyunnie yang berpikir seperti itu pun terlihat sangat manis di mata Siwon, hingga membuatnya tak bisa menahan senyuman untuk tidak melengkung di bibir tipisnya.

“Tidak peduli apapun yang terjadi.. Kita akan selalu seperti ini.. Berpelukan erat seperti ini.. Lalu bergandengan tangan seperti ini..”

Siwon menggenggam tangan Kyunnie erat dan mengangkatnya di udara.

“Makan bersama, bermain bersama, bernyanyi bersama, dan tertawa bersama.. Kita akan melakukan semua hal itu bersama-sama..”

Sebuah senyum lebar pun menghiasi wajah Siwon tatkala membayangkan mereka akan melakukan banyak hal menyenangkan, menghabiskan waktu bersama, tanpa peduli pada waktu yang terus berlalu meninggalkan mereka, tanpa mengkhawatirkan apapun juga.

“Tidak hanya itu.. Kita bahkan akan bersedih bersama.. dan menangis bersama..”

Kyunnie pun tersenyum dengan sangat manisnya. Mendengar Siwon berkata seperti itu, membuatnya sangat tenang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi jika begitu. Karena Siwon sendiri yang sudah mengatakannya, bahwa mereka akan selalu bersama-sama.

.

.

“Kyunnie.. di luar sangat dingin.. Kau harus mengenakan ini..”

Siwon mengalungkan sebuah syal rajut pada leher Kyunnie.

“Aku tidak mau kau kedinginan..”

Siwon menatap Kyunnie dengan senyuman lembut di bibirnya, sebelum akhirnya menarik tangan Kyunnie pelan, membawanya masuk ke dalam mobil.

Siwon melajukan mobilnya dengan pelan. Matanya sesekali melirik Kyunnie yang duduk di sampingnya. Siwon pun  tersenyum mendapati ekspresi senang menghiasi wajah manis Kyunnie. Mata indahnya berbinar mengamati pemandangan di luar jendela. Dan tak bisa dipungkiri, bahwa Siwon juga sangat senang. Ia sangat bahagia.

Hari ini akan menjadi hari yang luar biasa, karena keduanya akan menghabiskan waktu bersama, mengunjungi tempat-tempat istimewa. Mereka akan pergi ke kebun binatang, melihat beberapa hewan yang menggemaskan. Mereka akan melihat pinguin yang berjalan kesana kemari dengan lucunya, memberi makan jerapah, atau menyaksikan anak-anak beruang yang bermain dengan penuh ceria.

Lalu mereka akan pergi ke taman hiburan, mencoba semua permainan yang ada. Mereka akan naik komidi putar, duduk berdampingan di atas kuda berwarna putih. Mereka juga akan naik bianglala, hanya berdua di dalam sebuah keranjang warna-warni, duduk berhadap-hadapan, saling memandang satu sama lain. Tidak lupa membeli permen kapas, memakannya bersama sambil bergandengan tangan.

Meski sudah lelah, mereka tak akan berhenti. Mereka akan melanjutkan perjalanan mereka yang menyenangkan ini. Mereka akan pergi ke taman impian, menonton film di bioskop, makan di restoran, atau bermain game di game center, dan masih banyak lagi. Mereka akan terus bersama-sama, menghabiskan waktu dengan semua hal-hal menyenangkan itu, tak peduli jika waktu terus berputar, bahkan tak peduli jika besok dunia ini akan berakhir.

.

.

Hari sudah mulai senja. Matahari sudah hampir tenggelam.

Tapi Siwon masih berdiri di sana, di atas hamparan pasir putih, memandangi sosok Kyunnie dari kejauhan yang tengah berlari riang menyapa laut yang bergelombang tenang.

“Kyunnie..! Pakai sepatumu!! Kakimu bisa terluka!!!”

Siwon berteriak kencang, berharap agar Kyunnie mendengarkan perkataannya. Melihat Kyunnie melepas sepatunya dan berlari ke sana-kemari tanpa alas kaki, membuat Siwon sangat khawatir. Tapi ia hanya bisa mendapati Kyunnie sama sekali tak menurutinya.

“Aku bukan anak kecil lagi, Daddy~..!!!”

Kyunnie membalikkan tubuhnya, menghadap Siwon yang masih memandangnya dengan penuh rasa cemas. Senyuman lebar menghiasi wajah Kyunnie, seolah mengatakan bahwa Siwon tak perlu terlalu mengkhawatirkannya seperti itu.

“Ooh!.. Dingin sekali..!!”

Kyunnie berjengit saat ombak menyapu kakinya pelan, terkejut akan rasa dingin yang tiba-tiba menyentuhnya. Kyunnie benar-benar menggemaskan dan Siwon hanya bisa tertawa melihat tingkahnya itu, membuat perasaan khawatir di dalam hatinya menghilang seketika.

“Daddy~..!! Kemarilah~..!!! Aku menemukan bayi kura-kura! Ada banyak sekali di sini~..!!”

Siwon tersenyum pada Kyunnie yang melambai-lambai padanya. Ia pun berjalan mendekatinya.

“Mereka sangat lucu kan, Daddy~..”

Siwon mengangguk pelan, sambil tersenyum lembut. Ia teringat bahwa dulu ia dan Kyunnie sering mengungjungi pantai ini dan menemukan bayi kura-kura. Rasanya sudah lama sekali. Tapi sekarang Siwon bisa merasakannya lagi, mengalami kembali apa yang pernah menjadi kenangan indah di masa lalu. Kini itu bukan hanya sebuah kenangan, tapi sebuah peristiwa yang akan terus terjadi hingga waktu-waktu yang akan datang.

Keduanya masih memandangi sekumpulan bayi kura-kura yang berjalan beriringan menuju laut. Kaki-kaki mungil mereka merayap dengan tak sabar, seakan ingin segera menyambut godaan sang ombak.

“Jaga diri kalian.. Kalian tahu kan, dunia ini sangat kejam..”

Kyunnie berucap pelan, matanya masih lekat memandang bayi kura-kura yang sudah terbawa ombak dengan bahagia.

Sementara Siwon, matanya kini menatap lekat sosok Kyunnie yang berdiri di sampingnya. Siwon bisa melihatnya, sebuah luka di dalam bola mata itu.

Luka itu, menggambarkan sebuah kepedihan yang teramat sangat. Luka itu, telah tertoreh dalam waktu yang begitu lama, hingga luka itu mungkin sudah tak terperihkan lagi. Maka jika luka itu pun tak segera memudar, sosok itu pasti akan hancur. Dan demi apapun juga, Siwon tak akan membiarkan itu terjadi.

“Kyunnie.. kemarilah..”

Siwon menarik pelan tangan Kyunnie, membawanya bersamanya, duduk di atas pasir putih, bersama memandang langit senja.

“Mari bersama-sama melihat matahari terbenam ..”

Siwon tersenyum lembut pada Kyunnie yang juga tersenyum padanya.

.

.

Matahari bergerak pelan, semakin tenggelam dalam birunya laut, membiaskan warna kuning kemerahan pada langit senja. Indah sekali. Tapi Siwon mengabaikan semua itu. Karena kini mata Siwon terperangkap pada sosok Kyunnie yang terpana akan keindahan matahari terbenam yang tercipta di hadapannya.  Siwon mengamati lekat wajah Kyunnie. Warna langit senja terbias di wajah manis itu, membuatnya jauh lebih indah bahkan dari seribu langit senja. Wajah itu begitu syahdu, dengan matanya yang bersinar sendu. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tipis, yang bahkan mampu mengalahkan kehangatan sinar mentari yang menyinari alam raya. Dan Siwon melihat semua keindahan itu tepat di hadapannya, bahkan hanya beberapa jengkal dari matanya.

Saat itu Tuhan mungkin tengah sangat berbahagia, hingga dengan begitu kuasa-Nya menciptakan manusia sesempurna ini. Begitu sempurna, hingga tak ada satu pun titik kesalahan yang bisa ditemukan pada sosoknya.

Tapi meskipun demikian, di sana, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang tak bisa dilihat siapapun. Sebuah luka telah terukir dengan kejam di sana, hingga membuat mata syahdunya harus menitikkan air mata kesedihan, dan wajah indahnya harus dihiasi oleh senyum kepedihan.

Siwon bisa melihatnya, merasakannya. Karena ia sendiri lah yang telah menggoreskan luka itu.

“Maafkan aku..”

Siwon berbisik pelan di antara suara ombak yang menyapu pasir dengan lembut.

“Untuk apa?”

Kyunnie mengalihkan pandangannya pada sosok Siwon yang menatapnya lekat dengan mata yang memendam seribu kata maaf.

“Segalanya..”

Pandangan Siwon semakin lekat pada kedua mata Kyunnie, seakan hendak menyerap semua luka itu hingga Kyunnie tak lagi merasakan sakitnya.

“Jangan katakan itu.. Aku tidak suka mendengarnya..”

Siwon sedikit terkejut mendapati ucapan Kyunnie yang terdengar dingin, namun Siwon bisa merasakan getir kesedihan dalam nada suaranya.

“Bisakah kau mengatakan kata-kata yang lain? Kata-kata yang jauh lebih indah jika didengar..”

Siwon terdiam. ‘Kata-kata yang jauh lebih indah’?

“Katakanlah.. Aku sudah menantimu untuk mengatakannya..”

Kyunnie mamandang lekat Siwon yang masih terdiam membisu. Matanya memancarkan sebuah harapan yang memaksa untuk segera terpenuhi. Karena ia sudah menantinya begitu lama, bahkan hingga membuatnya tak berdaya lagi.

Tapi Siwon masih tak mengatakan apapun. Ia masih setia dalam diam. Meski ia sudah tahu betul apa ‘kata-kata yang jauh lebih indah’ itu. Karena ia sendiri juga telah menanti begitu lama untuk mengatakannya. Ia sudah menyimpan kata-kata itu di dalam hatinya selama hampir sepuluh tahun lamanya, menanti waktu dimana ia bisa akan mengatakannya pada sosok itu. Tapi ia sudah terlalu lama menunggu, hingga pada akhirnya lidahnya menjadi kelu. Kalimat itu menjadi terlalu asing untuk diucapkan.

Namun dengan segala keteguhan hati dan keyakinannya, Siwon mencoba untuk menenangkan dirinya. Dan pada akhirnya, kata-kata itu pun perlahan terucap dari bibirnya.

“Aku mencintaimu..”

Untuk sesaat, semuah hanya hening. Laut seakan membisu, bahkan suara angin yang berhembus pelan tak lagi terdengar.

Air mata mulai menggenang di mata Kyunnie. Sudah sepuluh tahun lamanya ia tak mendengar kata-kata itu. Sudah lama sekali. Tapi sekarang, ia mendengarnya dengan jelas, bahkan sangat jelas hingga kata-kata itu seakan masih menggema di telinganya. Dan itu membuatnya sangat bahagia. Sungguh, hatinya bahkan tak mampu menampung perasaan bahagia ini, hingga air matanya pun tak lagi tertahan, dan kemudian jatuh membasahi wajahnya.

“A-aku..juga mencintaimu.. s-sangat mencintaimu.. melebihi apapun..”

Siwon menatap lembut Kyunnie yang menangis. Tapi kali ini ia tak mencoba mengusap air mata yang tak berhenti mengalir dari mata indah Kyunnie. Biarlah, biarlah ia menangis seperti itu. Biarlah air mata itu jatuh bebas. Karena air mata itu adalah air mata bahagia, yang bisa menghapus segala kepedihan yang pernah dirasakan oleh sosok itu. Karena hanya rasa bahagia yang bisa menghapus rasa sakit itu. Hanya perasaan cinta yang bisa mengobati luka itu.

Siwon masih setia menatap Kyunnie yang masih tenggelam dalam air mata bahagia. Semakin lekat menatap sosok itu, semakin ia menyadari bahwa betapa besar cintanya untuk sosok itu. Cintanya ini begitu besar hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, bahkan jika laut yang begitu luas ini adalah tinta untuk menuliskan betapa ia mencintai sosoknya, itu pun masih tak cukup. Karena ia terlalu mencintainya, hingga membuatnya ingin mati.

Perlahan Siwon menyentuh wajah Kyunnie. Lalu dengan sedikit ragu, Siwon mendekatkan wajahnya, dan dengan sangat lembut dikecupnya bibir itu. Begitu lembut, seakan tak ingin melukainya. Tak ada nafsu di sana, hanya ada sebuah cinta kasih yang tak bisa dijelaskan secara logika. Tak ada hasrat apapun, selain hanya ingin menyampaikan perasaan cinta yang tak cukup diungkapkan melalui kata-kata.

Mereka berciuman, di hadapan lautan yang terdiam membisu, di bawah langit senja yang semakin memamerkan warna kemerahannya, disaksikan sang surya terbenam.

Mereka berciuman, menantang kekejaman sang takdir yang telah memisahkan mereka hingga mereka harus terluka.

Semakin dalam bibir Siwon mencium Kyunnie yang hanya bisa diam menerima sentuhannya, seiring dengan semakin tenggelamnya sanga surya, tak menghiraukan pasir putih yang menatap iri, mengabaikan opini langit yang menyangsikan keputusannya, bahkan ia hanya ingin berpura-pura tak tahu jika Tuhan mungkin tak mengizinkannya.

Karena ia hanya terlalui mencintai sosok itu.

.

.

.

TBC


 

Note:

Ahh.. akhirnya bisa publish juga chapter ini.. leganyaaa ^^

Saya bisa menebak gimana reaksi para readers saat baca chapter ini, apalagi pada bagian terakhir kekeke XD

Tapi saya ingin menegaskan satu hal di sini:

“Saya tidak dan tidak akan pernah mengubah cinta di antara Kyunnie dan Siwon. Cinta mereka akan tetap sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Hanya saja cinta itu semakin besar, hingga membuat mereka terlihat semakin dekat. Adegan romantis di antara mereka saat ini tak berbeda dari adegan penuh kasih sayang yang dulu selalu Siwon tunjukkan pada Kyunnie kecil, namun yang mungkin terlihat berbeda adalah karena saat ini Kyunnie bukanlah anak kecil berusia 6 atau 7 tahun lagi, melainkan seorang anak remaja berusia 17 tahun, hingga membuat cara berbicaranya pun berubah, tak lagi seperti anak kecil yang terlihat manja pada Ayahnya. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa cinta ini bukanlah hanya sekedar cinta romantis yang terjalin di antara dua manusia yang saling jatuh cinta, melainkan jauh lebih indah dan jauh lebih tulus daripada itu, seperti dua buah jiwa yang selalu ingin hidup bersama dan tak ingin terpisahkan. Tapi saya juga tidak bisa memaksa pembaca untuk memiliki  cara pandang yang sama seperti saya. Kalian berhak memahami dan mengartikan cinta ini dengan sudut pandang kalian masing-masing. Tak peduli apakah kalian akan memaknainya sebagai sebuah cinta seorang ayah kepada anaknya atau sebuah cinta sepasang kekasih. Karena yang terpenting adalah kalian bisa memahami betapa besar cinta di antara keduanya.”

Maaf kalau saya sudah terlalu banyak bicara. Saya hanya tidak ingin mengecewakan pembaca setia saya. Karena kalian semua sangatlah berarti bagi saya. I’m nothing without you my beloved readers 🙂

Terima kasih ^^

I love you all so much and take care ~

 

 

Daddy Don’t Cry – Chapter 14


Daddy Don't Cry - by ikhakyu

Siwon terdiam terpaku. Tubuhnya membeku, tak bisa bergerak. Ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Dan jantungnya pun seolah berhenti berdetak. Matanya menatap lekat sesosok lelaki yang berdiri di ujung jalan dengan pandangan tak percaya. Sosok itu, demi apapun juga, Siwon begitu merindukannya.

Sudah sepuluh tahun lamanya. Itu bukan waktu yang singkat, bahkan terasa seakan seribu tahun baginya. Tapi kini sosok itu ada di sini, tepat di hadapannya. Ini bukan mimpi, kan? Ini benar-benar nyata, kan?

Siwon masih berdiri diam. Ia takut jika pada kenyataannya ia hanya tengah bermimpi. Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh imajinasinya yang tak pernah berhenti mengkhianatinya. Ia sudah terlalu sakit untuk kembali terluka.

Tapi kaki Siwon mulai melangkah pelan. Kaki-kakinya itu seolah bergerak sendiri tanpa bisa ia sadari. Hingga akhirnya ia hanya berjarak beberapa langkah dari sosok itu.

Pandangan Siwon masih tak lepas darinya, mengamatinya dengan begitu seksama. Surainya yang berwarna karamel kecoklatan tampak begitu halus saat angin meniupnya pelan. Kedua mata indahnya bersinar begitu sendu. Indah sekali.

‘Kau sudah tumbuh besar, Kyunnie..’

Siwon tersenyum. Kyunnie kecilnya sudah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan sekarang. Waktu memang benar-benar menakjubkan. Waktu bisa mengubah apapun. Sosok yang ia lihat di hadapannya ini dahulu hanyalah seorang anak kecil yang begitu mungil yang bahkan tak tahu bagaimana caranya menggosok gigi atau mengikat tali sepatu, tapi sekarang semua sudah berubah.

Benar. Semua sudah berubah. Dan mungkin hatinya pun sudah berubah.

Tapi Siwon tidak peduli. Ia tak peduli jika waktu telah mengubah segalanya. Karena di sini, Siwon tidak berubah. Hatinya, cintanya, tak ada yang berubah. Waktu tak cukup tangguh untuk menaklukkan betapa besar cintanya. Ia masih terlalu mencintai sosok itu.

Siwon sudah tidak bisa menahan diri lagi. Rasa rindunya begitu hebat. Rasa rindu yang selama ini telah menggerogoti hati dan pikirannya, kini bahkan semakin dasyat hingga membuatnya ingin mati.

Dan seketika itu juga, tanpa peduli lagi, tanpa memikirkan apapun lagi, Siwon menarik sosok itu ke dalam dekapannya. Tangannya merangkulnya dengan sangat erat, begitu eratnya seakan tak akan ingin membiarkannya pergi.

Siwon berjanji, ia tak akan pernah melepaskan sosok itu lagi. Ia tak akan melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang ia lakukan sepuluh tahun yang lalu, sekalipun Tuhan tak mengizinkannya.

Air mata jatuh perlahan dari sudut mata Siwon. Air mata ini, yang sudah menyimpan ribuan luka dan lara, kini mengalir bebas, berganti menjadi serbuk-serbuk kebahagiaan yang Siwon rasakan bersemi di hatinya.

“Kyunnie.. kau sudah pulang..”

.

.

Kyunnie berjalan masuk ke dalam rumah yang tampak begitu besar yang dahulu pernah menjadi rumahnya. ‘Rumahnya’? Ah..dia terlalu percaya diri mengatakan itu. Mungkin dulu, sepuluh tahun yang lalu, rumah ini memang menjadi rumahnya dan Siwon. Tapi sekarang, apa ia masih pantas menganggap seperti itu? Ia bahkan dengan gamblangnya masih memanggil Siwon ‘Daddy’, padahal sejak sepuluh tahun yang lalu, Siwon bukan lagi Daddy nya. Ah, tidak.. Sejak awal pun Siwon memang bukanlah Daddy nya. Untuk itu, apa ia masih boleh mengucapkan kata itu? Apa tidak apa-apa jika ia memanggil Siwon seperti itu?

Kini Siwon tengah membimbing Kyunnie menuju sebuah kamar. Kyunnie mengikutinya dari belakang, sambil menatap punggung Siwon dengan lekat. Punggung itu terlihat begitu tegap dan hangat. Namun Kyunnie tak ingat, apa punggung Siwon memang sudah seperti itu sejak dulu. Ia sudah lupa.

Bahkan saat Kyunnie mengalihkan pandangannya ke sekitar ruangan di dalam rumah itu, ia merasa sangat asing. Entah apakah karena dekorasinya yang berubah, atau sebenarnya tak ada yang berubah sama sekali, melainkan ia yang tak bisa mengingatnya dengan baik.

“Kyunnie.. kau bisa istirahat di sini..”

Ucap Siwon saat membuka pintu sebuah kamar, dan mempersilahkan Kyunnie untuk masuk ke dalamnya. Tapi, Kyunnie seketika tampak terkejut ketika melihat ruangan tersebut.

“Apa kau merasa tak nyaman dengan ruangan ini?”

Siwon bertanya dengan khawatir saat mendapati ekspresi Kyunnie.

“Ah..t-tidak.. tidak apa-apa. Ini sangat nyaman.”

Kyunnie segera mengubah ekspresinya, dan memberi senyuman kecil pada Siwon. Sebenarnya, ia bukannya merasa tak nyaman. Hanya saja, ia sedikit tak menyangka jika Siwon akan membawanya ke kamar ini. Ia pikir Siwon akan membawanya ke ruangan itu. ‘Ruangan itu’? Kyunnie seketika mengutuk pikirannya yang kembali mengacau. Mana mungkin Siwon masih menyimpan ‘ruangan itu’. Itu sama sekali hal yang mustahil.

“Kalau begitu, istirahatlah.. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu. Kau datang pagi-pagi sekali. Kau pasti belum sarapan, kan?”

Siwon tersenyum lembut, yang kemudian mendapat balasan berupa anggukan pelan dari Kyunnie. Siwon pun membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi, namun tiba-tiba terdengar suara Kyunnie memanggilnya.

“Daddy..”

Seketika itu, Siwon kembali membalikkan tubuhnya.

“Ada apa?”

Matanya menatap lekat Kyunnie yang tampak ragu mengucapkan sesuatu.

“T-tidak ada..”

Siwon pun tampak bingung. Melihat Kyunnie yang seperti menyimpan sesuatu yang begitu ingin ia bicarakan padanya, membuat Siwon khawatir. Tapi ia tak bisa memaksa Kyunnie untuk mengatakannya.

“Baiklah.. Aku akan memanggilmu jika sarapannya sudah siap.”

Tanpa menunggu respon dari Kyunnie, Siwon segera meninggalkannya menuju dapur.

Sementara itu, Kyunnie hanya menatap kepergian Siwon dengan pandangan yang tak bisa digambarkan. Ada sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan pada Siwon. Pertanyaan ini, ia sudah menyimpannya selama sepuluh tahun. Dan ia sudah tak mampu lagi untuk terus menyimpannya. Ia harus segera mendapatkan jawabannya. Jika tidak, maka ia akan semakin terluka.

.

.

Siwon dan Kyunnie tengah menikmati sarapan bersama. Tapi suasana di antara keduanya terasa hening. Keduanya hanya saling diam. Ini pasti karena mereka sudah tak bertemu untuk waktu yang sangat lama. Maka dari itu, mereka masih merasa canggung satu sama lain.

Siwon mengamati Kyunnie yang tengah menyantap makanan di hadapannya. Siwon pun tersenyum saat mengingat bagaimana dulu Kyunnie makan dengan sangat berantakan. Ia bahkan harus turun tangan membersihkan mulut Kyunnie yang sangat belepotan. Tapi sekarang, Kyunnie nya bukan anak kecil lagi, Siwon tak lagi menemukan noda makanan yang menempel di bibir atau pipinya.

Tapi kemudian Siwon terkejut saat melihat sebuah piring yang berisi telur mata sapi sama sekali tak tersentuh. Sepertinya Kyunnie tak tertarik untuk memakannya.

“Kyunnie.. apa kau tidak memakan telurnya?”

Kyunnie seketika mengangkat kepalanya dan menatap Siwon saat mendapati pria tersebut bertanya padanya.

“Apa kau tidak menyukainya? Tapi dulu.. itu adalah makanan favoritmu. Kau selalu memintaku untuk memasaknya untukmu.”

Kyunnie terdiam mendengar ucapan Siwon. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Melihat Kyunnie yang hanya diam saja, Siwon pun kembali bertanya.

“Apa kau tidak mengingatnya?”

Kyunnie tiba-tiba tersentak. Tapi kemudian, ia menjawab dengan pelan sambil menundukkan pandangannya.

“T-tidak. Aku..tidak ingat..”

Mendengar jawaban Kyunnie, Siwon merasa sangat kecewa. Tapi kenapa ia harus kecewa? Bukankah sangat wajar jika Kyunnie sudah tak mengingatnya. Itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Dan saat itu Kyunnie masih begitu kecil.

Namun, meskipun Siwon sadar betul bahwa Kyunnie mungkin sudah lupa semuanya, ia masih berharap bahwa mungkin saja Kyunnie masih mengingat beberapa hal yang pernah mereka lalui bersama. Karena itu adalah kenangan yang sangat berharga. Kyunnie tidak mungkin melupakannya begitu saja.

“Dulu kau selalu kesulitan memotong daging saat aku memasak steak untuk makan malam. Jadi kau selalu memintaku untuk memotongnya menjadi bagian-bagian kecil.”

Kyunnie masih diam saja mendengarkan Siwon yang terus berbicara.

“Dan apa kau ingat, kau begitu senang naik kuda. Kau sering memintaku untuk berpura-pura menjadi kuda, dan kau akan menaikki punggungku, lalu menyuruhku untuk membawamu mengelilingi rumah. Saat itu kau mungkin tidak sadar kalau rumah ini sangatlah besar, sampai-sampai punggungku sakit sekali rasanya.”

Siwon pun tertawa tatkala mengingat semua kejadian lucu itu. Tapi Kyunnie masih tak mengatakan apapun. Dan hal itu membuat hati Siwon sakit. Karena ia sangat berharap bahwa Kyunnie tak melupakan semua kenangan itu. Setidaknya dari semua kenangan indah yang telah mereka lewati bersama, satu saja yang berbekas di ingatannya. Karena jika tidak, Siwon akan sangat terluka.

“Kau juga tak akan bisa tidur sebelum dibacakan dongeng atau kau akan memintaku untuk menyanyikan lagu pengantar tidur. Apa kau mengingatnya, Kyunnie? Dan kau akan berteriak marah lirikku salah atau nadaku terdengar sumbang.”

Tanpa mempedulikan Kyunnie yang mulai terlihat bingung, Siwon terus saja meracau. Bahkan semakin Siwon menguak semua memori itu, Kyunnie pun menjadi panik. Ia sama sekali tak bisa mengingat semua yang dikatakan Siwon. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengingatnya, ia tetap tak bisa. Dan itu membuatnya semakin panik.

Tapi Siwon tetap melanjutkan ucapannya.

“Lalu sebelum terlelap, kau akan memberiku kecupan selamat malam. Apa kau ingat itu, Kyunnie?”

Sungguh, Kyunnie sudah tidak bisa menahannya lagi.

“Hentikan..!!!”

Tiba-tiba Kyunnie berteriak. Dan itu berhasil membuat Siwon terdiam. Namun, Siwon semakin terkejut saat melihat kedua mata Kyunnie yang sudah tampak berair karena air mata.

Namun, belum sempat Siwon mengatakan apapun, Kyunnie sudah berlari meninggalkannya.

.

.

Kyunnie tersengal. Nafasnya tak beraturan. Ia sudah berlari dengan kencang. Entah kenapa ia melakukan itu, meninggalkan Siwon begitu saja. Ia paham, ia tak seharusnya melakukan itu. Tapi, Kyunnie tak bisa menahannya lagi. Hatinya terlalu perih. Bagaimana mungkin ia tak bisa mengingatnya? Bagaimana bisa semua kenangan itu terhapus dari ingatannya?

Kyunnie mencoba mengatur nafasnya, dan ia pun menatap sekitarnya. Ternyata, ia ada di halaman belakang. Ia tanpa sadar sudah berlari ke sana. Kyunnie mengamati semua yang tampak di hadapannya. Begitu banyak pohon cherry yang tumbuh di sana, tapi ini musim gugur, Kyunnie tak bisa melihat bunga-bunga berwarna merah mudanya mekar. Dan entah kenapa hal itu membuat hatinya semakin perih.

“Kyunnie..”

Kyunnie tahu suara Siwon yang memanggilnya. Tapi ia tak membalikkan tubuhnya untuk melihat Siwon yang ia tahu telah berada di belakangnya. Ia tak mampu melakukannya, ia tak sanggup melihat pria itu.

“M-maafkan aku.. Aku hanya-..”

Siwon tak bisa melanjutkan kalimatnya sendiri. Ia merasa hatinya sangat sakit. Kenapa seperti ini? Mereka akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama terpisah, dan seharusnya mereka menikmati semua suasana membahagiaan ini, melepas kerinduan yang sudah tak terbendung lagi. Tapi ia malah menghancurkan semuanya. Ia malah melukai sosoknya yang sudah lama pergi dari sisinya.

Namun, kemudian Siwon mendengar Kyunnie berkata padanya. Tapi kata-kata yang keluar dari bibir Kyunnie membuatnya terkejut bukan main.

“Kenapa kau melepaskanku?”

Siwon terdiam, tak bisa berkutik. Ia merasakan tubuhnya menegang seketika. Inilah yang Siwon takutkan. Selama ini, pertanyaan itulah yang menjadi ketakutannya. Ia sangat takut jika suatu saat Kyunnie akan melontarkan pertanyaan itu. Dan benar saja, ketakutannya itu benar-benar terjadi.

“Sepuluh tahun yang lalu.. Kenapa kau membiarkanku pergi?”

Kyunnie membalikkan tubuhnya, menatap Siwon dengan begitu lekat. Ia sudah begitu lama memendam pertanyaan ini. Ia sudah menyimpannya baik-baik di dalam hatinya, berharap suatu hari ia akan mendapatkan jawabannya. Dan hari itu telah tiba. Di sini, tepat di depan Siwon, ia telah melontarkan pertanyaan itu.

“A-aku.. sebenarnya saat itu, aku juga tak ingin melepaskanmu..”

Siwon mencoba mengumpulkan semua keberaniannya, menghadapi apa yang menjadi ketakutan terbesarnya selama ini.

“Lalu.. kenapa kau tidak menahanku?”

Siwon tercekat mendengarnya. Benar apa yang dikatakan Kyunnie. Kenapa saat itu ia tak menahannya?

“A-aku.. tidak bisa..”

Siwon berkata pelan. Ia pun menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Kyunnie yang seakan begitu dalam hingga menembus jauh ke dalam hatinya.

“Kenapa? Apa karena kau tak ingin bersamaku?”

Siwon seketika melebarkan matanya. Ia tak menyangka jika Kyunnie akan mengatakan hal itu.

“Kyunnie..?! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?!”

Suara Siwon mulai terdengar meninggi. Ia sangat tidak bisa terima dengan apa yang baru saja diucapkan Kyunnie. Karena itu sama sekali tidak benar.

“Lalu kenapa?!!!”

Kyunnie berteriak kencang, dan itu membuat Siwon sangat terkejut. Mungkin memang benar jika waktu bisa mengubah semuanya. Karena seingat Siwon, Kyunnie nya yang dulu tak pernah berteriak seperti itu padanya. Dan itu membuat Siwon sangat kecewa.

Tapi Siwon mengerti, Kyunnie pasti sangat marah. Ia pasti sangat terluka. Untuk itu, sudah sewajarnya jika Kyunnie berpendapat bahwa Siwon telah mencampakkannya.

“Saat itu.. Keluargamu datang untuk membawamu tinggal bersama. Aku tidak bisa menolaknya. Aku sama sekali tak punya hak untuk menahanmu. Dan jika aku tetap memaksa, maka aku adalah orang yang sangat egois.”

Siwon berkata dengan sangat pelan, berharap jika sosok di hadapannya ini akan memahaminya dan memaafkannya yang sudah begitu berdosa ini.

“Kau sudah menjadi orang yang sangat egois.”

Kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Kyunnie kembali mengejutkan Siwon.

“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri.”

Siwon benar-benar tak percaya pada ucapan Kyunnie.

“Lalu.. bagaimana denganku?”

Siwon terdiam. Lidahnya seakan kelu, hingga ia tak bisa berbicara apapun.

“Apa kau tahu.. aku sangat menderita.”

Siwon semakin terkejut tatkala mendapati air mata mulai jatuh perlahan membasahi pipi Kyunnie. Dan seketika itu juga hatinya hancur dan sangat terluka.

“Saat tahun-tahun pertama, aku selalu menangis. Aku memanggil-manggil namamu, berharap kau akan datang. Tapi kau tak datang. Kau tak pernah datang. Hingga tahun-tahun berlalu, dan semua ingatan tentang dirimu mulai memudar. Wajahmu, senyummu, suaramu, semua itu mulai hilang secara perlahan. Untuk itu, setiap malamanya sebelum tidur, aku akan berusaha mengingat semua itu kembali. Lalu pagi harinya saat aku terbangun, aku kembali mencoba untuk mengingatnya. Bagaimana kau tersenyum padaku, bagaimana suaramu yang begitu lembutnya memanggil namaku, bagaimana rasa hangat saat kau memelukku, aku mencoba mengingatnya dengan keras. Karena jika tidak, aku benar-benar akan melupakan semua itu. Dan itu membuatku takut, sangat takut.”

Kyunnie menangis pedih. Hatinya sangat perih tatkala ia mengingat bagaimana ia dengan bersusah payahnya melakukan semua itu setiap harinya. Dan bagaimana ia menderita sendirian, hanya seorang diri.

“Kau..sangat kejam, Daddy..”

Siwon tak tahan lagi. Ia tak sanggup mendengar Kyunnie mengatakan semua hal menyakitkan itu. Ia pun segera memeluk Kyunnie dengan sangat erat. Merangkulnya dengan segala penyesalannya atas semua kesalahan yang telah ia lakukan hingga membuat sosok yang sangat berharga baginya ini menderita. Demi apapun juga, Siwon tak akan memafkan dirinya sendiri.

Siwon merasakan tubuh Kyunnie bergetar hebat, dan ia masih belum berhenti menangis, membuat Siwon rasanya ingin mati. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain memeluknya erat, sambil mengucapkan sebuah kata yang bahkan mungkin tak pantas diucapkan oleh seorang pendosa sepertinya.

Tapi, ia tetap mengatakannya. Ia mengucapkan kata itu berulang-ulang seperti mantra. Kata itu terus terucap dari bibirnya di sela rintihan pemuda yang menangis dalam dekapannya.

“Maaf..”

“Maaf..”

“Maaf..”

.

.

Malam ini hening. Begitu hening, hingga suara angin yang bertiup pelan pun terdengar. Bulan pun hanya diam, seakan pasrah pada malam yang merangkulnya.

Dan di sana, di atas kasurnya yang berukuran raksasa, Siwon merebahkan tubuhnya. Ia sangat lelah. Apa yang telah terjadi benar-benar menguras seluruh energinya, membuatnya begitu letih. Menyaksikan bagaimana Kyunnie menangis terluka di hadapannya, dan mendengar semua hal menyakitkan darinya, membuat Siwon frustasi. Benar apa yang dikatakan Kyunnie, ia sangatlah kejam. Saat itu Kyunnie masih begitu kecil, tapi ia sudah harus melewati masa-masa sulit seperti itu. Siwon bahkan tak bisa membayangkan bagaimana Kyunnie berusaha mengingat dirinya setiap malamnya. Seketika itu pun air mata kembali menggenang di matanya, membuat pandangannya kabur. Tapi ia segera mengusap matanya, menghapus semua air mata itu.

Ia tak berhak menangis. Karena Kyunnie lah yang paling menderita. Dan itu semua karena diriny, ia sadar betul akan hal itu. Ia pun tak meminta Kyunnie untuk memaafkannya. Karena meski ia mengucap berjuta kata maaf pun, tak akan cukup untuk mengobati hati Kyunnie yang sudah sangat terluka.

Siwon menghela nafasnya yang terasa sesak. Ia mencoba untuk memejamkan matanya, berharap besok semua akan lebih baik.

Namun, baru saja mata Siwon akan terpejam, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Bisakah aku masuk?”

Itu Kyunnie. Ia melongokkan kepalanya dari balik pintu. Dan tentu saja itu membuat Siwon terkejut.

“Y-ya.. masuklah..”

Tanpa menunggu lagi, Kyunnie segera masuk ke dalam kamar Siwon dan berdiri di tepi ranjang tidurnya.

“Apa terjadi sesuatu?”

Siwon menatap Kyunnie dengan khawatir jika telah terjadi sesuatu yang buruk pada Kyunnie.

“Aku.. aku baru saja bermimpi buruk. Dan aku-..”

Kyunnie tampak ragu meneruskan kalimatnya. Tapi Siwon sudah tahu kalimat apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh Kyunnie.

Siwon pun tersenyum.

‘Kau tak berubah sama sekali, Kyunnie..’

Siwon ingat betul bagaimana Kyunnie kecilnya dulu sering melakukan apa yang baru saja Kyunnie lakukan saat ini. Ia yang dengan begitu imutnya akan menyelinap masuk ke dalam kamar Siwon sambil mengatakan bahwa ia telah bermimpi buruk. Siwon sangat senang mengingatnya kembali. Dan saat ini ia seakan kembali ke masa itu.

“Kemarilah..”

Tanpa membuat Kyunnie menunggu lama, Siwon segera mempersilahkan Kyunnie untuk naik ke atas ranjang. Siwon pun segera menggeserkan tubuhnya ke sisi kiri, memberi ruang kosong bagi Kyunnie.

Dan kini keduanya telah berbaring bersebelahan. Namun, meskipun mereka berada di bawah selimut yang sama, ada sebuah jarak yang cukup lebar di antara keduanya, seakan menjadi pembatas di antara keduanya.

Siwon merasa begitu canggung dengan situasi ini. Dulu, ia dan Kyunnie sudah sering seperti ini. Bahkan hampir setiap malam mereka tidur bersebelahan di atas kasur yang sama. Bahkan keduanya saling berpelukan erat hingga mentari pagi membangunkan mereka.

Tapi, kini situasinya berbeda. Kyunnie bukan anak kecil lagi. Apalagi mereka sudah sepuluh tahun tak bertemu, untuk itu Siwon harus bersikap lebih hati-hati. Ia  tidak ingin melakukan hal yang tidak nyaman bagi Kyunnie.

Siwon dan Kyunnie, keduanya pun masih belum memejamkan mata. Mereka masih tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Karena merasa tidak tahan dengan semua kecanggungan ini, Siwon pun berniat untuk mematikan lampu kamarnya. Mungkin dalam keadaan gelap, ia bisa segera memejamkan mata. Dan mengakhiri situasi yang sangat tidak nyaman ini. Namun, saat Siwon hendak mematikan lampu, Kyunnie tiba-tiba menahannya.

“Jangan dimatikan. Aku takut gelap..”

Siwon segera membatalkan niatnya.

‘Ah.. aku lupa.. kau takut gelap..”

Siwon kembali tenggelam dalam pikirannya. Ia ingat bahwa dulu Kyunnie selalu meralarangnya untuk mematikan lampu. Anak itu akan bilang jika monster yang bersembunyi di balik lemari akan keluar dan memakannya. Siwon tersenyum dalam hati. Ternyata Kyunnie yang sekarang masih sama seperti yang dulu ia kenal. Anak ini masih begitu manis. Bahkan sangat manis hingga membuat Siwon begitu ingin memeluknya. Ia ingin sekali merangkul Kyunnie dengan erat, dan tak akan melepaskannya sepanjang malam. Tapi, ia tak bisa begitu saja melakukannya. Karena mungkin saja, Kyunnie tak akan nyaman dengan hal itu.

Siwon yang masih bergelut dalam pikirannya, tak menyadari bahwa Kyunnie sejak tadi memandanginya. Kyunnie ingat bahwa dulu, setiap hendak memejamkan matanya, ia selalu melihat ke sisi samping tempat tidurnya, berharap Siwon ada di sana. Tapi ia tak pernah melihatnya.

Namun kini, ia melihatnya. Sosok itu tengah berbaring di sampingnya. Dan ia tidak sedang bermimpi.

“Daddy..”

Siwon seketika tersadar dari lamunannya dan menolehkan kepalanya ke arah Kyunnie yang masih menatapnya lekat.

“Apakah dulu aku selalu memintamu menyanyikan lagu pengantar tidur?”

Siwon tak begitu mengerti apa maksud Kyunnie sebenarnya menanyakan hal itu. Tapi kemudian ia mengangguk mengiyakan.

“Kalau begitu, nyanyikan satu lagu untukku sekarang..”

Siwon terkejut.

“A-apa?! T-tapi..aku sudah lama tidak bernyanyi.. D-dan..a-aku juga sudah tidak ingat lagi bagaimana liriknya..”

Siwon yang tampak gugup mencoba berdalih.

“Aku tidak peduli.”

Tampaknya Kyunnie tak ingin mendengarkan penolakan Siwon. Dan ia yang begitu keras kepala ini benar-benar seperti Kyunnie kecil yang ada dalam ingatan Siwon. Siwon pun tak punya pilihan lain, sehingga mau tidak mau ia harus menuruti keinginan Kyunnie, karena dari dulu pun ia tak akan pernah menang melawan sosok ini.

Siwon mulai bernyanyi meski liriknya menjadi aneh karena ia tak bisa mengingatnya dengan baik, bahkan suaranya pun terdengar sumbang. Tapi seperti apa yang Kyunnie katakan, ia tak mempedulikan semua itu.

Kyunnie masih tak melepaskan pandangannya pada Siwon yang bersenandung untuknya. Mata indahnya mengamati setiap lekuk wajah Siwon. Dan dalam hatinya ia mengakui bahwa betapa sempurnanya sosok itu.

Kemudian tanpa sadar, Kyunnie mendekatkan tubuhnya pada Siwon. Dekat dan semakin dekat, hingga kini tangannya memeluk erat tubuh itu. Ia tak mengerti mengapa ia melakukan ini, tapi yang ia tahu bahwa ia begitu merindukan sosok ini. Kyunnie sungguh merindukannya hingga tak lagi mampu membendungnya.

Siwon sangat terkejut atas apa yang terjadi. Ia seketika terdiam. Tapi ia sama sekali tak menolak hal itu. Ia tak berniat menjauhkan tubuhnya atau melepaskan tangan Kyunnie yang melingkar di tubuhnya. Ia hanya membiarkan Kyunnie memeluknya dengan erat. Karena ia sendiri tidak bisa memungkiri akan hasrat yang sama, hingga ia pun semakin mendekatkan tubuhnya dalam dekapan Kyunnie.

Siwon melanjutkan senandungnya. Bernyanyi dengan sepenuh hatinya. Kyunnie pun sangat menikmat suara Siwon yang tak begitu merdu itu. Dan tanpa alasan yang jelas, suara itu membuatnya tenang. Begitu tenang hingga ia terlelap dalam tidur yang damai.

Siwon tersenyum. Ia merasakan kehangatan menjalar di sekujur tubuhnya. Kyunnie benar-benar ajaib. Hanya dengan merangkulnya seperti ini telah membuat Siwon merasa sangat hangat. Kehangatan itu begitu dasyat hingga menjalar ke dalam hatinya.

Ini akan menjadi malam yang panjang. Dan setelah sepuluh tahun lamanya, malam ini akan menjadi malam yang paling damai.

Kehangatan ini akan menjadi mimpi terindah dalam tidurnya.

.

.

Kyunnie berlari kecil ke arah pintu depan sambil menggerutu sebal saat mendengar seseorang menekan bel. Ini masih sangat pagi, tapi sudah ada tamu yang datang. Siapa orang yang sangat bodohnya bertamu sepagi ini? Dan karena Siwon sedang mandi, maka ia lah yang harus membukakan pintu.

Saat tiba di pintu depan, Kyunnie pun langsung membukanya, dan seseorang telah berdiri di sana. Namun orang tersebut terkejut tatkala melihat Kyunnie yang ada di balik pintu.

“Aku tidak salah alamat, kan?”

Orang tersebut tampak bingung.

“Siapa kau? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau pembantu baru di sini?”

Kyunnie mengernyitkan dahinya. Ia sama sekali tak mengerti apa maksud ucapan orang tersebut. Kyunnie berpikir bahwa tamu itu hanyalah pria aneh yang telah salah alamat, dan tanpa mempedulikannya Kyunnie pun langsung menutup pintunya kembali. Tapi, pria tersebut segera menahannya.

“Hey..kau benar-benar tidak sopan! Berani sekali kau melakukan ini padaku. Apa kau tidak tahu siapa aku? Jika aku melaporkanmu pada Siwon, kau pasti akan dipe-..”

Pria itu seketika terdiam. Ia bahkan tak menyelesaikan kalimatnya saat merasa seakan ia pernah mengalami situasi seperti ini. Tapi ia tak bisa mengingatnya kapan itu terjadi. Dan saat ia memandang sosok Kyunnie di hadapannya, ia merasakan sesuatu yang tak asing. Ia menatap lekat kedua mata Kyunnie. Pria itu seperti begitu mengenal mata itu, mata bulat yang bersinar sendu. Itu adalah sepasang mata indah yang hanya dimiliki oleh satu orang di dunia ini. Dan ia tahu betul siapa pemiliknya.

“K-kyunnie..?!!!”

Pria tersebut tiba-tiba berteriak histeris sambil melebarkan matanya. Sementara Kyunnie semakin mengernyitkan dahinya. Ia bingung bagaimana bisa pria tersebut mengetahui namanya. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya?

“Oh, Tuhan!! Kau benar-benar Kyunnieeee~..!!!!”

Pria tersebut seketika memeluk Kyunnie erat, namun Kyunnie segera melepaskan pelukannya, dan menjauhkan dirinya dari pria aneh yang membuatnya merasa takut itu.

“Hey..!! Ternyata kau masih hidup~..!!!! Aku tidak menyangka anak nakal sepertimu bisa bertahan hidup selama ini~…!!! Hahahha…!!!”

Pria tersebut tertawa keras. Tapi kata-katanya barusan membuat Kyunnie sebal.

‘Siapa orang ini? Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? ‘anak nakal’? Yang benar saja!’

Tapi sepertinya pria tersebut tidak menyadari bahwa Kyunnie tengah menatapnya dengan pandangan mematikan.

“Kau sudah tumbuh besar~..!!”

Pria tersebut tak berhenti tersenyum lebar. Ia seakan begitu senang. Namun, wajahnya seketika berubah menjadi serius saat mendapati tatapan Kyunnie padanya.

“Hey.. Jangan bilang kau tidak mengingatku..?”

Kyunnie semakin bingung. Ia sama sekali tak bisa mengingat jika ia pernah bertemu dengan pria yang tengah berdiri di hadapannya ini.

“Aku tak akan membuang waktu berhargaku hanya untuk mengingat pria aneh sepertimu.”

Pria itu seketika melebarkan matanya, ia seakan tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Itu benar-benar membuatnya naik darah. Tapi, ia mencoba untuk menahan emosinya, karena jika tidak, ia yakin Kyunnie akan segera musnah dari dunia ini.

‘Oh, Tuhan.. Dia sama sekali tidak berubah.. Dia masih si evil Kyunnie..’

“Ayolah~.. Apa kau benar-benar tidak mengingatku..???”

Pria tersebut tetap bersikeras memaksa Kyunnie untuk mencoba mengingatnya. Tapi Kyunnie tetap tak bisa melakukannya.

“Lihat ini..!! Apa kau ingat sekarang..??”

Pria itu menunjuk wajahnya yang tengah menyengir lebar, memamerkan deretan giginya. Tapi Kyunnie malah semakin menatapnya dengan aneh. Ia berpikir bahwa pria di hadapannya ini mungkin sudah gila. Meski itu membuatnya frustasi, tapi pria tersebut tampaknya masih tak menyerah.

“Bagaimana dengan ‘Monyetnya Dora’? Kau ingat itu?”

Kyunnie kembali mengerutkan alisnya. Ia mencoba berpikir. Dan beberapa detik kemudian, matanya melebar seketika, sepertinya ia sudah mengingatnya.

“P-paman Hyukkie???!!!!!”

Benar sekali. Pria aneh di hadapannya ini adalah Hyukjae.

Keduanya pun langsung berpelukan erat, sambil melompat-lompat girang. Benar-benar terlihat bodoh.

“Apa aku harus mengatakan itu baru kau mengingatku, huh?!”

Hyukjae melepaskan pelukannya sambil menatap Kyunnie dengan pandangan kecewa. Ia benar-benar tidak menyukai julukan yang dulu pernah Kyunnie berikan padanya. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa saat ini ia sangat senang, senang sekali. Karena setelah sekian lama, akhirnya sosok itu kembali.

“Sudah lama sekali..”

Hyukjae tersenyum, sambil menatap Kyunnie lekat.

“Dia sangat merindukanmu..”

Kyunnie hanya diam. Ia tahu siapa yang Hyukjae maksudkan. Dan ucapannya itu membuat hati Kyunnie perih.

“Bagaimana denganmu? Apa kau tidak merindukanku?”

Kyunnie segera mengalihkan pembicaraan, entah kenapa ia tak ingin membahas tentang Siwon saat ini.

“Aku? Merindukanmu?”

Tiba-tiba Hyukjae terkekeh sinis.

“Bagaimana mungkin aku merindukan anak nakal sepertimu? Bagiku kau adalah mimpi buruk. Apa kau tidak ingat dulu kau sering menyembunyikan kunci mobilku? Bahkan kau pernah membuangnya ke dalam toilet!”

Hyukjae tampak kesal, tapi itu hanyalah pura-pura. Ia tak benar-benar kesal. Karena bagaimana pun kesal dan marahnya ia pada Kyunnie, pada akhirnya ia akan selalu memaafkannya. Baginya, Kyunnie terlalu manis untuk dibenci. Dan ia sangat menyayanginya. Meskipun ia tahu rasa sayangnya pada sosok ini tak mampu menandingi rasa sayang Siwon pada Kyunnie. Rasa sayangnya mungkin hanya setitik pasir, sedangkan cinta Siwon adalah sebuah gurun.

“Apa kau ingin melihat sesuatu?”

Kyunnie kembali dibuat bingung oleh Hyukjae.

“Sesuatu?”

.

.

Hyukjae membimbing Kyunnie menuju suatu ruangan, dan seketika itu juga Kyunnie sangat terkejut. Ia sungguh tak percaya pada apa yang dilihatnya saat ini.

‘Ternyata ia masih menyimpan ‘ruangan itu’..”

“Tak ada yang berubah sedikit pun, kan?”

Hyukjae menatap Kyunnie yang mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Tapi Kyunnie tak bisa mengingat dengan jelas apakah semua memang tampak sama sejak dulu. Namun, ia ingat jika semua yang ada di dalam ruangan yang dulu merupakan kamar tidurnya ini berhiaskan beruang teddy. Dan sepertinya, memang tak ada yang berubah.

“Dan kau akan terkejut melihat ini..”

Kyunnie tak begitu paham apa maksud ucapan Hyukjae, tapi ia hanya mengikutinya yang membimbingnya ke sebuah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan sebuah ruangan lain.

Saat masuk ke dalamnya, Kyunnie seketika terpukau melihat begitu banyak pakaian, sepatu, tas, dan barang-barang lainnya menghiasi lemari-lemari raksasa yang menempel di setiap dinding di dalam ruangan tersebut. Semuanya tampak berwarna-warni, meski warna pastel mendominasi sebagian besarnya. Namun, Kyunnie tampak bingung saat melihat pakaiaan-pakaian yang tergantung itu memiliki ukuran yang berbeda-beda. Ada yang sangat kecil, sedang, lalu cukup besar.

“Siwon membeli semua barang ini untukmu..”

Seketika itu, Kyunnie mengalihkan pandangannya ke arah Hyukjae yang baru saja berkata padanya. Kyunnie menatap Hyukjae dengan pandangan tak percaya, seakan memaksanya untuk menjelaskan semua ini.

“Meski ia sama sekali tak tahu berapa ukuran baju atau sepatumu, tapi ia tetap membeli semuanya. Ia akan membeli apa yang menurutnya akan terlihat bagus untukmu.”

Kyunnie masih belum bisa percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya. Ia sungguh tak mengerti mengapa Siwon melakukan semua ini.

“K-kenapa..?”

Kyunnie menatap Hyukjae lekat, kembali memaksanya untuk segera menjawab pertanyaannya.

“Karena ia tak pernah melupakanmu.”

Hati Kyunnie terasa sangat perih mendengar apa yang baru saja diucapkan Hyukjae.

“Ia selalu berharap bahwa suatu hari kau pasti akan kembali, dan kau akan membutuhkan semua ini.”

Sungguh, hati Kyunnie begitu sakit. Ia sudah tak mampu lagi menahannya. Hingga akhirnya, ia pun berlari meninggalkan Hyukjae. Namun, saat ia baru saja keluar, Siwon telah berdiri tepat di hadapannya. Ia pasti sudah mendengar semuanya. Tapi Kyunnie tak tahu harus berkata apa pada Siwon yang menatapnya dengan pandangan khawatir. Ia hanya berlari meninggalkan Siwon.

“Apa yang telah kau lakukan?”

Siwon bertanya pada Hyukjae saat melihatnya baru saja keluar dari ruangan itu.

“Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.”

Hyukjae memberikan senyuman tipis pada Siwon, sebelum akhirnya ia pun melangkah pergi. Tapi sebelum ia benar-benar meninggalkan Siwon, ia kembali berkata.

“Aku rasa kau tak perlu ke kantor hari ini. Aku akan mengurus semuanya.”

Hyukjae akhirnya pergi. Dan Siwon hanya bisa diam memandangi kepergiannya. Ia paham akan maksud sahabatnya itu yang sengaja memberinya kesempatan untuk berbicara dengan Kyunnie, dan menjelaskan semua ini. Ia sudah sangat paham dengan sosok Hyukjae yang begitu mengerti dirinya.

.

.

Siwon membuka pintu kamar Kyunnie, dan ia segera mendapati sosok itu tengah duduk di atas lantai sambil mendekap lulutnya erat dengan bahunya yang tersandar di tepian ranjang.

“Kyunnie..”

Siwon dengan begitu lembut memanggil namanya. Dan seketika itu, Kyunnie langsung mengalihkan mengangkat wajahnya melihat sosok Siwon yang sudah berdiri di sampingnya.

“K-kenapa kau melakukan semua itu?”

Siwon mengerti apa yang Kyunnie maksudkan. Tapi ia hanya diam saja. Karena ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan.

“K-kau.. sudah melakukan hal yang tak berarti..”

Siwon seketika tersentak mendengar ucapan Kyunnie. Hatinya pun perih, tidak menerima jika Kyunnie berpikir seperti itu.

“Itu bukan hal yang tak berarti. Semua itu sangatlah berharga bagiku..”

Kyunnie sangat terkejut mendapati jawaban yang terucap dari bibir Siwon. Dan itu membuatnya sangat marah.

“T-tapi aku.. Selama ini aku berpikir bahwa kau telah melupakanku..! Kau telah mencampakkan dan mengkhianatiku..! A-aku.. sama sekali tak menyangka jika ternyata kau-..!”

Kyunnie tak sanggup melanjutkan ucapannya. Hatinya sangat sakit mengetahui bahwa selama ini Siwon telah begitu menderita. Namun, ia dengan begitu kejamnya menyalahkan Siwon, dan dengan egoisnya berpikir bahwa hanya dia seorang yang terluka, tanpa menyadari bahwa Siwon pun telah terluka.

“A-aku.. tak bisa memaafkan diriku yang telah berpikir seperti itu..”

Kyunnie menarik kedua tangannya, dan menutupi wajahnya yang telah basah oleh air mata.

“M-maafkan aku, Daddy..”

Siwon memandangi Kyunnie dengan penuh kepedihan. Begitu banyak kesalahan yang telah terjadi. Begitu banyak luka yang sudah menggores hati. Siwon dan Kyunnie, keduanya telah sama-sama terluka.

Siwon perlahan mendekati Kyunnie. Dengan lembut ia menarik kedua tangan yang masih menutupi wajahnya. Lalu Siwon menggenggam tangan itu, dan mengamati setiap jari-jari indahnya.

“Dulu, kau belum bisa memotong kukumu sendiri, jadi aku selalu memotongkannya untukmu. Saat itu jemarimu begitu mungil, tapi sekarang.. mereka sudah tumbuh dengan sangat cantiknya.”

Siwon tersenyum, lalu menatap Kyunnie yang masih meneteskan air mata. Lama ia menatap mata sendu itu, sambil terus menggenggam kedua telapak tangan Kyunnie dengan erat. Hingga akhirnya suara lembut terucap dari bibirnya.

“Tak apa jika kau tidak bisa mengingatnya. Karena waktu sudah berlalu. Biarkan yang lalu pergi. Dan sekarang, mari kita mulai semuanya dari awal. Kau dan aku, mari kita mulai kembali semua yang sempat tertunda. Kita akan mewujudkan kembali semua janji-janji kita yang sempat terlupakan.”

Kyunnie semakin tak bisa menghentikan tangisannya. Air matanya ini jatuh begitu saja, bahkan semakin deras mengalir saat mendengar kata-kata yang begitu indah itu dari sosok di hadapannya.

Kyunnie menarik kedua tangan Siwon yang menggenggamnya erat, membawanya mendekat ke wajahnya, lalu mengecup tangan-tangan itu dengan lembut. Sungguh, ia sangat mencintai sosok ini. Ia begitu mencintainya hingga ia sendiri bahkan tak sanggup membendungnya. Hatinya ini masih tak cukup luas untuk menampung rasa cintanya yang begitu besar untuk sosok yang begitu baik hati ini. Bahkan jika ia memiliki dua hati, itu pun masih tak akan cukup. Karena ia begitu mencintainya.

Sekali lagi ia mengatakannya..

 Ia begitu mencintainya.

Tampaknya sang waktu memang tak cukup tangguh untuk menaklukan cinta yang terjalin di antara keduanya.

.

.

.

TBC


Note :

Hiiii my lovely readers ^^ cepet banget kan update-nya~ hehe

makasih ya udah nungguin chapter 14 ini dengan sabar.. saya jg seneng banget ngeliat banyak komen dari temen2 semuanya. semakin lama, semakin banyak yg kasih komen n suka sma ff ini ^^ seneng banget pokoknya dgn semua respon positif yg udah kalian tunjukin buat ff DDC~ jadi makin semangat deh buat terus update 🙂

oh, iya.. banyak banget yg nanya apakah cinta/hubungan diantara Kyunnie n Siwon bakal berubah, n apakah ff ini akan berubah menjadi boys love/yaoi. saya gak bisa banyak komentar tentang itu. Tapi yang pasti, hubungan diantara keduanya akan jauh lebih indah dari semua itu, n jauh lebih tulus dari apa yg bisa kita bayangkan. so, please.. just believe in me~ saya gak bakal mengecewakan pembaca setia saya. I promise ^^

sekali lagi makasih banyak yaa dear. I love you all n take care~ !!!

 

Daddy Don’t Cry – Chapter 13


Daddy Don't Cry - by ikhakyu

“Daddy..”

“Daddy..”

Siwon perlahan membuka matanya.

“Daddy..”

Suara itu.

Siwon segera beranjak dari tidurnya. Kakinya dengan cepat melangkah menuju pintu depan.

“Daddy..”

Siwon berhenti sejenak, menarik nafas dalam, sebelum akhirnya tangannya menarik gagang pintu di hadapannya.

Pintu terbuka lebar.

Dan di ujung jalan setapak, Siwon melihat sosok itu.

Ia berdiri di sana.

Sambil tersenyum, sosok itu berkata pelan.

“Daddy .. aku pulang..”

Siwon seketika melebarkan matanya. Nafasnya terdengar tak beraturan.

‘Lagi-lagi.. hanya mimpi..’

Siwon menghela nafasnya, mencoba menstabilkannya.

Tapi tiba-tiba saja Siwon bangkit dari atas kasur, melangkah keluar kamarnya menuju pintu depan.

Meski ia sadar betul bahwa itu hanyalah mimpi, tapi Siwon tak bisa menghentikan langkahnya. Ia masih berharap, bahwa mungkin saja itu bukanlah mimpi, bahwa mungkin saja sosok itu memang ada di sana.

Perlahan ia membuka pintu.

Dan seketika itu senyum pahit menghiasi wajah Siwon.

Tak ada siapapun di sana. Hanya dedaunan kering yang jatuh tertiup angin musim gugur dan berserakan di atas jalan setapak.

Apa yang sebenarnya ia harapkan?

Apakah ia bahkan masih bisa berharap?

Sepuluh tahun sudah berlalu, apa ia masih bisa mengharapkan bahwa sosok itu akan kembali?

Entahlah.

Tapi setidaknya, dari sekian ribu mimpi yang selalu menghantuinya, suatu saat mimpi itu akan benar terjadi.

Setidaknya dari jutaan kali ia membuka pintu, suatu hari ia benar akan melihat sosok itu berdiri di ujung jalan setapak.

Tidak peduli harus menunggu berapa tahun lagi.

Siwon akan menunggunya.

.

.

“Siwon.. kenapa kau masih saja membawa beruang bodoh itu bersamamu, huh?!”

Hyukjae menggerutu sebal melihat sahabatnya yang tengah duduk di sampingnya sambil mendekap sebuah boneka teddy bear yang sudah tampak kusam dan usang.

Kini keduanya tengah berada di dalam mobil menuju kantor.

Beberapa tahun terakhir, Hyukjae selalu menjemput dan mengantar Siwon. Tidak hanya ke kantor, tapi kemana pun Siwon ingin pergi. Ia sudah seperti sopir pribadi Siwon. Ia sendiri tak tahu alasan kenapa Siwon enggan membawa mobil sendiri atau diantar sopir, ia lebih memilih meminta Hyukjae untuk mengantarnya. Tapi Hyukjae tak sedikit pun merasa keberatan. Karena ia akan melakukan apapun untuk sahabatnya itu.

“Apa kau tahu, boneka itu menyebarkan aroma tak sedap di mobilku. Setidaknya kau membawanya ke laundry.”

Siwon hanya tersenyum mendengar celotehan sahabatnya. Ia sama sekali tak marah, karena ia tahu bahwa Hyukjae tak benar-benar bermaksud mengatakan itu. Ia tahu, bahwa sahabatnya itu hanya mencoba untuk membuatnya belajar melupakan sosok itu. Tapi sepertinya, itu sulit baginya.

“Ngomong-ngomong.. Bagaimana dengan acara kencanmu semalam?”

Hyukjae melirik Siwon yang hanya memandangi jalanan melalui kaca jendela.

“Kurasa ia adalah tipemu.”

Hyukjae memberikan senyuman, tapi Siwon hanya membalasnya dengan ucapan dingin.

“Aku tidak tertarik.”

Seketika terdengar helaan nafas, siapa lagi kalau bukan Hyukjae yang melakukannya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sahabatnya ini.

“Siwon.. wanita seperti apa yang sebenarnya kau inginkan, huh? Wanita yang semalam adalah yang terbaik dari semua yang sudah pernah datang padamu. Dia cantik, pintar, santun, dan dia bahkan pandai memasak. Bagaimana bisa kau menolak wanita sesempurna itu?”

Hyukjae sudah sangat sebal dengan sikap Siwon yang selalu saja menolak wanita. Mungkin ini adalah wanita ke seribu yang sudah ia tolak mentah-mentah. Dan ia sudah cukup lelah menjadi ‘mak comblang’.

“Siwon.. usiamu sudah memasuki 35.. Apa kau ingin terus menjadi perjaka seumur hidupmu?”

Siwon pun hanya terkekeh mendengar ucapan sahabat setianya itu. Benar, Hyukjae sangat setia padanya. Ia selalu berada di sisinya, baik saat senang maupun susah. Dan selama 10 tahun ini pun, saat dimana Siwon seakan terpuruk akan kenyataan yang dihadapinya, Hyukjae tetap setia di sampingnya. Ia bahkan membantu Siwon untuk tetap bertahan menjalani hidupnya tanpa sosok itu.

“Hey.. bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau bahkan tak punya satu pun kekasih.”

Hyukjae seketika membulatkan matanya.

“A-apa..?! A-aku-.. Aku hanya-..”

Ia tak bisa melanjutkan kalimatnya, karena ia sendiri menyetujui apa yang baru saja Siwon katakan. Hingga saat ini pun, ia kesulitan dalam menjalani hubungan dengan wanita. Kalau tidak ditolak, pasti dipermainkan. Sepertinya ia memang tak beruntung dalam urusan percintaan.

“Apa kau ditipu oleh wanita lagi?”

Siwon menatap Hyukjae yang tak mengalihkan pandangannya pada jalan di hadapannya. Tapi, ia hanya diam, karena ia tahu bahwa tanpa ia harus menjawab pertanyaannya pun, Siwon sudah mengetahui jawabannya.

“Maka dari itu aku tidak menyukai mereka. Wanita-wanita itu hanya menginginkan harta dan kekuasaan.”

Hyukjae hanya terdiam. Untuk sesaat situasi menjadi hening, keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing hingga akhirnya Hyukjae kembali bersuara.

“Tapi kau adalah penerus tunggal Perusahaan Choi Family Group. Kau harus segera menikah dan memiliki keturunan.”

Siwon yang sejak tadi memandangi langit, hanya diam mendengarkan perkataan Hyukjae.

“Dan lagi.. Ayahmu.. beliau pasti sudah sangat ingin menimang seorang cucu.”

Seketika itu Siwon tersentak. Benar apa yang diucapkan Hyukjae. Ayahnya sudah tidak muda lagi, dan mungkin tak punya banyak waktu lagi untuk menghabiskan waktu bersama seorang cucu. Tapi, apakah ia harus melakukan semua itu saat ini? Bisakah ia menundanya sebentar lagi?

Namun, tiba-tiba hati Siwon terasa perih. Apa yang sebenarnya ia nantikan? Apa yang sebenarnya ia harapkan hingga ia harus menunda semua itu?

“Kita berhenti sebentar di sana.”

Tiba-tiba Siwon menyuruh Hyukjae untuk menepikan mobilnya tak jauh dari sebuah gerbang sekolah yang sudah sangat tak asing lagi bagi Siwon.

“Tapi kita sudah terlambat, Siwon..”

Hyukjae menolak permintaan Siwon, mencoba memberi pengertian bahwa setidaknya hari ini saja mereka tak bisa melakukan ini.

“Hanya lima menit.”

Hyukjae pun tak bisa membantah lagi. Ia tak pernah bisa berbuat apa-apa lagi jika Siwon sudah meminta seperti itu. Tanpa protes lagi, Hyukjae segera menghentikan mobilnya. Ia pun kini mengalihkan matanya pada Siwon yang tak berhenti memandangi anak-anak kecil berseragam yang berlalu lalang masuk ke dalam gerbang sekolah. Dan Hyukjae bisa melihat dengan jelas sebuah kesedihan di dalam kedua bola mata Siwon.

Hyukjae sudah paham betul, ia sudah sangat mengenal Siwon. Ia mengerti bahwa hingga saat ini pun Siwon masih belum bisa melupakan sosok itu. Untuk itu hampir setiap pagi, saat melewati jalan ini, Siwon akan selalu memintanya untuk menghentikan mobilnya. Awalnya Hyukjae melarang keras perbuatan Siwon ini, tapi ia menyadari bahwa mungkin dengan ini Siwon bisa sedikit mengobati kerinduannya pada sosok itu.

Hyukjae melirik ke lengan Siwon yang tak hentinya mendekap sebuah teddy bear yang sudah tampak tua. Ia pun hanya bisa tersenyum getir saat mengingat bagaimana dulu sosok itu selalu membawa boneka itu bersamanya. Hyukjae tidak bisa menyangkalnya, bahwa sebenarnya ia sangat merindukan sosok itu.

Hyukjae pun sangat paham bahwa Siwon sangat mencintai sosok itu, tapi yang ia masih tak bisa memahaminya, mengapa sepuluh tahun yang lalu Siwon membiarkan sosok itu pergi? Mengapa ia tak menahannya? Atau jika ia memang merindukan anak itu, kenapa Siwon tak menemuinya? Bukankah sangat mudah bagi Siwon untuk terbang ke Hongkong? Tapi mengapa Siwon tak melakukannya, melainkan hanya menahan rasa rindu yang telah membuatnya menderita seperti ini? Hyukjae tak bisa mengerti.

Tapi, meski ia sangat ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu pada Siwon, ia tetap tak bisa mengatakannya. Karena ia percaya bahwa semua itu pasti ada alasannya.

.

.

Langit tampak biru cerah, dihiasi awan putih yang berarak pelan. Meski hanya diam, tapi langit terlihat bahagia, tidak seperti dirinya yang kini hanya duduk termangu menatap kosong pada langit yang bahagia.

Siwon menyandarkan kepalanya pada kursi kerjanya. Sesekali ia memejamkan matanya, lalu membukanya kembali. Dan sesekali ia menghirup nafas dalam, kemudian menghembuskannya lagi. Tapi tetap saja dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya yang tak bisa lenyap hingga membuat ia tak tenang dan sulit bernafas.

Mata kelam Siwon tak berhenti memandangi langit dari balik jendela ruang kerjanya. Langit seolah menghipnotisnya, membawanya masuk ke alam bawah sadar, menenggelamkannya dalam berbagai memori yang tersimpan jauh di dalam.

“Daddy.. Seandainya Daddy bisa berubah menjadi apapun, Daddy ingin menjadi apa?”

“Umm.. Daddy ingin menjadi.. langit..”

“Langit? Kenapa?”

“Karena.. umm.. Karena langit berwarna biru. Kyunnie sangat manis jika mengenakan warna biru.”

Siwon tertawa kecil saat teringat bagaimana pada waktu itu sosok itu mengerucutkan bibirnya tatkala mendapati jawabannya.

Tapi kemudian, Siwon terdiam.

‘Langit?’

‘Kenapa langit?’

‘Karena aku akan selalu mengikutimu kemana pun kau pergi?’

Sebuah senyum pahit seketika terukir di bibir Siwon.

‘Pembual.’

‘Itu hanyalah bualan.’

Hatinya terasa perih. Perih sekali, hingga Siwon pun harus menekan dadanya, mencoba mengurangi rasa sakit yang dirasakannya. Meski itu hanyalah sia-sia. Karena pada kenyataannya ia memang seorang pembual. Ia telah mengingkari janjinya sendiri. Maka sangat wajar jika sosok itu mungkin membencinya, jika saat ini sosok itu mungkin telah melupakannya.

Karena Siwon telah mengkhianatinya.

“Siwon..”

“Siwon..!”

Seketika Siwon tersentak, tersadar dari lamunannya. Ternyata Hyukjae telah berdiri tepat di depan mejanya.

“Ah-.. maaf.. Ada apa?”

Siwon tidak tahu sudah berapa lama sahabatnya itu berada di sana, atau sudah berapa kali ia mungkin sudah memanggil namanya. Tapi sepertinya Hyukjae sudah memaklumi hal itu. Ia sudah sangat paham bahwa saat ini Siwon masih mengalami hal yang sulit.

“Ada laporan yang harus kau tandatangani.”

Hyukjae menyerahkan sebuah map di atas meja kerja bosnya. Tanpa bicara atau bertanya lagi, Siwon pun segera menandatangani berkas tersebut.

“Apa ini yang terakhir? Apa masih ada yang harus kulakukan lagi?”

Siwon menatap Hyukjae yang telah mengambil berkasnya kembali.

“Tidak.. ini yang terakhir.”

Hyukjae membalas tatapan Siwon. Meski sebenarnya ia pun tak begitu mengerti mengapa Siwon bertanya seperti itu.

“Kalau begitu, temani aku. Aku ingin pergi ke suatu tempat.”

.

.

Siwon kini tengah asyik melihat berbagai koleksi sepatu di hadapannya. Sementara Hyukjae hanya bisa berdiri diam di belakangnya.

Mereka kini tengah berada di sebuah toko sepatu di salah satu mall di Seoul. Siwon mengatakan pada Hyukjae bahwa ia ingin membeli sepatu. Tapi bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seseorang. Dan Hyukjae sudah tahu betul siapa orang itu.

“Apa kau pikir ini akan cocok untuknya?”

Siwon yang telah mengambil salah satu sepatu di tangannya bertanya pada Hyukjae. Tapi Hyukjae hanya diam saja. Bukannya ia mengacuhkan Siwon, tapi ia hanya tak tahu harus menjawab apa.

“Ayah.. aku ingin sepatu yang ini~..”

Siwon seketika mengalihkan pandangannya pada seorang anak remaja yang tengah merengek pada Ayahnya.

“Tapi, ini mahal sekali..! coba kau lihat harganya.. bisa-bisa kita tidak bisa makan satu minggu jika kau membeli sepatu ini..”

Sang Ayah mencoba menolak. Tapi sepertinya sang anak tak akan menyerah. Ia terus saja merengek. Melihat anaknya yang begitu menginginkan sepatu itu pun membuat sang Ayah tak tega untuk menolak permintaannya.

“Baiklah.. baiklah.. Ayah akan membelikannya untukmu. Tapi kau harus berjanji untuk lebih giat lagi belajar, mengerti?”

Sang anak pun mengangguk keras sambil tersenyum lebar. Karena begitu senangnya ia pun memeluk sang Ayah.

“Terima kasih, Ayah…!”

Siwon hanya terdiam melihat pemandangan yang tengah tersaji di hadapannya.

‘Ah..dia juga pasti sudah sebesar anak itu sekarang..’

“Permisi, apa Tuan akan membeli yang itu?”

Tiba-tiba suara seorang pelayan toko menyadarkan Siwon.

“Ah-.. ya.. aku akan membeli yang ini..”

Siwon kemudian menyerahkan sepatu yang ada di tangannya pada wanita tersebut.

“Berapa ukurannya Tuan?”

Siwon kebingungan saat ditanya mengenai ukuran sepatu yang akan dibelinya.

“A-aku.. Aku tidak tahu.. tapi sepertinya ukurannya sama dengan anak itu..”

Siwon menunjuk ke arah anak lelaki yang tadi merengek pada ayahnya untuk dibelikan sepatu.

“Baiklah, Tuan silahkan menunggu di sini. Saya akan mencarikan yang pas dengan ukurannya.”

Wanita itu tersenyum, sebelum akhirnya pergi.

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini?”

Tiba-tiba Hyukjae membuka suara.

“Sudah berapa banyak pakaian dan sepatu yang telah kau beli untuknya? Kau selalu membeli semua barang yang kau pikir akan cocok untuknya, tapi kau bahkan tak tahu berapa ukurannya.”

Siwon hanya diam mendengarkan ucapan Hyukjae.

“Apa yang sebenarnya kau harapkan, Siwon?”

Hyukjae menatap Siwon lekat, mencoba untuk meminta penjelasan atas semua tindakan tak masuk akal ini.

Untuk sesaat, Siwon masih diam. Tapi kemudian ia pun menatap Hyukjae lekat sambil menjawab dengan yakin.

“Aku hanya tak ingin, jika ia kembali, ia tak punya pakaian untuk dikenakan..”

Hyukjae hanya bisa terdiam. Choi Siwon, sahabatnya ini, tak peduli berapa lama waktu yang telah berlalu, ia tak pernah bisa melupakan sosok itu.

“Setelah ini, antarkan aku ke pantai. Aku ingin melihat laut.”

.

.

Siwon bersama Hyukjae kini telah berada di pantai. Pemandangannya sangat indah. Laut yang biru dengan ombak yang berayun dengan tenang di atasnya. Pasir putih yang tersebar di sepanjang pantai. Dan warna kuning keemasan yang menghiasi langit senja. Sangat indah.

Siwon berdiri diam. Matanya memandang jauh ke laut yang tiada berujung. Menikmati setiap gerakan pelan sang mentari yang akan terbenam.

“Siwon..!”

“Lihat..! Aku menemukan bayi kura-kura!”

Siwon menolehkan kepalanya pada sosok Hyukjae yang berteriak kegirangan dengan seekor kura-kura mungil di genggamannya. Dan seketika itu juga, sebuah memori terlintas dalam kepalanya.

“Kyunnie..!

“Kyunnie..!”

“Lihat..! Daddy menemukan seekor bayi kura-kura..!”

“Dia imut sekali kan?!”

“Ini untuk Kyunnie. Kyunnie bisa membawanya pulang..”

“Kenapa? Kenapa Kyunnie hanya diam saja? Apa Kyunnie tidak menyukainya?”

“Bukan.. Kyunnie bukannya tidak suka. Hanya saja, haruskan Kyunnie membawanya pulang?”

“Apa Kyunnie tidak mau? Bukankah kita bisa merawatnya bersama? Pasti akan sangat menyenangkan..”

“Tapi Daddy.. kasihan sekali kura-kura ini jika harus terpisah dengan keluarganya..”

“Mungkin saja ibu dan ayahnya tengah menanti kepulangannya..”

“Dia pasti sangat sedih..”

“Bisakah kita melepaskannya, Daddy?”

“Hmm.. Baiklah.. kita bebaskan dia..”

“Kau dengar kan kura-kura mungil? Kami akan melepaskanmu.. Jadi jangan sedih lagi.. sebentar lagi kau akan segera bertemu dengan keluargamu..”

“Siwon..?!”

“Siwon..?!”

Seketika itu, Siwon tersadar. Sosok Hyukjae telah berdiri di hadapannya masih dengan menggengam bayi kura-kura.

“Apa kau baik-baik saja?”

Hyukjae menatap Siwon yang masih terdiam dengan penuh khawatir. Dan ia pun sangat terkejut ketika tiba-tiba saja air mata mengalir dari kedua mata Siwon.

“A-aku.. merindukannya..”

“Aku..sangat merindukannya..”

Siwon jatuh terduduk di atas pasir. Lututnya terasa lemas. Hatinya sangat sakit hingga ia tak bisa bernafas. Dan air mata tak berhenti mengalir membasahi pipinya.

“Kyunnie..”

“Kembalilah, Kyunnie..”

Siwon merintih pedih. Tapi rintihannya tenggelam dalam suara ombak yang menyapu pasir.

Air matanya pun semakin deras mengalir seiring semakin melenyapnya warna kuning emas pada langit senja.

.

.

“Daddy..”

“Daddy..”

Siwon seketika membuka matanya.

“Daddy..”

Lagi-lagi suara itu. Apa ini hanyalah mimpi?

“Daddy..”

Tidak, ini bukan mimpi. Suara itu benar-benar ada. Ia mendengarnya dengan jelas. Suara itu memanggilnya.

“Daddy..”

Siwon pun segera bangkit dari tidurnya. Kakinya berlari dengan cepat menuruni tangga menuju pintu depan.

“Daddy..”

Suara itu pun semakin jelas terdengar.

“Daddy..”

Siwon membuka pintu. Dan…

Tidak ada siapapun di sana.

‘ternyata ini pun hanya mimpi..’

Siwon membalikkan badannya, membawa rasa kecewa bersamanya. Tapi, tiba-tiba saja..

“Daddy..”

Siwon pun seketika berbalik. Dan di sana.. ia melihat sosok itu di sana.

Ia tengah berdiri di ujung jalan setapak. Sambil tersenyum, ia berkata pelan.

“Daddy.. aku pulang..”

.

.

TBC


Note :

hii semuanya ^^ maaaaaf banget, saya kelupaan update di sini~ sekali lagi maaf banget!! Jangan marah ya dear~ 🙂

utk chap 14, saya bakal update secepatnya deh.. janji ^^

thankyu n take care~